
Reno dan Elisa jelas saja terkejut melihat energi spiritual dalam portal Gaib sedikit bergetar, mereka berdua reflek menoleh ke arah Soleh yang tampak biasa saja.
"Pak, apa yang anda lemparkan?" tanya Reno langsung.
Soleh menyeringai, ia mendekat ke arah telinga Reno lalu berbisik. "Bulu-bulu sakral mas, itu sangat ampuh buat ngusir setan."
Rendi tercengang, ia menoleh ke arah Elisa sambil tersenyum getir, padahal mereka bersusah payah menyegel portal gaib, tapi Soleh dengan entengnya hanya menggunakan bulu-bulu sakral sudah membuat energi spiritual portal gaib melemah.
"Kenapa sayang, apa ada cara lain?" tanya Elisa penasaran.
Reno menganggukkan kepalanya dengan tidak berdaya.
"Katakan padaku, apa itu?" tanya Elisa penasaran.
Reno menunjuk celananya, Elisa mengernyitkan dahi, karena ia tidak tahu maksud suaminya tersebut.
"Apa katakan," tegur Elisa mulai tidak sabar.
Rendi menghela napas. "Bulu keramat," jawabnya sambil nyengir kuda.
"Eh...." reflek Elisa langsung memegang celananya.
"Tuan cepat! Kita tidak punya waktu lagi!" seru Wowo.
Reno menatap istrinya dengan tidak berdaya, Elisa tersenyum simpul. "Tidak apa, nanti di rumah aku rapikan, biar kita sama-sama rapi."
Elisa mengusap punggung suaminya, sambil tangannya tangannya menelusup masuk kedalam celana Reno.
Elisa tersenyum. "Kamu siap yah."
Reno mengangguk sambil memejamkan matanya. Pria itu menggertakkan gigi, karena pasti rasanya sangat sakit.
Brabat
"Awww!" pekik Reno kesakitan sambil tangannya reflek memegang celananya.
Elisa tersenyum simpul, ia melakukan itu karena tahu kalau hutan suaminya sangat lebat.
Benar saja ketika tangan Elisa di angkat, ia mendapatkan banyak buku Rendi, wanita itu tersenyum getir.
Reno masih meringis kesakitan, pasalnya Elisa benar-benar menjambak terlalu banyak, tapi berkat itu juga Reno yang tadinya lemas langsung bugar kembali.
"Kamu keterlaluan Mba Kunti," rengek Rendi seperti anak kecil.
"Idih sifat lama kamu muncul itu," celetuk Elisa sambil terkikik geli.
Mereka berdua yang tadinya sedih, kini sudah bercanda kembali. Elisa memberikan bulu-bulu keramat itu ke genggaman tangan suaminya.
"Sudah cepat segel portal itu," ucap Elisa lembut.
Reno menganggukkan kepalanya, dengan jalannya yang mengangkang pria tersebut mengambil jarum-jarum senjatanya lalu mengikatnya dengan bulu keramat, baru setelah itu ia melemparkan jarum tersebut.
Swuzz
Jarum-jarum tersebut menancap di sekitaran portal gaib, baru saja menancap portal gaib sudah melemah.
Reno kemudian merapal mantra sambil mengeluarkan benang-benang energi spiritualnya.
Benang-benang energi spiritual dibuat membentuk pola oktagram, seketika segel tersebut terus melemah.
Jin pemakan Jiwa merasakan hal tersebut. "Tidak mungkin!"
sosok itu akan melesat melepaskan jarum-jarum yang menancap di sekitar pola gaib. Namun, Ifrit tidak membiarkannya, ia membuat bola api besar lalu membakar jin pemakan Jiwa.
Blarr
Argh!
Ifrit terus menembakan bola apinya, sosok itu menggunakan kesempatan tersebut untuk melenyapkan jin pemakan Jiwa.
"Lenyap Lah kau bedebah!" seru Ifrit sambil terus membakarnya.
Sementara itu Reno terus merapal mantra dan mengalirkan energi spiritual, terlihat Reno kelelahan energi spiritualnya sudah terkuras banyak sekali.
Elisa mendekat, ia menyalurkan energi spiritualnya ke Reno, mereka berdua menyegel portal Gaib secepat mungkin.
Swuzz
Energi spiritual hitam yang tadinya melesat keluar dari portal Gaib, kini bergerak masuk seperti lubang angin yang menariknya.
Swuz
Swuz
Terlihat begitu banyak roh yang tersedot masuk meraung-raung seolah tidak ingin dibawa masuk kembali, akan tetapi portal gaib terus menariknya.
Argh!
Jin pemakan Jiwa juga mulai melemah, kemudian ia lenyap, jiwa yang telah ia sebar seketika langsung menyebar ke pemiliknya masing-masing.
Swuz
Slap
Seketika langit yang tadinya gelap kembali cerah, portal Gaib berhasil di segel Reno dan Elisa.
Wowo dan Giaju yang sudah mencapai batasnya, mereka bergegas masuk kedalam tempat bersemayamnya untuk beristirahat, begitu juga dengan Ifrit.
"Syukurlah semua telah berakhi...." Reno ambruk, ia jatuh pingsan diperlukan Istrinya.
"Reno...!" teriak Elisa.
Herman dan Soleh yang sedari tadi hanya menonton, mereka langsung bergegas menghampiri keduanya.
Semua orang yang jiwanya sempat di serap Jin pemakan Jiwa kebingungan ketika mereka berkumpul di gedung tempat portal gaib dibuka.
Mereka semua tentu langsung kembali beraktivitas masing-masing walaupun masih dalam keadaan bingung.
Sementara Reno segera dibawa pulang Herman dan Soleh. Elisa bertugas membawa barang-barang suaminya.
...***...
Ke esokan harinya....
Reno terbangun saat sang Istri sedang mengelapnya dengan air hangat, pria itu tampak masih terlihat lemah dan wajahnya sedikit pucat.
"Elisa...." panggil Reno dengan suara parau.
"Sayang, akhirnya kamu bangun juga," Elisa langsung mendekat ke arah wajah Reno dan duduk di sampingnya.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya pria itu lemah.
Elisa tersenyum. "Dua hari kamu pingsan, aku khawatir kamu akan meninggalkan aku," ucap wanita itu sedih.
"Maaf, sudah membuat kamu khawatir." Reno mengangkat tangannya untuk meraih pipi Elisa, wanita itu menggenggam tangan Reno dengan lembut.
Terlihat semburat rasa bahagia di wajah Elisa melihat suaminya sudah siuman, ia kemudian teringat kalau suaminya belum makan.
"Aku masak bubur dulu yah, kamu tunggu sebentar," ucap wanita itu lembut.
Reno menganggukkan kepalanya. Elisa tersenyum lalu meninggalkan Reno sendirian didalam kamar.
Pria itu menatap langit-langit mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Terdengar helaan napas darinya.
"Akhirnya anda siuman juga tuan," terdengar suara Wowo menginterupsi.
Reno sedikit kaget, ia menghela napas lalu menoleh. "Kau bikin kaget saja, Wowo."
"Hehehe... maaf tuan," Wowo mendekat ke arah Reno.
"Tuan, ada kemarin ada wanita mencurigakan didepan rumah," lanjut Wowo berbicara.
Reno mengernyitkan dahi. "Jangan bilang dia juga mengincar Elisa?"
Wowo menggelengkan kepalanya. "Sepertinya tidak tuan, dia tidak memiliki energi spiritual besar dan dia lebih kaya maling dibandingkan mengincar Nyonya Elisa," jawabnya yakin.
"Maling Wanita?" tanya Reno bingung.
Wowo menganggukkan kepalanya, membuat tuannya itu semakin kebingungan, pasalnya mana ada maling yang tidak menggunakan penutup wajah.
Reno berpikir keras mencaritahu siapa wanita tersebut, tapi bukannya mendapatkan petunjuk kepalanya malah terasa pusing.
"Nanti saja kita bahas ini lagi, kepala ku pusing banget," ucap Reno sambil memegangi kepalanya.
Wowo mengangguk mengerti, ia tidak membahas masalah itu lagi.
Beberapa saat kemudian Elisa datang dengan membawa semangkuk bubur untuk suaminya itu.
Wanita itu tampak sangat telaten merawat Reno, kasih sayangnya benar-benar ia tumpahkan untuk sang Suami yang sedang tidak berdaya tersebut.
Wowo yang tidak ingin mengganggu kemesraan keduanya, ia pergi menghilang dari sana untuk melihat wilayah sekitar rumah tuannya.
Jin dengan tubuh hitam legam itu melihat wanita yang diceritakannya kepada Reno lagi, kali ini sosok tersebut mengintai dengan serius mau apa sebenarnya wanita tersebut.