Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Pengalihan



Reno menantikan jawaban Elisa setelah dirinya memberikan alasan sebenarnya kepada wanita itu kenapa tidak mau menikah terlebih dahulu.


Pria itu melihat Elisa yang menunjukkan raut wajah kecewa, sehingga membuatnya merasa tidak ada harapan lagi.


"Bodoh! Kenapa tidak bilang dari awal! Jika alasannya hanya karena itu, kita bisa melewatinya bersama!" Elisa tiba-tiba memeluk Reno sambil memarahinya.


Pria yang sedang berkerudung sarung itu tertegun sejenak ketika Elisa memeluknya, ia kemudian tersadar. "Kamu tidak marah denganku?"


"Marah untuk apa bodoh!" Elisa melepaskan pelukannya, ia menatap pria itu lekat-lekat.


"Ren, kita bisa melakukan apa yang Pak Sulaiman bersama, kamu tahu sendiri aku juga seorang pengusir hantu, kenapa kamu tidak bilang dari awal?" tanyanya tidak berdaya.


Reno menghela napas. "Tapi ini tugasku, aku tidak ingin melibatkan siapapun, aku takut kamu kenapa-napa, " jawabnya tidak berdaya.


Elisa semakin gemas dengan Reno, pria itu begitu sangat peduli padanya. Ia tidak tahu harus mengekspresikan kebahagiaannya dengan cara apa lagi. Baginya Reno pria terlalu sempurna untuknya.


Mereka berdua ngobrol-ngobrol sebentar, sebelum akhirnya Elisa pamit masuk kedalam karena hari sudah malam.


"Sudah malam, kamu tidak istirahat, Ren? Aku sudah ngantuk," tanya wanita itu sambil menguap.


"Kamu istirahatlah dulu, aku nanti saja," jawab pria itu sembari tersenyum.


"Oke, selamat malam Hany...." ucap Elisa lembut sambil mengecup pipi Reno kemudian meninggalkannya.


Reno menggeleng-gelengkan kepalanya, Elisa semakin hari semakin agresif saja, ia takut kalau sampai kebablasan nantinya, apa lagi sekarang sudah tinggal serumah walaupun tidak satu kamar.


Ketika Reno sedang terbuai dengan kehangatan perasaan yang diberikan Elisa, tiba-tiba ia merasakan energi spiritual kuat muncul didekat rumah Elisa.


Reno langsung mengeluarkan Wowo dan Giaju untuk mencari tahu siapa yang datang dengan energi spiritual kuat tersebut.


"Wowo, Giaju, kalian cari tahu siapa yang datang!" perintah Reno langsung.


"Baik tuan!" jawab mereka serempak dan langsung pergi dari hadapan Reno.


Sekarang Wowo dan Giaju bebas keluar masuk dari pagar gaib, karena Reno sudah meminta kepada Pak Sunardi agar dua bawahannya itu bisa keluar masuk pagar gaib buatannya.


Reno beranjak dari duduknya, ia pergi memutari rumah kediaman Sanjaya tersebut yang notabenya cukup besar.


Gruk... Gruk....


Reno mendengar suara aneh dari belakang rumah Elisa. Pria itu bergegas menghampirinya.


Gruk... Gruk....


Suara tersebut semakin terdengar, akan tetapi Reno bingung karena tidak ada sosok apa pun di sana.


Gruk... Gruk....


Reno kembali mendengarnya, kali ini pagar gaib juga bersinar. Pria itu menyadari kalau sosok tersebut masih dibalik dinding pagar rumah, berusaha untuk masuk.


Reno melompat ke atas pagar, ia mengernyitkan dahi ketika melihat seekor hewan sedang berusaha menerobos masuk kedalam pagar gaib.


"Astaga! Babi ngepet!" seru Reno.


Sontak saja si Babi melirikkan matanya ke atas, ia sepertinya terkejut ketika melihat Reno sedang berdiri di atas pagar sambil menatapnya.


Babi tersebut langsung lari tunggang langgang karena ketahuan oleh Reno.


"Woi! jangan lari!" teriak Reno yang langsung melompat dari pagar dan mengejarnya.


Terjadilah kejar-kejaran antara Babi ngepet dan Reno, lari Babi itu sangat cepat membuat Reno kesulitan untuk menangkapnya.


"Babi ngepet!" teriak Reno lantang sambil mengejar Babi tersebut.


Si Babi semakin ketakutan, ia lari tunggang langgang dengan kecepatan penuh. Warga yang mendengar teriakan Reno jelas saja langsung keluar dari rumah masing-masing.


"Babi Ngepet!" teriak Reno lagi.


Sayangnya Babi ngepet tersebut tiba-tiba menghilang, mereka pun kehilangan jejaknya.


Reno terengah-engah karena sudah berlari sangat jauh mengejar Babi ngepet tersebut bersama dengan para warga.


"Sialan, jaman modern seperti ini masih ada saja yang memelihara kaya gitu!" celetuk salah satu warga.


"Biasanya itu pemalas yang ingin kaya secara cepat!" timpal warga lainnya.


Reno hanya mendengarkan para warga saling beradu argumen, ia tiba-tiba teringat dengan Elisa.


"Elisa!" gumam Reno yang langsung berlari ke rumah Elisa.


Pria itu berharap agar Babi Ngepet tersebut bukanlah sebuah pengalihan, karena jika sampai ada yang masuk ke kediaman Sanjaya, Reno akan sangat menyesal karena mudah di bodohi.


Sementara itu di kamar Elisa, terlihat seorang pria dengan mengenakan jubah serba hitam masuk kedalam sana.


Pria itu mengeluarkan sebuah sapu tangan yang sudah di beri obat tidur dan perlahan mendekati Elisa yang masih tertidur lelap.


Ketika pria itu sudah dekat dengan Elisa dan akan membungkamnya, tiba-tiba saja Wowo muncul di hadapannya.


"Setan, eh setan!" pria itu terkejut sambil terjatuh di lantai.


Sontak saja Elisa mendengarnya, ia mengucek matanya, ketika melihat pria itu dan ada Wowo di sana Elisa berteriak.


"Genderuwo maling!" teriak Elisa reflek.


"Eh... Loh, Non Elisa ini aku," tegur Wowo tidak berdaya.


"Aduh maaf, maling....!" teriak Elisa lagi.


"Maling eh Maling, aku bukan maling... eh...." pria itu ternyata latah sehingga menirukan perkataan Elisa.


Elisa mengernyitkan dahi, ia beranjak dari ranjang. "Wowo bantu aku tangkap dia!"


"Baik Non!"


Elisa dan Wowo bekerjasama untuk menangkap pria tersebut. Namun, pria itu tiba-tiba berubah menjadi seekor kelelawar dan bergegas pergi dari kamar Elisa.


Wowo dan wanita itu terkejut, karena mereka baru pertama kali ini melihat seseorang yang bisa berubah wujud menjadi hewan.


"Elisa kamu tidak apa-apa?!" seru Reno dari luar kamar dengan napas terengah-engah.


Wowo menghilang dari sana berusaha mengejar sosok tersebut, sementara Elisa bergegas membuka pintu kamarnya.


Terlihat Reno dengan tubuh bercucuran keringat dan napas yang tersengal-sengal, keluarga Elisa juga datang karena Reno tadi berteriak keras.


"Ada apa ini Ren?" tanya Herman penasaran.


"Sayang ada apa?" tanya Sulastri sambil memeluk anaknya.


"Tadi ada maling Bu," jawab Elisa santai.


"Maling? Kok bisa ada maling masuk ke kamar kamu?" tanya Herman bingung, karena di depan ada dua satpam yang berjaga bersama dengan dua bawahan Pak Sunardi.


Elisa kemudian menceritakan kejadian tersebut, jika yang masuk kedalam kamarnya bisa berubah menjadi seekor kelelawar, jelas saja mereka semua terkejut termasuk Reno.


"Sial, jadi tadi hanya pengalihan!" celetuk Reno tiba-tiba.


"Apa maksud kamu Ren?" tanya Elisa memastikan.


"Aku tadi mengejar seekor Babi yang ku kira Babi ngepet, ternyata itu hanya pengalihan, pantas saja dia cepat sekali menghilang!" gerutu Reno kesal.


Herman dan yang lainnya tercengang, ternyata sesuai dengan perkataan Pak Sunardi kalau anaknya sedang ada yang mengincar.


Pria paruh baya itu kini percaya kalau perkataan Pak Sunardi benar adanya, ia mau tidak mau harus memperketat penjagaan rumahnya.