
Mendapatkan penahan dari keluarga Elisa, tidak membuat Reno bergeming, pria tersebut pasalnya sudah berjanji dengan Pak Sulaiman untuk mengalahkan mereka yang telah berbuat kejahatan.
"Ayah, Ibu, Kakak dan kalian semua, sebelumnya aku berterima kasih karena telah peduli denganku, tapi... aku juga memiliki tugas yang harus aku emban.
"Sebelum aku menikah dengan Elisa juga aku sudah pernah bilang padanya, kalau aku memiliki tugas berat, aku harap kalian mau mengerti," ucapnya penuh penekanan.
"Ren tapi...."
Reno menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah tahu resikonya menikahi aku, maaf aku harus melakukan ini, Elisa," ucapnya seraya pergi ke kamar untuk mengambil barang-barangnya.
Elisa hanya tertegun menanggapi keputusan Reno, sekarang ia sadar kalau suaminya itu hanya pura-pura tidak marah melihat kedekatannya dengan Raka. Pasalnya Reno terlihat tanpa ragu untuk meninggalkannya.
Elisa tiba-tiba menangis, karena ia telah melakukan kesalahan yang fatal, tidak menceritakan semua tentang masa lalunya. Namun, sebenarnya itu hanya dalam pemikiran Elisa saja, karena Reno memang memiliki tugas tersebut yang sudah ia janjikan dengan Pak Sulaiman.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sulastri kepada putrinya.
"Ini semua salahku Bu, Reno kemungkinan marah denganku karena ia mendengar kalau aku masih memiliki hubungan dengan Raka," ucapnya sambil menangis tersedu-sedu.
"Loh, bukannya kalian sudah lose kontak lama?" tanya Aris memastikan.
"Tapi Raka masih menganggap aku dan Reno mendengar semuanya, Ayah Ibu, tolong hentikan Reno, aku tidak ingin kehilangannya," ucap Elisa masih sambil menangis.
Herman mengusap wajah anaknya. "Baik, biara Ayah mengingatkannya!" ucap pria paruh baya itu dengan serius.
Herman bergegas ke kamar putrinya untuk menghentikan Reno, sayangnya ketika ia sampai di sana, Reno sudah tidak ada dan keluar dari jendela kamar.
Tentu saja Herman terkejut, ia melihat ke arah Jendela lantai dua, Reno sudah tidak terlihat lagi, pria itu menutup jendela dan bergegas turun ke bawah.
"Bagaimana Ayah, dimana Reno?" tanya Elisa.
Herman menggelengkan kepalanya. "Reno pergi dari jendela," jawabnya tidak berdaya.
"Apa! Aku harus menyusulnya!" seru Elisa beringsut untuk pergi menyusul Reno.
Herman tidak membiarkan putrinya pergi. "Kamu gila Elisa! Di luar sangat bahaya!"
"Tidak Ayah, aku ingin membantu Reno, jikapun harus mati aku tidak apa, asalkan bisa bersama Reno!" teriak Elisa sambil beringsut.
"Elisa sadar! Kamu masih punya keluarga!" seru Herman.
Elisa menatap Ayahnya dengan sinis. "Mentang-mentang Reno gak punya keluarga Ayah membiarkannya begitu saja! Aku sekarang keluarga satu-satunya, dia hanya punya aku dan aku orang yang seharusnya selalu bersama dia harus diam saja ketika melihatnya dalam bahaya?"
"Reno sudah menderita sejak kecil Ayah... dia belum pernah merasakan kebahagiaan, hanya aku yang dia punya.... kenapa aku harus diam saat suamiku sedang mempertaruhkan nyawanya?" Elisa ambruk dilantai sambil menangis terisak.
"Aku hanya ingin terus bersamanya Ayah, aku ingin mendukungnya, aku juga ingin melihat dia bahagia...." lanjut wanita itu dengan suara yang mulai parau.
Herman tertegun, ia tidak bisa berkata-kata melihat putrinya begitu mencintai Reno, walaupun pria itu tampak dingin tapi sepertinya hanya dialah yang mampu membuat putrinya kembali tegar.
Sulastri menghambur memeluk putrinya yang sedang menangis terisak di lantai.
"Bu, aku ingin terus bersama Reno...." ucap wanita itu dengan sesenggukan.
"Iya sayang, Ibu tahu perasaan kamu, tapi kondisi sekarang sedang tidak baik, kamu tahu sendiri kalau kita tidak bisa berbuat apa-apa," ucap wanita paruh baya itu dengan lembut.
Herman menghela napas. "Siapkan semua peralatan kamu, Ayah akan mengantar kamu ke sana!" ucap pria paruh baya itu tiba-tiba.
Elisa mendongak ke atas. "Benarkah itu Ayah?" tanyanya memastikan.
"Ya, tapi jika pria bodoh itu tidak bisa melindungi mu, Ayah akan membunuhnya!" jawabnya tegas.
Elisa tersenyum, ia menghapus air matanya, kemudian beranjak dari lantai dan bergegas berlari ke kamar.
"Sayang, kamu yakin?" tanya Sulastri pada suaminya.
"Benar Ayah, jangan gegabah," timpal Aris.
Herman menghela napas. "Kita bisa apa memangnya? Dari dulu Elisa sangatlah keras kepala, kalian tentu tahu akan hal itu, daripada harus melihatnya terus menangis, lebih baik aku akan membawanya ke sana dan membantunya sebisa mungkin," jawabnya tidak berdaya.
"Tuan, kalau begitu ijinkan kami ikut, kami juga akan berjuang untuk melindungi Nona Elisa dan tuan Reno!" seru salah satu Satpam.
Herman mengulas sebuah senyum, ia menganggukkan kepalanya setuju membawa kedua satpam tersebut.
Elisa turun dari kamarnya dengan mengenakan jeans dan kaos oblong yang biasa ia kenakan ketika ikut dengan Pak Sunardi.
Mereka semua pun berangkat ke tempat Jin pemakan Jiwa berada menyusul Reno.
...***...
Sementara itu ditempat Reno berada, pria itu sedang mencari energi spiritual Jin pemakan jiwa tersebut bersama dengan Wowo dan Giaju.
"Tuan, anda tidak bisa melawannya seorang diri, dia sangat kuat, apa lagi sudah memakan banyak jiwa manusia," ucap Wowo.
"Terus aku harus bagaimana? Membiarkannya begitu saja? Yang ada dia akan semakin kuat saja, lebih baik aku menghentikannya sekarang, dari pada harus menunggunya lebih kuat lagi!" jawabnya sambil berlari.
"Terserah tuan saja, yang pasti kami akan selalu bersama dengan anda," ucap Wowo.
Reno terus berlari mencari sosok tersebut dengan ditemani dua Jin yang setia menemaninya tersebut.
Pria itu melihat banyak orang yang sudah diserap jiwanya bergeletakan di jalan, dari yang tua hingga anak-anak pun tidak luput dari serangan sosok tersebut.
Reno semakin geram dengan sosok tersebut, karena ia tidak bisa menghentikannya sebelum banyak korban berjatuhan.
"Tuan di sana!" seru Wowo sambil menunjuk sebuah gedung yang energi spiritual hitamnya berkumpul sangat pesat.
"Brengsek, dia sudah sangat kuat!" gerutu Reno kesal saat melihat energi spiritual hitam yang begitu pekat tersebut.
"Kalian berdua, bersiaplah!" sambung Reno memberikan perintah.
"Tentu saja tuan!" jawab Wowo di ikuti anggukan Giaju yang memang tidak bisa berbicara.
Mereka bertiga terus menuju gedung tersebut tanpa rasa takut sedikitpun walau lawan mereka sangatlah kuat.
Sementara Elisa dan Ayahnya juga sudah menemukan lokasi Jin pemakan jiwa tersebut berkat jimat pencarian energi spiritual milik Elisa, mereka bergegas ke sana, berharap tidak terlambat untuk membantu Reno.