Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Tidak Terduga



Raisa bergegas mengejar Reno, akan tetapi saat ia akan naik motornya, pedagang kaki es kelapa tempatnya beristirahat mengejarnya.


"Eh Mba, bayar dulu!" tegurnya lantang sambil mencengkram lengannya.


"Duh si bapak ini!" Raisa bergegas mengambil uang sepuluh ribu memberikannya kepada pedagang tersebut.


Gadis itu tidak menunggu kembalian langsung mengejar Reno yang sudah menghilang dari pandangannya.


Raisa kesal karena kehilangan Reno, padahal tadi hampir saja bisa mengejarnya. Ia berputar-putar mencari Reno, akan tetapi hasilnya nihil, pria yang merupakan Kakaknya itu tidak terlihat sama sekali.


Akhirnya Raisa lebih memilih menunggu di jalan tempat ia melihat Reno barusan, ia berharap bisa melihatnya lagi saat nanti pria itu pulang.


...***...


Sementara itu Reno dan Elisa sedang asyik berbelanja keperluan anak pertama mereka, keduanya tampak bersemangat membeli ini itu banyak sekali.


"Sayang, apa segini sudah cukup yah?" tanya Elisa melihat keranjang belanjaan yang sudah penuh dengan keperluan bayi.


"Kalau kamu tanya ke aku, lantas aku harus tanya ke siapa?" Reno balik bertanya.


Elisa menggembungkan pipinya. "Kamu ini yah, bilang sudah cukup kek, apa kek ..." ucapnya kesal.


"Hehehe ... jangan marah, aku kan memang tidak tahu," ucap pria itu sambil mencubit hidung istrinya dengan gemas.


Elisa kembali tersenyum, mereka berdua mengakhiri belanja kebutuhan anaknya nanti, membayarnya di kasir lalu pulang ke rumah.


Terlihat wajah Elisa sangat senang, ia menantikan kelahiran buah hatinya penuh dengan harapan.


Saat keduanya pulang ke rumah, mereka lewat jalan yang berbeda, karena Elisa mau jalan-jalan dengan Reno menggunakan motor terlebih dahulu.


Hal tersebut tentu membuat Raisa gagal untuk bertemu dengan Reno kembali, gadis itu terpaksa pulang dengan hampa.


...***...


Beberapa bulan berlalu, Raisa tidak kunjung bertemu dengan Reno, gadis itu sampai sudah lelah untuk mencarinya lagi.


Kondisi Ratih sudah semakin buruk, wanita paruh baya itu sekarang di rawat di rumah sakit, mengingat kondisinya yang sudah semakin parah.


"Bu, makan terus minum obat yah," ucap Raisa lembut.


"Bu, kalau Ibu tidak sembuh, kita tidak bisa mencari Kak Reno bersama," ucap Raisa lagi dengan lembut.


"Biarlah Nak, Ibu sudah pasrah," jawabnya dengan suara lemah.


Ratih sudah pasrah dengan kondisinya, jikapun ia tidak bisa bertemu dengan Reno, ia sudah mengikhlaskan hal tersebut, mungkin itu sudah menjadi takdir untuknya tidak bisa di maafkan anak pertamanya tersebut.


Raisa akan buka suara lagi, akan tetapi tiba-tiba napas Ratih tersengal-sengal, tentu saja gadis itu terkejut.


"Bu, Ibu kenapa? Dokter, Suster!" teriak Raisa keras.


Raisa bergegas mencari dokter meninggalkan sang Ibunya yang sedang kritis tersebut, gadis itu berlari sambil menangis.


Raisa bertemu dokter di jalan, ia langsung memberitahu kondisi Ibunya kepada sang Dokter, bersamaan dengan itu Reno dan keluarga Elisa sedang membawa Elisa yang tampak akan melahirkan.


"Sabar yah sayang," ucap Reno lembut.


"Sakit sayang," jawab Elisa sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan mulas di perutnya yang sudah membuncit besar.


"Iya aku tahu pasti sakit, tahan demi anak kita," ucapnya sambil terus menggenggam tangan sang Istri.


Elisa menganggukkan kepalanya. Reno dan kedua orang tua Elisa mendorong emergency stretcher dengan hati-hati.


Raisa melihat Reno, gadis itu langsung menghampirinya. "Kak Reno!" tegurnya sambil mengikuti Reno dan keluarga Elisa.


Raisa melihat wanita yang ada sedang rebahan di emergency stretcher, tampak perutnya besar, ia menutup mulutnya tidak percaya ternyata kakak sudah menikah dan Istrinya akan melahirkan.


"Kenapa kamu ada di sini Raisa?" tanya Reno masih sambil mendorong istrinya.


Raisa menggelengkan kepalanya, ia tidak mau memberitahu kabar buruk tentang Ibunya, karena ia tahu Istri Kakaknya itu akan melahirkan.


Herman dan Sulastri saling memandang, mereka menatap Raisa yang terus mengikuti Reno, keduanya bertanya-tanya dalam hati siapa gadis tersebut.


Reno dan Elisa masuk kedalam ruang persalinan bersama dokter pribadi keluarga Sanjaya dan Suster, sementara kedua orang tua Elisa menunggu di luar.


Raisa tertegun di sana, bersamaan dengan itu ia teringat dengan Ibunya. "Ibu!" serunya sambil berlari ke ruangan Ibunya.