Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Munculnya Masa Lalu Elisa



Kekuatan energi spiritual Reno mungkin besar, akan tetapi lawannya dua orang langsung, apa lagi mereka berdua sudah berpengalaman menggunakan energi spiritual lama, berbeda dengan Reno yang baru satu tahun belakangan menggunakan energi Spiritualnya.


Energi Spiritual Reno tertekan, pria itu berusaha sangat keras untuk menahan serangan tersebut.


Aris bingung dengan apa yang dilakukan mereka yang seolah sedang bermain-main seperti anak kecil beradu kekuatan.


Dimata orang awam memang akan terlihat seperti itu, luapan energi spiritual mereka tidak akan terlihat sama sekali oleh mata biasa.


Reno semakin tertekan dengan serangan dua energi spiritual milik Wulandari dan Sunardi, kedua orang tersebut menyunggingkan senyum, karena merasa akan menang melawan Reno. Namun, saat Reno mulai tertekan, Elisa tidak tinggal diam, ia membantu pria yang sudah menjadi suaminya tersebut untuk mengalahkan Sunardi dan Wulandari.


"Elisa...."


Wanita itu tersenyum. "Kamu lupa kalau profesi kita sama?" ucapnya sambil mengeluarkan energi spiritualnya.


Reno mengangguk sambil tersenyum, energi spiritual kedua pasangan tersebut bersatu. Reno yang tadinya tertekan mulai menyerang balik.


Sunardi dan Wulandari gantian tertekan, mengingat energi spiritual pasangan tersebut lebih kuat dari mereka.


Wung


Duar


Energi spiritual Reno dan Elisa menyerang keduanya hingga terjadi ledakan. Sunardi dan Wulandari terhempas akibat ledakan tersebut.


Terlihat mereka berdua memuntahkan seteguk darah karena efek pertarungan tersebut.


Para Jin bawahan Sunardi seketika menghilang. Momon dan saudari-saudarinya reflek menyerang Sunardi dan Wulandari.


Mereka berdua berteriak-teriak seperti orang gila saja ketika para hantu tersebut mengganggu mental mereka.


Orang tua Elisa yang mendengar ledakan barusan, mereka berdua naik ke atas, mereka berdua terkejut ketika melihat Pak Sunardi sedang berteriak-teriak seperti orang gila bersama dengan seorang wanita.


"Ayah, Ibu!" Elisa langsung menghambur ke pelukan kedua orang tuanya.


"Ada apa ini Elisa? Kenapa dengan Pak Sunardi?" tanya Herman bingung.


"Ayah, Pak Sunardi sebenarnya yang mengincar ku selama ini, keributan ini juga di sebabkan mereka berdua," jelas Elisa.


"Apa!" kedua orang tua Elisa jelas saja terkejut.


Reno kemudian menjelaskan semua pokok masalahnya dengan detail, agar kedua orang tua Elisa tidak meragukan perkataan anaknya itu.


Setelah mendengarkan semua penjelasan Reno. Herman jelas saja sangat geram, ternyata selama ini telah dibohongi oleh Pak Sunardi.


Pria itu menelepon polisi untuk segera menangkap dua bayangan kerusuhan tersebut, dengan tuntunan penyerangan berencana.


Semua bawahan Pak Sunardi dan Wulandari yang tersisa juga akhirnya di tangkap bersama dua pemimpinnya tersebut.


"Akhirnya masalah ini selesai juga, kita sekarang bisa menjalani hidup dengan damai," ucap Reno.


"Kamu benar, sekarang kita bisa fokus buat anak," goda Elisa.


Reno mengernyitkan dahi, ia menatap Istrinya tersebut sambil mencubit hidungnya dengan sangat gemas. "Kamu ini yah...."


Herman dan Sulastri tersenyum melihat anaknya yang terlihat bahagia.


Aris hanya bisa menghela napas, ia juga ingin buru-buru memiliki pasangan agar bisa bermesraan seperti adiknya tersebut.


...***...


Ke esokan harinya....


Reno dan Elisa belum bangun, mereka berdua masih terlelap dikamar sambil berpelukan.


Tok... Tok....


"Reno, Elisa.... ada teman kalian datang!" seru Sulastri dari balik pintu.


Mereka berdua menggeliat ketika mendengar seruan sang Ibu. Reno membuka matanya terlebih dahulu.


Reno yang sudah bangun menyahut. "Iya Bu... ada apa?" jawabnya dengan suara sedikit berat.


"Ada teman kalian, dia sudah menunggu di ruang tamu!" seru Sulastri lagi.


"Iya Bu, bentar lagi kami turun!" jawab Reno.


Sulastri yang sudah mendengar jawaban Reno, wanita paruh baya itu pergi dari depan kamar anaknya itu.


Sementara itu didalam kamar, Reno melihat Elisa yang semakin memeluknya. Pria itu tahu kalau Istrinya juga mendengar seruan Ibunya tapi masih terus berpura-pura tidur.


"Sayang, ayo bangun dulu," ucap pria itu lembut.


"Gak mau, pengantin baru itu harusnya bangun siang," jawabnya santai.


"Apaan sih kamu, ayo bangun dulu, temui teman kamu itu...." Reno memapah Istrinya untuk bangun.


Wanita itu tetap saja berpura-pura tidur, bahkan memeluk Reno dengan erat, pria itu menghela napas panjang, karena Elisa terlalu manja.


Hingga akhirnya Reno memaksanya bangun dan menggendongnya masuk kedalam kamar mandi, menyalakan shower hingga memaksa Elisa terbangun.


"Ih... apaan sih, dingin sayang," rengek Elisa sambil beringsut dan turun dari gendongan Reno.


"Makanya bangun, ayo mandi terus turun ke bawah," ucap pria yangs sudah menjadi seorang suami itu dengan lembut.


Elisa tersenyum simpul, mereka berdua mandi bersama sebelum menemui tamu mereka.


...***...


Reno dan Elisa turun dari kamar mereka setelah selesai mandi dan berpakaian, terdengar dari tangga suara obrolan seseorang dengan kedua orang tua Elisa.


Mereka berdua langsung ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang bertamu pagi-pagi seperti itu.


"Sayang, nanti siang kita jalan-jalan ke Mall yah?" ajak Elisa manja sambil berjalan turun dari tangga.


"Terserah kamu saja, asalkan bisa membuat kamu senang," jawab Reno sambil mengulas sebuah senyum.


Elisa merangkul erat lengan suaminya itu, ia merasa senang karena Reno selalu menuruti kemauannya.


Saat mereka sampai di ruang tamu, mata Elisa membelalak lebar ketika melihat siapa yang datang, rangkulannya juga reflek terlepas dari tangan Reno.


Tentu saja Reno sedikit terusik, melihat ekspresi Istrinya yang tampak terkejut, ia kemudian menoleh ke arah tamu yang datang.


Terlihat seorang pria tampan dengan rambut di cat pirang sedang tersenyum ke arah mereka berdua.


"Lama tidak bertemu Elisa, aku tidak menyangka kalau kamu akan menikah terlebih dahulu," ucap Pria tampan tersebut ramah.


Herman dan Sulastri yang sedang duduk menemani pria tersebut berdiri. "Reno, Elisa ayo duduk, Ayah dan Ibu pamit dulu mau pergi keluar," ucap Pria paruh baya itu sambil membawa istrinya.


Reno menganggukkan kepalanya sambil tersenyum mengantar kepergian kedua orang tua Elisa. Sementara itu Elisa masih tertegun melihat sosok pria tersebut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Reno lembut.


"Eh... ti-tidak apa-apa," jawabnya gugup.


"Ayo duduk, gak enak sama temanmu," ajak Reno lembut.


Elisa menganggukkan kepalanya, mereka berdua kemudian duduk dihadapan tamu pria tersebut.


Tampak Elisa yang hanya menundukkan kepalanya, tidak mau melihat wajah pria tersebut, seperti ada sesuatu yang menakutkan diwajahnya.


Terdengar pria itu menghela napas panjang. "Sebelumnya aku ucapkan selamat atas pernikahanmu, cuma sayang saja ternyata kamu begitu cepat melupakan aku," ucapnya lembut.


Elisa mendongak menatap pria itu. "Raka, kita sudah tidak memiliki hubungan, kamu tiba-tiba menghilang begitu saja, bahkan ketika aku koma kau tidak menjenguk aku sekalipun, tolong jangan bahas masa lalu kita lagi, aku sudah melupakan itu," jawabnya tidak berdaya.


"Elisa, kamu tahu aku sedang belajar di luar Negeri, mana bisa aku sembarangan pulang? Aku juga ingin pulang saat mendengar kamu koma, tapi aku tidak bisa meninggalkan studiku begitu saja, bukankah kamu pernah bilang padaku agar aku menjadi orang besar?" ucap Pria itu penuh dengan penekanan.


Elisa menggigit bibir bawahnya, ia menoleh ke arah Suaminya, terlihat Reno yang hanya diam dengan wajah muram, wanita itu benar-benar bingung harus berbuat apa, padahal ia baru saja merasakan kebahagiaan dengan Reno.