
Sementara Elisa sedang ditenangkan kedua orang tuanya.
Reno sedang pergi keluar untuk menenangkan diri, pasalnya ini pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu oleh Elisa yang biasanya sangat perhatian dan manja terhadapnya.
Pria itu berjalan gontai tanpa arah, hingga sampai di jembatan penghubung antara kota Senja dan Karta, ia bersandar di pagar jembatan sambil menatap sungai yang airnya mengalir deras.
"Aku harus bagaimana lagi? Apa takdirku memang akan selalu ditinggal orang-orang yang aku sayang," gumamnya lirih sambil menghela napas berat.
Betapa sulitnya kehidupan bagi Reno, karena pria tersebut selalu saja menemukan jalan berliku dalam menjalani kehidupannya.
Pria itu ingin mengeluh, tapi pada siapa harus mengeluh? Sementara orang yang akhir-akhir ini menjadi tempatnya berbagi cerita mengusirnya.
Reno menghela napas berat lagi, pria yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi itu bingung mau kemana jika Elisa benar-benar sudah tidak mau dengannya.
Brug
"Eh...." tiba-tiba saat Reno sedang melamun, ada seseorang yang menabraknya, hingga pria itu terkejut terpelanting hingga hampir saja jatuh ke sungai, untung saja Reno berpegangan pada pagar penghalang jembatan.
"Aduh, maaf mas aku tadi tidak sengaja," seorang gadis berseragam SMA langsung memegangi tangan Reno.
Reno dengan susah payah naik ke jembatan kembali, setelah sampai di atas ia terengah-engah karena terkejut sekaligus berusaha keras naik ke atas.
"Maaf banget Mas, tadi aku lari terpleset," ucap gadis itu lagi.
Reno mendongak menatap gadis yang sedang minta maaf tersebut. "Lain kali jangan lari-lari," tegurnya ketus.
"Iya maaf mas, aku terburu-buru soalnya," ucap wanita itu merasa bersalah.
Reno menghela napas, ia beranjak dari duduknya. "Ya aku maafkan."
"Terima kasih mas, aku permisi dulu," ucapnya seraya meninggalkan Reno seorang diri di sana.
Reno hanya mengangguk, gadis itu terlihat berlari kembali ke arah taman dekat kediaman keluarga Sanjaya.
Reno juga berjalan berniat untuk pulang, ia ingin melihat bagaimana kondisi Elisa, apakah sudah tenang atau belum.
Masih dengan lantai gontai, memikirkan bagaimana nasib dirinya nanti, pria itu masih terus menerus menghela napasnya.
Plak
"Kamu pikir wanita cuma satu?! Kalau sudah tidak bisa menepati janji lebih baik tidak perlu berharap lagi denganku!"
Terlihat gadis yang menabraknya barusan sedang dimarahi oleh seorang pria yang nampaknya kekasih gadis tersebut.
"Aku minta maaf mas, tadi ada masalah kecil saat aku datang kemari," ucap gadis itu sambil memegangi pipinya yang memerah karena tamparan.
"Halah, kamu selalu saja beralasan! Pasti kamu habis menemui cowok lain bukan?" tanyanya sambil menunjuk-nunjuk.
"Sumpah mas, aku tidak menemui siapapun, hanya kamu cowok satu-satunya di hidupku," jawabnya dengan sedih.
Pria itu langsung menjambak rambut si gadis. "Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sedang dekat dengan cowok lain?"
"Ampun mas, tidak sumpah," gadis itu memegangi rambutnya yang sedang di jambak.
Reno yang melihat hal tersebut tentu saja tidak diam begitu saja, ia berlari kearah mereka dan langsung memukul si pria.
Bug
Brug
Si pria langsung terhuyung dan jatuh duduk di tanah, pria itu menggelengkan kepala karena telinganya berdengung efek pukulan Reno.
"Kalau berani jangan sama wanita! Dimana harga dirimu sebagai pria!" hardik Reno tegas.
Pria itu mendongak menatap Reno. "Cih, apa urusanmu!" ucapnya seraya beranjak dari jatuhnya.
"Urusanku? Aku tidak suka orang sepertimu!" lanjut Reno.
"Hoooh, jadi kamu cowok yang sedang dekat dengan Raisa, brengsek!" bentak pria itu yang langsung melayangkan pukulan.
Sayangnya Reno bukanlah lawan seimbang untuk pria tersebut, ia mencekal tang pria tersebut dan menendang perutnya.
Bug
Brug
Pria itu tersungkur di tanah sambil memegangi perutnya, ia meringis kesakitan di tanah. Pria tersebut menatap Reno dengan tidak berdaya, ia berusaha untuk berdiri kemudian lari dari sana.
Reno menghela napas lega, ia menoleh ke arah si gadis, tampak gadis tersebut sedang menangis terisak, membuat pria itu prihatin.