Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Perang Jin



Malam harinya, Reno dan Elisa yang sudah sah menjadi suami Istri sedang berbaring bersama di ranjang.


Mereka berdua kini tidak ada jarak sama sekali, apa lagi Elisa yang awalnya memang sudah ngebet sekali dengan Reno, wanita itu selalu menempel di tubuh Reno.


"Sayang, kamu gak mau sekarang?" tawar Elisa.


"Masih sore, takut Ayah dan Ibu manggil, tunggu sebenarnya lagi saja," jawabnya sambil tersenyum.


"Lah...." Elisa merajuk manja.


Reno menghela napas. "Sebenarnya yang cowo aku atu kamu sih? Aku kadang heran dengan kamu," ucap pria itu sambil mencubit hidung istrinya tersebut.


"Jadi tidak mau aku seperti ini? Ya sudah, aku bakal cuek," ucap wanita itu sambil membuang muka.


"Kamu ini yah, benar-benar membuat aku semakin gemas!" Reno mencubit kedua pipi Elisa.


"Ih... apaan sih," rengek Elisa.


Tanpa mereka sadari wajah mereka sudah saling berdekatan, hingga mereka terjerumus dalam indahnya surga dunia dimalam pengantin baru mereka, walau bukan malam pertama lagi akan tetapi terlihat keduanya begitu menikmatinya.


...***...


Setelah beberapa waktu bergelut dengan kenikmatan, keduanya sedang beristirahat sambil berpelukan bersandar di ranjang.


Di saat yang sama Sunardi, Wulandari dan bawahannya sudah bersiap untuk menculik Elisa, mereka semua sudah berada di posisi masing-masing.


Reno dan Elisa belum menyadarinya, akan tetapi tiba-tiba Momon muncul di kamar mereka berdua.


Sontak saja Reno dan Elisa terkejut ketika melihat Momon muncul.


"Ada apa Momon?" tanya Elisa lembut.


Momon memberitahu Elisa lewat telepati, kalau dirinya sedang dalam bahaya, Hantu tanpa wajah itu memberitahu wanita itu ada banyak orang yang sedang mengepung rumahnya.


"Ada apa, sayang?" tanya Reno yang melihat Elisa buru-buru mengenakan pakaiannya dan melihat ke jendela.


"Sayang cepat kenakan pakaianmu, masih ada orang yang mengincar kita!" perintah Elisa.


"Apa!" Reno seketika bergegas mengenakan pakaiannya, ia juga melihat ke arah jendela, benar saja ada banyak orang yang sedang mengepung mereka.


"Bukankah mereka bawahan Pak Sunardi?" tanya Reno.


Elisa mengernyitkan dahi, ia menatap lekat-lekat orang-orang tersebut. "Astaga, kamu benar."


"Sial, kita lengah, ternyata musuh ada di sekitar kita!" gerutu Reno geram.


Reno bergegas mengeluarkan Wowo dan Giaju, untuk membantunya melawan mereka semua.


Terlihat pagar gaib mulai menghilang, Elisa dan Reno sudah semakin yakin kalau Pak Sunardi terlibat dengan penyerangan tersebut.


"Jumlah mereka sangat banyak, apa yang harus kita lakukan, sayang?" Elisa terlihat sangat khawatir.


Reno memeluknya lalu mengecup keningnya. "Kamu jangan khawatir, aku pasti akan melindungi mu," jawabnya yakin.


Reno melepaskan pelukannya. "Kamu tunggu sebentar," pria itu perlahan membuka jendela kamar Elisa.


Reno merapal sebuah mantra, tiba-tiba sebuah keris berwarna merah muncul ditangannya, Elisa yang belum pernah melihat Reno mengeluarkan keris tersebut terkejut. Pasalnya sewaktu ada kejadian di Rumah Sakit Elisa tidak melihat pertarungan Reno.


Pria itu mengeluarkan Ifrit ke luar jendela kamar Elisa. "Ifrit, habisi mereka yang ingin menyakiti istriku!" perintah Reno langsung.


"Baik tuan!" jawabnya yang langsung berkobar menyala menjadi besar.


"Wowo, Giaju, kalian bantu Ifrit, lawan sesuai dengan kemampuan kalian, jangan sampai tertangkap ataupun kalah!" lanjut Reno memberikan perintah.


Wowo dan Giaju menghilang dari sana juga untuk membantu Ifrit melawan mereka semua.


Hantu tanpa wajah tersebut mengangguk, sosok itu menghilang dari sana. Reno menggenggam tangan Elisa, mereka memantau pertarungan ketiga Jin nya tersebut, jika kalah maka mereka akan cepat kabur dari sana.


Di tempat Pak Sunardi berada, tiba-tiba ia merasakan energi spiritual besar yang pernah ia rasakan sebelumnya.


"Sunardi, mahluk apa itu?!" tegur Wulandari yang melihat Ifrit mulai menyerang bawahan mereka.


"Sial, itu Ifrit! Kenapa dia bisa mengeluarkan mahluk tersebut? Brengsek, tampaknya dia tahu rencana kita!" seru Sunardi.


"Cih, dari dulu rencanamu memang tidak ada yang pernah berguna sama sekali!" Wulandari berdecak kesal.


Wanita paruh baya tersebut mengeluarkan Kuyang dan Buta Ijo miliknya sesegera mungkin.


"Lenyapkan mahluk itu!" perintah Wulandari tegas.


Dua mahluk astral itu mengangguk, mereka langsung menghilang menuju Ifrit berada.


Sementara itu ditempat Ifrit, ia sedang membakar orang-orang yang melawannya tersebut tanpa berbelas kasihan sama sekali.


Blar


Blar


Arg!


Bawahan Sunardi dan Wulandari tewas gosong seketika saat Api Ifrit ******* mereka semua.


Mereka memanggil Jin bawahan masing-masing, akan tetapi Jin yang di keluarkan semuanya ketakutan saat melihat Ifrit, karena mereka tahu kalau Ifrit salah satu Jin kuat yang ada di tanah Java.


Swuzz


Swuzz


Blar


Blar


Api Ifrit terus di lesatkan untuk menghabisi bawahan Sunardi dan Wulandari, mereka yang ketakutan lari terbirit-birit, tidak perduli tuan mereka akan marah sekalipun.


Wung


Bang


Buta Ijo menghantam Ifrit dengan sangat keras, tapi sosok bawahan Reno tersebut tidak terpengaruh sama sekali.


"Hahahaha... ternyata itu kau Ijo! Kebetulan sekali kita bertemu di sini!" seru Ifrit senang melihat Buta Ijo.


Buta Ijo menatap Ifrit dengan seksama, ia sedikit terkejut ketika tahu siapa sosok didepannya itu. "Bagaimana bisa kau terlepas dari segel, Ifrit?!"


"Kau tidak perlu tahu itu!" serunya sambil menghantam Buta Ijo dengan sangat keras.


Bang


Duar


Terdengar suara ledakan di jalan depan rumah Elisa, sontak saja hal tersebut membuat semua orang terbangun, termasuk keluarga Elisa.


Kuyang melebarkan rahangnya akan menggigit leher Ifrit, akan tetapi Wowo dengan sigap melompat menjambak rambut Kuyang dan membantingnya.


"Hantu tidak punya tubuh seperti mu bisa apa?!" ejek Wowo sambil membanting-banting Kuyang tersebut.


Sementara Giaju menjaga para jin rendahan yang berniat menculik Elisa, sosok bawahan Reno tersebut dengan garang melawan mereka yang berjumlah puluhan tersebut.