Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Kabar Gembira



Selama satu Minggu Reno tidur sendirian, tidak merasakan kehangatan sang Istri lagi, hanya ada Giaju dan Wowo saja yang setiap malam menemaninya untuk sekedar melepaskan bosannya.


Pria yang akan memiliki anak tersebut juga mencoba melupakan sang Ibu, agar kesedihannya tidak berlarut-larut. Namun, tanpa sepengetahuan Reno, kondisi Ibunya semakin melemah dan setiap hari Raisa mencari Reno berharap bisa bertemu sang Kakak secepatnya setelah tahu kalau Ibunya menderita kanker.


...***...


Di kamar tamu, Reno baru bangun dari tidurnya ketika sinar mentari mulai menyeruak masuk dari jendela kamar tersebut.


Pria itu mengerjapkan matanya, ia terkejut saat merasakan ada seseorang yang memeluknya.


"Elisa!" seru Reno saat melihat sang Istri yang sudah selama satu Minggu ini membencinya tiba-tiba ada di kamarnya.


Elisa terbangun mendengar suara lantang Reno. "Pagi sayang," ucapnya lembut.


Mendengar perkataan tersebut mata Reno langsung berkaca-kaca, pria itu seketika langsung memeluk balik Elisa sambil mengecup puncak kepalanya.


"Akhirnya kamu kembali," ucapnya sangat senang.


"Hihihi ... maafkan aku yah, sepertinya Dede bayi sudah mau dekat dengan ayahnya lagi," balas wanita itu sambil terkikik geli.


Reno menganggukkan kepalanya, pria itu sangat senang karena akhirnya Elisa yang ia kenal kembali lagi.


Pria itu tidak henti-hentinya mengecup kepala Elisa, terlihat sangat jelas betapa rindunya dia dengan sang Istri.


Elisa merasa bersalah, ia juga mengingat jelas bagaimana dirinya memperlakukan Reno, jangankan dekat dengannya, baru saja Reno melihatnya, ia sudah memakinya.


"Sayang, kita mandi bareng yuk," ajak Elisa lembut.


"Sebentar lagi, aku masih rindu denganmu," jawab pria itu jujur.


Elisa hanya mengangguk lirih sambil memeluk erat suaminya itu, untuk beberapa saat mereka berpelukan terus, hingga akhirnya mereka pergi mandi bersama.


Karena sudah satu Minggu tidak mendapatkan jatah dari Elisa, tentu saja Reno menagih haknya.


Elisa tidak menolak sama sekali, ia memberikan apa yang harusnya diberikan kepada sang suami.


...***...


Sementara itu dikamar Ibu Reno, tampak wanita paruh baya itu sedang terbaring lemah sambil memegangi foto Reno kecil.


"Bu, makan dulu yah," ucap Raisa lembut.


Ratih mengangguk lirih, ia beranjak dari berbaringnya untuk bersandar di ranjang. Raisa membantu Ibunya.


Gadis itu menyuapi sang Ibu dengan telaten, terlihat ia begitu menyayangi sang Ibu, walaupun wanita paruh baya itu memiliki kenangan pahit dengan anak pertamanya.


Raisa menggelengkan kepalanya. "Belum Bu, nanti aku akan cari Kakak lagi, Ibu jangan khawatir Raisa pasti akan menemukan Kak Reno," ucapnya sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak Nak," jawab Ratih sedih.


Raisa sebenarnya sedih melihat sang Ibu yang setiap hari selalu memandangi foto Kakaknya, ia berharap bisa bertemu dengan Reno secepatnya sebelum Ibunya menghembuskan napas terakhir, mengingat kondisinya semakin lemah setiap hari, ditambah ia tidak mau dirawat di rumah sakit.


Raisa dan Ayahnya hanya bisa bersabar menghadapi kenyataan tersebut, mereka sekarang fokus memenuhi permintaan terakhir Ratih untuk bisa bertemu dengan Reno dan meminta maaf pada anak pertamanya tersebut.


Setelah selesai menyuapi sang Ibu. Raisa menyuruh pembantunya untuk merawat Ratih, pasalnya ia akan mencari Reno kembali.


Raisa keluar dari rumah, ia mengendarai motor maticnya, berkeliling tempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Kakaknya.


"Dimana rumah kamu sebenarnya Kak?" gumam gadis itu sambil mengendarai motornya.


Bersamaan dengan Ratih pergi keluar rumah, Reno juga keluar rumah untuk mengajak Elisa jalan-jalan, karena sudah lama mereka tidak pergi berdua.


Motor bututnya yang sudah satu Minggu nganggur di panaskan terlebih dahulu sambil menunggu Istrinya selesai bersiap-siap.


"Cie ... sudah baikan nih ceritanya," goda Soleh pada Reno.


"Apaan sih kamu tonggos, kami itu tidak pernah bertengkar," ucap Reno tidak senang.


Soleh tersenyum simpul. "Bagaimana rasanya di anggurin satu Minggu mas? Pasti mantapkan saat melakukannya lagi?" tanya Soleh semakin menjadi-jadi.


"Kamu ini yah, semakin di biarkan semakin ngelunjak! sudah Sono kembali habitat mu," tegur Reno ketus.


"Galak amat, emangnya saya hewan suruh kembali ke habitatnya," gerutu Soleh.


"Mirip," ucap Reno sambil menyeringai.


Seketika wajah Soleh menjadi jelek, ia menyesal telah menggoda Reno, karena menantu majikannya itu selalu balas menggoda dengan tajam, padahal ia niatnya cuma ingin bercanda saja.


Tidak berselang lama Elisa keluar rumah, wanita itu tampak sangat rapi, membuat Reno tersenyum simpul melihatnya.


"Ayo berangkat," ajak Elisa sambil tersenyum.


Reno menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, ia mengenakan helm kepada Istrinya lalu berangkat membawa Elisa jalan-jalan.


Terlihat kebahagian di raut wajah keduanya, Elisa memeluk Erat Reno sama seperti dulu ketika mereka belum menjadi suami Istri.


Saat hampir sampai di pusat perbelanjaan tujuan mereka. Raisa yang sedang beristirahat melihat Reno yang sedang membonceng Elisa karena helmnya terbuka, sontak saja gadis tersebut bergegas mengejarnya.