
Reno akhirnya bisa mandi dengan tenang, walaupun masih ada beberapa hantu yang tetap memerhatikan nya ketika sedang mandi, tapi ia mengabaikannya, karena menurutnya itu sudah biasa untuk dirinya.
Setelah selesai mandi, ia bergegas masuk kedalam berganti pakaian. Gombel dan Wowo sudah menunggunya di teras rumah bersama dengan hantu lainnya, karena mereka ingin mendengar cerita Reno.
Pak Sulaiman yang melihat para hantu penghuni hutan sedang berkumpul di teras rumahnya, ia mengerutkan kening dan menegur mereka.
"Apa yang kalian semua lakukan di sini? Apa kalian mau rusuh?!" hardik pria sepuh itu.
"Ti-Tidak tuan Sulaiman, kami hanya sedang menunggu Reno," jawab Gombel mewakili teman-temannya.
Semua hantu menganggukkan kepalanya, seolah setuju dengan jawaban Gombel.
Pak Sulaiman menghela napas tidak berdaya, karena anak didiknya itu semakin hari memiliki banyak penggemar dan itu semua para hantu penghuni Hutan tersebut.
Pria sepuh tersebut masuk kedalam Rumah, ia memanggil Reno yang masih berada di kamarnya. "Ren, tuh semua jurig menunggu kamu!"
"Biarin saja Pak! Aku malas bertemu mereka!" sahut Reno.
Pak Sulaiman hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sekarang tahu kalau Reno sedang mengerjai para hantu tersebut.
Reno tidak takut sama sekali kalau para hantu akan masuk ke gubuk, karena selain gubuk tersebut sudah dipasangi pagar gaib, jika mereka semua membuat kerusuhan Pak Sulaiman juga akan turun tangan langsung.
Selain Wowo dan Giojo tidak ada hantu lain yang bisa masuk kedalam gubuk tersebut, karena mereka berdua sudah melakukan kontrak dengan Pak Sulaiman.
Sementara para hantu yang sedang menunggu Reno di teras rumah dengan kesal.
Dikediaman keluarga Sanjaya berada. Elisa pertama kalinya pulang ke rumah kembali, setelah beberapa bulan ia tinggal di padepokan Pak Sunardi.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga," Sulastri langsung memeluk anaknya.
"Aw! Sakit Bu...." keluh Elisa karena Ibunya memeluk luka yang didapatnya ketika bertarung melawan Buta Ijo.
"Maaf sayang, Ibu tidak sengaja," ucapnya segera melepaskan pelukan pada anaknya.
Sulastri membawa masuk anaknya kedalam rumah. Sang Ayah yang sudah pulang juga menyambutnya dengan hangat. Begitu juga dengan Aris, kakak Elisa.
Mereka semua duduk di sofa ruang keluarga. Orang tua Elisa merasa bingung karena anaknya pulang sendirian tanpa di antar oleh Pak Sunardi.
"Kamu pulang sendirian? Pak Sunardi tidak marah?" cecar Herman.
Elisa menggelengkan kepalanya, menjawab. "Pak Sunardi tadi mengantar sampai depan rumah saja, aku tadi menyuruhnya masuk, tapi dia tidak mau."
Elisa tiba-tiba tersenyum penuh arti, sehingga membuat keluarganya saling menatap bingung, karena tidak biasanya Elisa tersenyum seperti itu.
"Ayah, Ibu, aku mau menikah!" serunya langsung.
"Apa!" teriak keluarga Elisa terkejut bersamaan.
"Is... kalian ini, gak boleh aku menikah?" Elisa menggembungkan pipinya.
"Nak, bukannya tidak boleh, tapi siapa calonnya? Jangan asal bicara seperti itu," ucap Sulastri sambil menggenggam tangan Elisa.
"Benar kata Ibu, kamu juga masih sangat muda, Kakak saja belum berani menikah," timpal Aris.
"Itu karena Kakak tidak pernah serius mencari pendamping hidup!" tegur Elisa ketus.
"Tahu apa kamu ini? Menikah itu bukan sekedar cinta-cintaan saja, banyak yang perlu dipertimbangkan!" balas Aris.
"Sudah, sudah, kalian ini baru saja bertemu sudah bertengkar lagi!" Herman melerai kedua anaknya.
Elisa memelototkan matanya ke arah Aris, pria itu juga tidak mau kalah memelototi adiknya.
Herman dan Sulastri hanya bisa menghela napas tidak berdaya, karena kedua anaknya jika bertemu memang seperti anjing dan kucing, selalu saja bertengkar.
"Nak, kenapa kamu tiba-tiba memiliki pemikiran seperti itu?" tanya Sulastri lembut.
Elisa tersenyum. "Bu, Reno masih hidup, aku melihatnya ketika sedang menjalankan tugas dengan Pak Sunardi, aku ingin menikah dengannya!" jawabnya bersemangat.
"Elisa, kamu masih waras kan? Mana ada orang sudah mati hidup kembali?" tegur Aris.
"Benar Nak, mungkin kamu salah orang," timpal Herman.
"Ayah, Ibu, aku serius! Reno masih hidup, ternyata selama ini dia diselamatkan Pak Sulaiman, tadi kami bekerjasama menjalankan tugas!" ujarnya yakin.
Herman, Sulastri dan Aris tentu saja terkejut dengan pernyataan Elisa, karena sudah beberapa bulan berlalu dan tidak ada kabar sama sekali tentang Reno, tapi sekarang tiba-tiba Elisa mengatakan kalau pemuda tersebut masih hidup. Tentu saja mereka semua tidak percaya.
Elisa menghela napas, ia tahu kalau keluarganya pasti tidak akan mempercayai hal tersebut tanpa sebuah bukti.
"Nanti aku akan bawa dia kemari, aku yakin Ayah dan Ibu juga akan suka dengannya!" ucap Elisa sambil beranjak dari duduknya kemudian pergi ke kamar.
Keluarga Elisa hanya bisa tertegun, mereka masih tidak percaya jika orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali. Apa lagi waktu itu mereka jelas-jelas melihat darah Reno, walaupun tidak melihat jasadnya yang mereka pikir sudah dimakan hewan buas.