Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Pertanyaan Mendadak



Sementara Pak Sunardi sedang berdiskusi masalah pernikahan Elisa yang ditentang oleh Aris, karena alasan dia tidak mau di lewati adiknya.


Terdengar suara langkah kaki Elisa yang berlari turun dari lantai atas, wanita itu tampak sangat terburu-buru sekali.


"Elisa! Jangan lari-lari didalam rumah!" teriak Herman dari ruang tamu.


"Iya Ayah!" sahut Elisa masih saja berlari.


Herman menghela napas tidak berdaya, Pak Sunardi kemudian tersenyum saat merasakan energi spiritual milik Reno.


"Berumur panjang dia, sedang kita bicarakan orangnya datang!" ucapnya bersemangat.


"Siapa Pak Sunardi?" tanya Herman memastikan.


"Reno, pantas saja Elisa berlari, lihat anak kalian saja sudah sangat menyukainya," jawab Pak Sunardi sembari mengulas sebuah senyum.


Herman dan Sulastri tidak bisa berkata-kata, mereka tidak tahu sama sekali hubungan anaknya sudah sedekat apa, mengingat Elisa tidak pernah cerita tentang Reno sebelumnya, setelah pria itu dulu pernah di duga meninggal.


Sementara Aris wajahnya tampak jelek, ia sudah tahu kearah mana pembicaraan Pak Sunardi dan kedua orang tuanya itu.


...***...


Di luar rumah, depan gerbang kediaman keluarga Sanjaya. Reno sedang menunggu didepan gerbang ditemani bawahan Pak Sunardi.


"Mas masuk saja, aku yakin Non Elisa juga sudah menunggu didalam," ucap pria itu sopan.


"Aku nunggu sajalah, takut nanti orang tuanya marah," jawab Reno polos.


Pria tersebut menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, padahal ia sangat yakin kalau Elisa sangat menyukai Reno, tapi tampak pria dihadapannya itu malah ragu.


Tidak berselang lama Elisa keluar dari dalam rumah mengenakan pakaian santai dengan bahu terbuka dan sedikit terlihat belahan gunung kembarnya.


"Reno, ayo masuk!" ajak Elisa langsung setelah membuka gerbang.


Tapi Reno malah membuang mukanya, membuat Elisa bingung, wanita itu mengernyitkan dahi, kenapa Reno jadi seperti itu.


"Ren, kamu kenapa?" tegurnya lembut.


"Mba Kunti porno," celetuk pria itu polos.


"Eh..." Elisa dan pria yang menjaga didepan gerbang tertegun. Elisa kemudian melihat pakaian yang dikenakannya, ia menepuk jidatnya. "Astaga aku lupa, ayo masuk dulu!" Elisa menarik lengan Reno sambil satu tangannya menutupi belahan gunung kembarnya.


Pria penjaga gerbang tersenyum tipis melihat Reno yang ternyata bisa sangat polos seperti itu, padahal kalau sedang bertarung dengan mahluk astral pria tersebut sangat terlihat berwibawa.


Reno masuk kedalam rumah Elisa, wanita itu mengantar Reno ke ruang tamu menemui Orang tuanya yang sedang mengobrol dengan Pak Sunardi dan Kakaknya.


"Kamu di sini dulu Ren, aku mau ganti pakaian dulu, biar gak porno!" goda Elisa sambil berlari ke atas.


Reno tersenyum kecut, pria itu kemudian menoleh ke arah Pak Sunardi dan kedua orang tua Elisa sambil membungkukkan badan.


Kedua orang tua Elisa menatap Reno dari atas sampai kebawah, mereka berdua mengangguk-anggukkan kepalanya, menganggap kalau Reno layak untuk putrinya.


"Ren, duduk sini," panggil Pak Sunardi sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


Reno mengangguk, pria itu langsung duduk didekat Pak Sunardi masih dengan tatapan menyelidik kedua orang tua Elisa.


"Aris Sanjaya, Kakak Elisa!" ucapnya tegas.


Reno tersenyum, ia menyambut uluran tangan Aris. "Reno Mubarok, salam kenal," jawabnya sopan.


Aris menyeringai, ia tiba-tiba meremas tangan Reno dengan sangat kuat, niat hati ingin memberikan pelajaran kepada Reno. Namun, Aris tidak tahu saja kalau Reno tidak mungkin kalah dengan pria yang tidak memiliki energi spiritual sepertinya.


Reno mengernyitkan dahi ketika Aris mulai meremas tangannya dengan kuat, ia menyadari kalau Kakak Elisa berusaha untuk memberikannya pelajaran.


Pria itu tersenyum, ia mengalirkan sedikit energi sihirnya kedalam tangan yang sedang berjabat dengan Aris.


Wajah Aris yang tadinya sangat percaya diri kini mulai berubah menjadi jelek, keringat dingin mulai bercucuran ketika tangan Reno semakin mempererat genggamannya.


Semakin lama cengkraman tangan Reno semakin erat membuat Aris mulai merasakan kesakitan.


"Aduh! Lepaskan aku... tolong lepaskan!" Akhirnya Aris sudah tidak tahan lagi dan berteriak.


Sontak saja Herman dan Sulastri terkejut karena tiba-tiba anaknya berteriak sangat keras, padahal hanya bersalaman saja.


Pak Sunardi menghela napas panjang. "Ren, lepaskan dia, mau bagaimanapun dia calon Kakak iparmu," tegurnya lembut.


Reno tersenyum simpul, ia melepaskan tangan Reno. Aris bergegas mengibas-ngibaskan tangannya karena terasa sangat sakit, ia menatap Reno dengan tidak berdaya, ternyata pemuda bertampang polos seperti Reno memiliki tenaga yang sangat kuat.


"Makanya jangan sok kuat!" tegur Elisa yang sudah turun kebawah dengan pakaian yang rapi dan sedikit bersolek.


Elisa bukannya duduk di samping orang tuanya, wanita itu malah duduk dekat dengan Reno sambil tersenyum penuh arti.


"Elisa, jaga sopan santun mu!" tegur Herman.


"Apa sih Ayah, lagi pula aku juga sudah pernah hidup satu rumah dengan Reno," jawabnya santai.


"Hah!" Mereka semua yang ada di sana melebarkan rahangnya ketika Elisa mengatakan hal tersebut.


Elisa terkekeh geli melihat ekspresi kedua orang tuanya dan Kakaknya yang seolah tidak percaya dia pernah hidup bersama satu rumah dengan Reno.


"Elisa jaga bicaramu?!" hardik Herman yang semakin kesal.


"Benar itu Elisa, kamu itu wanita jaga bicaramu, Nak," timpal Sulastri.


"Apa sih Pak, Bu, kami memang pernah hidup satu rumah, tapi dulu saat aku menjadi roh penasaran, benarkan Ren?" tanya Elisa kepada Reno.


"Oh... yang waktu kamu menjadi Mba Kunti? Ya pernah, memangnya kenapa?" Reno balik bertanya dengan polosnya.


Kedua orang tua Elisa tidak bisa berkata-kata, ternyata yang mereka bahas sewaktu Elisa menjadi roh penasaran, mereka kira sewaktu Elisa kabur dari rumah, keduanya bernapas lega.


"Hahaha... kalian ini benar-benar membuat aku teringat dengan masa mudaku dulu," Pak Sunardi tertawa senang melihat interaksi keluarga tersebut.


"Sudah, kita lebih baik bahas masalah yang lebih serius," ucap Pak Sunardi mulai serius, pria itu menatap Reno. "Ren, apa kamu mau menikahi Elisa?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.


Seketika Reno terkejut, begitu juga Elisa yang tidak tahu apa-apa tentang masalahnya, tiba-tiba Reno ditanya masalah tentang pernikahan padahal mereka pacaran saja belum.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain, seolah saling bertanya lewat pandangan mata mereka.