Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Kenyataan yang tidak di Inginkan



Reno mencoba untuk menenangkan dirinya, ia menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya.


Air mata yang mengalir membasahi pipinya ia hapus dengan kedua tangannya lalu bergegas pergi ke sana.


Karena pria itu pergi tidak membawa uang sepeserpun, akhirnya ia pulang dengan berjalan kaki.


Sepanjang jalan Reno memikirkan tentang Ibunya, walaupun ia masih marah dengan wanita paruh baya tersebut, ada sedikit rasa rindu kepada wanita yang telah melahirkannya tersebut.


Tanpa terasa Reno sudah sampai di depan rumah kediaman keluarga Sanjaya setelah hari sudah sore.


"Apa Elisa masih mau menerimaku?" gumamnya sambil melihat rumah yang sudah beberapa bulan itu ia tempati.


"Mas Reno! Mas kemana saja, Tuan dan Nyonya dari tadi nyari-nyari Mas," tegur Soleh yang langsung keluar gerbang saat melihat Reno.


Reno menghela napas. "Aku habis jalan-jalan," jawabnya sambil berlalu meninggalkan Soleh begitu saja.


Soleh menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, pria kurus itu menutup gerbang kembali setelah Reno masuk kedalam halaman rumah.


Reno tampak ragu untuk masuk kedalam, pria itu berdiri didepan pintu sambil berpikir apakah Istrinya masih mau menerima dirinya atau tidak.


"Mas Reno, Mas baru dari mana? Selamat yah Mas," tegur Meysia yang kebetulan keluar rumah bersama dengan Aris.


"Eh ... selamat untuk apa?" tanya Reno bingung.


Meysia mengulas sebuah senyum manis. "Mas akan jadi seorang Ayah, Kak Elisa hamil."


Reno tertegun mendengar perkataan Elisa, ia mencerna kata-kata tersebut, sebelum akhirnya pria itu berlari masuk tanpa menjawab ucapan Elisa.


"Sialan, tuh anak tidak punya sopan santun sama sekali," gerutu Aris yang di senggol bahunya oleh Reno.


"Sudahlah, lagian kamu juga kalau jadi Mas Reno pasti akan melakukan hal yang sama, ayo antar aku pulang," ajak Meysia sambil merangkul kekasihnya tersebut.


Aris mengangguk, ia juga tahu kalau Reno pasti sangatlah senang, karena dia saja yang sebagai seorang kakak turut senang mendengar kehamilan adiknya, apa lagi Reno yang merupakan suami Elisa.


Reno bergegas ke kamar Elisa, didalam terlihat Sulastri sedang mengupaskan buah untuk Istrinya.


"Sayang, kamu beneran hamil?" tanya Reno tanpa basa-basi dengan napas yang tersengal-sengal.


Elisa menoleh ke arah suara Reno, wanita itu tampak kesal melihatnya. "Iya, kamu lebih baik pergi saja sana!" ucapnya ketus.


"Aku bilang pergi ya pergi!" hardik Elisa sambil melemparkan bantal yang ada di dekatnya ke arah Reno.


"Sudah Elisa, biar Ibu yang mengajak Reno pergi," tegur Sulastri lembut.


Wanita paruh baya itu mengajak Reno pergi dari kamar Elisa, pria itu sebenarnya enggan untuk pergi, tapi Ibu mertuanya itu mengajaknya dengan lembut.


Sulastri menutup pintu, ia lalu mengajak Reno berbicara setelah jauh dari kamar Elisa, agar tidak ada kesalahpahaman di antara anaknya.


"Ren, Elisa memang hamil, untuk sementara dia akan membenci kamu, kata dokter itu tidak apa-apa, karena banyak kejadian seperti itu saat hamil muda, Ibu juga dulu sama saat mengandung Elisa, begitu membenci Ayah," ucapnya lembut.


"Tapi Bu ...."


Sulastri mengusap bahu Reno sambil tersenyum. "Percayalah, Elisa pasti kembali seperti dulu lagi, kamu hanya perlu menjauhinya untuk sementara."


Reno menghela napas tidak berdaya, padahal tadi ia sudah sangat senang, tapi tampaknya perasaan bahagianya harus di tunda terlebih dahulu.


Sulastri hanya bisa memberikan nasihat kepada menantunya itu agar tidak berpikiran macam-macam mengenai Elisa, karena cepat atau lambat anaknya itu pasti akan kembali seperti dulu.


...***...


Malam harinya ....


Reno tidur di ruang tamu, pria tersebut sedang merenung menghadapi masalahnya yang terus bermunculan.


"Tuan, melamun terus nanti kerasukan aku loh," tiba-tiba Wowo dan Giaju muncul duduk di dekat jendela.


Reno menghela napas. "Masalahku seolah tidak ada habisnya, padahal aku ingin hidup bahagia dengan Elisa, tapi terus saja ada masalah yang datang menerpa."


"Kalau tidak mau ada masalah jadi patung saja tuan, soalnya kalaupun mati juga akan punya masalah lagi," celetuk Wowo.


Reno mengernyitkan dahinya. "Sialan, kamu pikir aku mau mati penasaran gara-gara masalahku belum selesai!"


"Hehehe... makanya jangan terlalu di ambil pusing, semua mahluk hidup punya masalah, bahkan kami saja yang sejatinya tidak dibebani masalah duniawi masih memiliki masalah, alangkah baiknya tuan berpikir bebas saja seperti saat belum bertemu dengan Nona Elisa," ucap Wowo bijaksana.


Reno menatap Jin bawahannya itu, ia heran kenapa ada Jin yang bisa bijaksana sepertinya, walaupun kadang menjengkelkan, tapi Wowo memang selalu memberikan solusi yang baik ketika ia membutuhkannya.