Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Kebenaran Ibu Meysia?



Kedua wanita itu masuk ke kontrakan Reno, mereka berdua hanya bisa terdiam tanpa berbicara sepatah katapun.


Reno yang melihat kecanggungan tersebut tersenyum tipis, ia tidak menyangka jika akhirnya akan jadi seperti itu.


Pria itu membersihkan makanan yang terjatuh dari rantang Elisa. "Kau, bisa pergi dulu dari sini?!" hardik Reno kepada hantu yang sedari tadi ada di sana.


"Kamu mengusirku Ren?" tanya Meysia sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Bu-Bukan, tapi dia!" Reno menunjuk sudut kontrakannya.


Meysia kebingungan karena tidak melihat apa pun di sana, tapi Elisa yang melihatnya kini tahu kalau perkataan Reno ternyata benar kalau Meysia ketakutan karena ada sosok tersebut.


"Ren, kenapa kamu tidak memurnikannya?" tanya Elisa penasaran.


"Ceritanya panjang, nanti kita bicarakan ini, suruh saja dia pergi dulu," ucap Reno yang masih membereskan makanan yang berserakan di lantai.


Elisa menatap hantu wanita itu dengan tajam, seketika si hantu ketakutan dan langsung pergi dari sana karena takut di murnikan oleh Elisa.


Reno membuang makanan yang sudah kotor itu ketempat sampah, baru ia kembali lagi ke kontrakan, terlihat Elisa dan Meysia masih saling berdiam diri.


Reno duduk di antara mereka berdua. "Mau sampai kapan kalian mau diam-diaman seperti ini?" tanya Reno tidak berdaya.


Meysia dan Elisa saling menatap, mereka berdua kemudian membuang muka satu sama lain, seperti anak kecil yang sedang bertengkar.


Reno menghela napas tidak berdaya, ia juga tidak tahu bagaimana caranya membuat kedua wanita itu agar berbaikan kembali.


"Mey, kamu tahu tidak kalau di sini pernah terjadi pembunuhan?" tanya Reno membuka percakapan.


Meysia menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak tahu sama sekali masalah itu."


"Masalah hantu yang ada di sini sebenarnya bukan cuma orang yang bunuh diri dikamar sebelah saja, melainkan ada seseorang yang dibunuh puluhan tahun yang lalu dan jasadnya masih belum di temukan.


"Mba Kun... eh Elisa, hantu yang kamu lihat itu yang sedang mencari jasadnya, dia memohon padaku untuk membantunya, karena itulah aku tidak memurnikannya," ungkap Reno jujur.


"Kamu serius Ren?" tanya Elisa.


Reno menganggukkan kepalanya mantap.


Meysia tiba-tiba teringat dengan cerita orang-orang kalau jasad Ibunya belum pernah ditemukan sampai sekarang. Ia tidak tahu sama sekali siapa Ibunya karena semenjak kecil dirinya sudah di tinggalkan Ibunya yang entah kemana.


Menurut cerita semua orang Ibunya sudah meninggal, tapi yang membuatnya bingung sampai sekarang ia tidak pernah melihat sama sekali dimana makam Ibunya.


"Mey, kamu tidak apa-apa?" tegur Reno ketika melihat Meysia yang tiba-tiba diam.


Meysia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa, hanya saja cerita kamu seperti mirip dengan hilangnya Ibuku," ucapnya sedih.


Reno dan Elisa terkejut, mereka berdua saling menatap satu sama lain. Walaupun Elisa masih saudara dengan Meysia tapi ia tidak tahu menahu mengenai hilangnya Ibu Meysia.


Mereka berdua menatap Meysia yang tampak sangat sedih, mungkin karena mengingat Ibunya yang selama ini tidak ada kabar sama sekali.


Reno kemudian teringat ketika hantu tersebut menyebut Meysia anaknya, pria itu sontak saja langsung mengerti maksud dari Meysia.


"Mey, apa kamu percaya jika hantu yang kamu lihat itu Ibu kamu?" tanyanya langsung.


"Ren, apa maksudmu? Jangan berpikir terlalu jauh," tegur Elisa.


Reno menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku yakin pernah mendengar kalau dia menyebut Meysia itu anaknya," jawabnya yakin.


"Kamu yakin Ren?!" tanya Meysia memastikan.


Meysia dan Elisa mengangguk mengerti, mereka bertiga kemudian beranjak dari duduknya masing-masing keluar dari kontrakan Reno mencari hantu wanita yang memintanya pertolongan kepada Reno.


Ketegangan masalah salah paham tadi seketika langsung menghilang, kedua wanita itu tampak sudah akrab kembali.


Mereka mencari di sekitar kontrakan tapi tidak kunjung menemukannya, padahal bisanya hantu tersebut berkeliaran disekitar Reno setiap hari.


"Kemana tu Hantu, kalau diperlukan gak nongol juga!" gerutu Reno kesal sambil bersender digerbang kontrakan, karena lelah mencari kemanapun tidak menemukan hantu itu juga.


"Biasanya kamu melihat dimana saja?" tanya Elisa memastikan.


"Di kontrakan ku, dimana lagi?"


Elisa menghela napas, ia juga tidak melihat hantu tersebut sama sekali. Namun, di saat Reno sedang menyapu pandangannya, ia melihat pohon mangga di belakang rumah Meysia yang hanya terlihat daunnya saja, karena tertutupi dinding pembatas kontrakan Pria dan wanita.


"Mey, dibelakang rumahmu, kita coba kesana," ajak Reno.


"Tapi di sana hanya ada pohon mangga besar saja, masa iya di sana?" ungkap Meysia.


"Astaga, ayo kita kesana Mey!" ajak Elisa langsung.


Meysia bingung dengan pemikiran dua orang tersebut, akan tetapi ia tetap menurut dengan keduanya mengajak ke belakang rumahnya.


Benar saja di sanalah hantu wanita itu berada sedang duduk di salah satu ranting pohon mangga.


"Ternyata benar kau di sini!" tegur Reno kepada si Hantu.


"Eh... kalian mencari ku?" tanyanya pongah.


"Cepat turun sini!" perintah Reno tegas.


Hantu itu menganggukkan kepalanya dan turun ke bawah, ia menatap Meysia dengan penuh kerinduan.


Sementara Meysia yang tidak bisa melihat sosok tersebut hanya merasakan ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan intens.


"Apa benar dia anakmu?" tanya Reno tanpa basa-basi.


Hantu itu menganggukkan kepalanya. "Benar, dia anakku."


Elisa menatap tidak percaya hantu itu yang ternyata adalah kerabatnya, ia menitihkan air mata karena wanita itu yakin kalau sosok tersebut sudah sangat kesepian tinggal di sana seorang diri, mengingat dirinya juga pernah mengalami hal yang sama ketika menjadi roh penasaran.


Reno menatap ke bawah pohon mangga tersebut, menggunakan indra ke enamnya, ia dapat melihat kalau di bawah pohon ada energi spiritual yang mirip dengan sosok hantu tersebut.


"Apa kamu selalu tinggal di sini sejak awal?" tanya Reno memastikan.


"Mau bagaimanapun lagi, hanya tempat ini yang terasa nyaman, aku mencoba tinggal dikamar anakku saja tidak nyaman sama sekali," ungkapnya tidak berdaya.


Reno menatap Elisa, mereka berdua saling mengangguk, karena keduanya sangat yakin kalau jasad hantu wanita itu ada di bawah pohon mangga tersebut.


Meysia yang tidak dapat melihat hantu tersebut hanya bisa tertegun di sana sambil mendengarkan Reno berbicara, padahal ia juga ingin melihat bagaimana wajah Ibunya yang selama ini tidak pernah di lihatnya.


"Mey, kemungkinan besar jasad Ibumu ada di bawah pohon ini, entah masih utuh atau tidak, mungkin sudah menjadi tulang belulang, mengingat kamu bilang kalau Ibumu sudah menghilang puluhan tahun yang lalu," ucapnya mengingatkan.


"Aku tidak perduli bagaimana kondisinya Ren, asalkan aku bisa memakamkannya dengan layak, itu sudah cukup buatku," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.


Elisa langsung memeluk saudarinya itu, ia bisa merasakan kesedihan yang Meysia alami. Hantu wanita juga merasa sedih melihat anaknya begitu merindukan dirinya, semenjak kecil ia tidak pernah merawatnya sama sekali, hanya bisa menyaksikan pertumbuhannya dari dekat tanpa bisa menyentuhnya ataupun berbicara dengannya.