Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Hutan Kaliwungu



Ke esokan harinya Reno dan Pak Sulaiman pergi ke hutan Kaliwungu mengendarai motor butut yang biasa digunakan oleh Reno.


Hutan Kaliwungu jaraknya cukup dekat dengan Hutan kota Senja, kedua Hutan tersebut sebenarnya hanya dibatasi sebuah Danau yang memisahkan dua Hutan tersebut. Jika ingin kesana harus memutar terlebih dahulu mencari perahu, butuh waktu satu jam untuk sampai di sana.


Hutan Kaliwungu memang berada ditengah-tengah Danau, jarang ada orang yang berani datang ke sana, karena konon katanya hutan tersebut sangatlah angker.


Reno dan Pak Sulaiman sudah mulai berputar untuk mencari perahu yang akan mereka gunakan menyeberangi Danau.


Uhuk... Uhuk....


Terdengar suara batuk Pak Sulaiman yang berboncengan dengan Reno. Pria sepuh itu menutup mulutnya dengan tangan, darah segar tampak keluar dari mulutnya membasahi telapak tangannya.


Pak Sulaiman menghela napas panjang, ia bergegas membersihkan tangannya berharap agar Reno tidak mengetahui hal tersebut.


Pria sepuh yang telah merawat Reno selama beberapa bulan belakangan tersebut memang sebenarnya sudah sakit-sakitan. Namun, ia menyembunyikannya dari Reno.


Mereka sampai di perahu yang akan membawa kedua orang tersebut ke hutan Kaliwungu.


"Pak, wajah Bapak pucat sekali, apa Bapak sakit?" tanya Reno memastikan.


Pak Sulaiman tersenyum. "Aku tidak apa-apa, hanya semalam tidak bisa tidur saja, kamu tidak perlu khawatir."


Reno menghela napas. "Kondisi tubuh Pak Sulaiman sudah tidak muda lagi, jangan sering-sering begadang, aku kan sudah pernah bilang sama Bapak."


"Iya, iya, Bapak minta maaf," jawabnya sambil tersenyum menahan sakit yang dirasakannya.


Reno dengan penuh perhatian memijat bahu pria sepuh yang sudah dianggapnya sebagai orang tuanya itu.


Pak Sulaiman merasa bersyukur bisa bertemu dengan Reno, walaupun awalnya ia ragu kalau pemuda tersebut bisa mewarisi kekuatannya, tapi sekarang pria sepuh tersebut sangat yakin kalau Reno sangat layak mendapatkan kekuatannya.


Perahu yang membawa mereka akhirnya sampai dihutan Kaliwungu setelah satu jam perjalanan.


Reno dan Pak Sulaiman membayar ongkos kemudian bergegas turun dari perahu.


Baru saja turun dari perahu, bulu kuduk Reno langsung merinding, padahal biasanya ia tidak seperti itu walaupun banyak hantu didekatnya.


"Pak, energi spiritual ini benar-benar mengerikan," ucapnya sambil menyapu pandangannya.


Terlihat banyak sosok hantu yang sedang mengawasi mereka berdua, dari hantu wanita, pria dan berbagai hantu dengan rupa yang berbeda-beda.


Reno yang tahu kalau itu sebuah jimat, ia memakainya tanpa ragu. Mereka berdua kemudian berjalan masuk kedalam hutan mengabaikan sosok-sosok hantu yang sedang mengawasi mereka.


"Pak, sebenarnya kita mau apa datang kemari?" tanya Reno memastikan.


"Kamu ikut saja, nanti juga melihatnya sendiri," jawab Pak Sulaiman datar.


Reno menghela napas panjang, mau tidak mau ia hanya bisa mengikut pria sepuh yang sudah menjadi keluarganya itu.


Pemuda tersebut tidak bisa mengalihkan pandangannya dari para hantu yang terus mengikuti mereka.


"Tolong aku... lepaskan aku dari sini..."


Terdengar suara minta tolong dari depan, membuat Reno sedikit terusik. Namun, Pak Sulaiman mencekal lengannya ketika Reno akan melihat siapa yang meminta tolong tersebut.


"Tetaplah bersamaku, abaikan apa yang kamu dengar!" perintah Pak Sulaiman tegas.


"Tapi Pak...."


"Dengarkan nasihatku, kalau kamu ingin keluar dari sini nantinya!" tegur Pak Sulaiman sebelum Reno selesai bicara.


Reno akhirnya menurut melihat wajah serius Pak Sulaiman, mau bagaimanapun perkataan pria sepuh tersebut tidak pernah salah.


Mereka berdua terus berjalan masuk kedalam hutan. Reno kemudian dikejutkan dengan roh yang sedang di ikat menggunakan rantai dan disiksa dengan begitu kasar di tempat tersebut.


Para roh itu meminta pertolongan, semuanya menangis histeria mendapatkan siksaan dari sosok Jin hitam dengan lidah menjulur keluar dari mulut mereka.


"Pak, sebenarnya ini tempat apa?" tanya Reno yang mulai tidak nyaman dengan pemandangan tersebut.


"Mereka dulunya para pemuja tempat ini, beginilah nasib mereka ketika sudah mencapai kesepakatan akhir, kebahagian di dunia tidak akan cukup membuat mereka senang sesudahnya, mereka akan terus seperti ini hingga kelak saat kiamat tiba," jawabnya sambil terus berjalan.


Reno mengangguk mengerti, walaupun ia merasa kasihan dengan para roh yang di siksa tersebut. Namun, semua itu karena kesalahan mereka sendiri ketika hidup di dunia.


Karena menginginkan Harta yang melimpah untuk hidup mewah di dunia, sekarang mereka semua harus menebusnya dengan penderitaan.


Kebahagian sejati sebenarnya akan mereka capai, saat mampu melewati pahitnya kehidupan dengan jujur, walaupun penuh tekanan dan penderitaan tapi kelak akan tiba waktunya ketika kita akan mendapatkan kebahagian.


Sang Pencipta tidak pernah tidur, mereka yang memiliki keyakinan akan hal tersebut, kemungkinan tidak akan terjerumus dalam hal-hal yang menjerumuskan mereka dalam kegelapan.