
Reno menahan Elisa karena ia belum siap untuk bertemu dengan orang yang telah menelantarkannya, meskipun wanita tersebut Ibunya, tapi ia juga masih memiliki keraguan dihatinya.
Wajar saja jika Reno berpikir seperti itu, siapa orangnya yang akan memaafkan begitu saja kelakuan orang tua yang seperti itu.
Memang Reno terlahir dari rahimnya, akan tetapi apa salah jika pria itu mencoba untuk melupakannya karena sikapnya yang selama ini sudah buruk terhadapnya.
Akan banyak persepsi dengan jenis orang tua seperti itu, mereka yang akan mendukung Reno agar kembali dengan Ibunya walaupun dia sudah tersakiti dengan alasan karena wanita tersebut yang melahirkan di Dunia.
Ada juga yang akan bilang abaikan saja orang seperti itu karena tidak memiliki perasaan sama sekali, meninggalkan Reno sejak kecil.
Semua perbuatan pasti ada ganjarannya, entah itu baik atau buruk, karena hal tersebut sudah menjadi hukum alam. Namun, tentu saja banyak spekulasi tentang bagaimana cara menggapai hal tersebut dengan berbagai sudut pandang dari diri kita.
Reno bukannya tidak mau menerima Ibunya, tapi ia sedang berpikir, apakah harus menerima orang yang telah menyakitinya atau mengabaikannya saja, toh sekarang dia sudah memiliki keluarga kecil bersama sang Istri.
...***...
Elisa bingung kenapa Reno menahan dirinya untuk mencari sang Ibu, wanita itu tapi tidak marah atau apa, ia duduk disamping suaminya tersebut.
"Sayang, apa kamu tidak ingin bertemu dengannya?" tanyanya lembut.
Reno menghela napas. "Bertemu dengannya? Entahlah...."
Pria itu menatap langit-langit kamar. "Apa dia masih layak dipanggil seorang Ibu? Sedangkan selama ini saja dia tidak pernah mencoba untuk melihatku sama sekali Elisa," lanjutnya sedih.
Elisa tersenyum, ia menggenggam tangan Reno. "Apa pun keputusan kamu, aku akan selalu mendukungnya, kalau menurutmu itu yang terbaik," jawabnya lembut.
"Terima kasih Elisa," jawabnya sambil mengulas senyum tipis.
Elisa menganggukkan kepalanya, Ia akan selalu mendukung keputusan Reno, karena tidak ingin melakukan kesalahan lagi.
...***...
Sementara itu ditempat Ibu Reno, wanita itu sudah sampai dirumahnya yang berada di komplek Metro kota Senja.
"Ibu sudah pulang, katanya akan lama?" seorang gadis yang masih duduk di kelas dua SMA menegur wanita paruh baya tersebut.
"Belum Bu, paling sebentar lagi," jawab gadis itu sambil nonton televisi.
Wanita paruh baya itu berjalan ke kamarnya, tidak bertanya kepada sang anak lagi, sosok tersebut terlihat sangat sedih.
Ketika sampai dikamar, wanita paruh baya tersebut mengambil sebuah foto dimana seorang bocah berusia dua tahun sedang digendong neneknya.
"Mungkin ini semua terlambat Reno, tapi Ibu ingin meminta maaf padamu sebelum ajal Ibu menjemput," ungkapnya dengan berlinang air mata mengusap-usap foto usang ditangannya.
Ratih Rahayu, Ibu Reno sudah memiliki keluarga baru setelah meninggalkan anaknya begitu saja dikampung.
Wanita itu dulu sangatlah membenci Reno, hingga tega meninggalkan bocah yang masih butuh kasih sayang seorang Ibu.
Alasan Ratih mencari Reno, karena ia mengidap Kanker otak dan divonis sudah stadium dua.
Ratih selalu bermimpi bertemu dengan Reno kecil yang sedang menangis akhir-akhir ini, membuat wanita itu teringat dengan anak pertamanya tersebut. Ia sadar telah melakukan kesalahan dan ingin minta maaf dengannya, walau mungkin sudah sangat terlambat, tapi setidaknya ia ingin mengungkapkan rasa bersalahnya itu agar perasaannya sedikit lega.
Ketika wanita itu mendapatkan kabar kalau menantu Sanjaya itu bernama Reno, ia langsung datang mencarinya, akan tetapi wanita itu tidak juga bertemu dengan Reno.
"Kamu sebenarnya ada dimana Nak? Ibu sudah mencari kamu ke Rumah yang dulu tapi tidak ada, Ibu harus mencari kemana lagi?"
Ratih menangis terisak sambil memeluk foto usang kenangan terakhir yang dimilikinya tersebut.
Benar seperti peribahasa, penyesalan itu datangnya belakangan. Karena setiap manusia memiliki ego yang tinggi, tergantung bagaimana mereka akan menggunakan ego tersebut.
Jika Ego yang digunakan terlalu tinggi, percayalah hasilnya akan tidak baik, alangkah baiknya gunakan ego kita sesuai dengan porsinya, agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.
Kebaikan dan keburukan bisa kita atur dengan tindakan, tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Gunakanlah kesempatan sebaik-baiknya, karena jika sudah bertindak semuanya tidak akan bisa di ulangi lagi.
Hanya ada dua jawaban atas tindakan yang akan kita ambil, berhasil atau gagal. Namun, kalau bisa hindarilah sebisa mungkin sebuah kegagalan, karena itu akan sangat menyakitkan, walau kadang kegagalan juga sebagian dari bentuk kekuatan untuk bangkit, akan tetapi kalau bisa menghindar kenapa tidak.