Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Parade Hantu?



Reno dengan hati-hati masuk kedalam gedung tersebut, tampak di sana juga banyak orang yang bergeletakan disepanjang jalan saat Reno lewat.


Pria itu sangat yakin kalau mereka orang-orang yang akan melarikan diri, akan tetapi tidak bisa, keburu ditangkap sosok Jin pemakan jiwa tersebut.


"Sebenarnya dari aman Jin ini datang? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?" tanya Reno sambil berjalan mencari lokasi pasti Jin tersebut.


"Tuan, Jin pemakan jiwa biasanya akan mengikuti orang yang memiliki ambisi besar tidak tercapai, ukuran awalan dia sebenarnya hanya sebesar Ibu jari kaki manusia. Namun, ketika dia merasuki tubuh seseorang yang memiliki emosi tidak terkontrol, biasanya akan mudah baginya untuk mengendalikan manusia tersebut, karena itulah hawa keberadaannya sangat tipis," jawab Wowo.


Reno mengangguk mengerti, pria itu kini tahu kenapa energi spiritual sosok tersebut tidak terdeteksi olehnya.


Saat mereka sedang berjalan menuju Lift, tiba-tiba beberapa sosok hantu pria dengan wajah rusak membawa beberapa senjata berupa perkakas muncul dihadapan mereka.


"Tuan Awas!" Wowo menarik Reno ketika sesosok Hantu melesat mengayunkan kapak.


Duak


Kapak tersebut menghantam lantai dengan sangat keras. Reno yang tersungkur dilantai karena ditarik Wowo ia segera bangkit kembali.


Reno mengambil jarum-jarum senjatanya dan melemparkannya ke arah para hantu tersebut. Pria itu merapatkan mantra kemudian benang-benang energi spiritual muncul.


Reno menarik benang-benang tersebut hingga mengikat seluruh hantu itu menjadi satu.


Kraaar!


Hantu tersebut berteriak histeris ketika mereka di ikat menjadi satu oleh benang-benang energi spiritual Reno.


"Wowo, Giaju sekarang!" teriak Reno memberikan perintah.


Kedua bawahan Reno tersebut langsung mengangguk mengerti, mereka melesat ke arah hantu yang sudah terikat benang energi spiritual Reno.


"Mampus kau!" teriak Wowo mengayunkan cakarnya.


Giaju juga merubah tangannya menjadi tombak dan langsung menyerang mereka bersamaan dengan Wowo.


Kraaar!


Bsst


Mereka langsung menghilang seketika menjadi asap hitam ketika terkena serangan Wowo dan Giaju.


Reno menarik benang-benang energi spiritualnya, jarum-jarum kembali ke tangan pria tersebut lalu ia menaruhnya kembali kedalam tas.


"Kita lanjut jalan," ucap Reno sambil masuk kedalam Lift.


Wowo dan Giaju mengangguk, mereka berdua dengan setia menemani tuannya itu.


Saat didalam Lift tiba-tiba saja muncul hantu wanita dengan mulut lebar dari atas akan menarik Reno. Namun, Wowo menyadarinya, ia mengulurkan tangannya.


Kraaar!


"Aduh, Sakit G*blok!" pekik Wowo ketika tangannya masuk kedalam mulut lebar hantu wanita tersebut.


Giaju meraih rambut hantu wanita tersebut dan menariknya, hingga jatuh kebawah. Mereka berdua menginjak-injak hantu wanita itu dengan brutal.


Reno yang melihat itu tertegun, ia merasa hantu wanita yang seharusnya menakutkan itu, tidak ada harga dirinya sama sekali dihadapan mereka berdua.


Bsstt


Hantu wanita itu langsung menghilang jadi asap, setelah di injak-injak Wowo dan Giaju.


"Tampaknya para hantu mulai berkumpul ditempat ini," ucap Reno.


"Wajar sajalah tuan, energi spiritual hitam ini pasti menarik semua hantu yang ada di wilayah ini," jawab Wowo sambil mengusap-usap tangannya yang digigit hantu wanita barusan.


"Kamu benar juga, kita harus lebih hati-hati lagi," ucap Reno serius.


Kedua bawahan Reno mengangguk mengerti, mereka berdua tentu akan selalu waspada untuk melindungi tuan mereka.


Lift pun akhirnya sampai ditempat tujuan, dilantai paling atas, dimana Raka yang di rasuki jin pemakan Jiwa tersebut berada.


Baru saja mereka melangkah keluar dari Lift, terlihat ratusan sosok hantu dari berbagai jenis, mereka seolah sedang menunggu Reno dan kedua bawahannya itu.


"Tuan ini...." Wowo seketika tertegun melihat banyaknya hantu di sana.


"Wowo awas!" teriak Reno.


Wowo melirik ke bawah, ia menggertakkan giginya ketika melihat suster ngesot menggigit kakinya.


"Bedebah kau suster pengkor!" geram Wowo sambil menendang sosok hantu wanita yang tidak bisa berjalan itu.


Aaah!


Suster ngesot terhempas puluhan meter hingga menabrak dinding.


Wowo benar-benar kesal, karena sudah dua kali ia tergigit oleh hantu yang tiba-tiba muncul, sosok tersebut sangat marah.


"B*jingan kalian semua!" seru Wowo sambil berlari ke arah mereka semua mengamuk, mengajar para hantu tanpa ragu.


Reno dan Giaju saling menatap, mereka berdua menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Wowo yang seperti itu.


"Giaju, kau tetap di dekatku!" perintah Reno.


Giaju menganggukkan kepalanya. Reno langsung mengeluarkan jarum-jarumnya, ia melemparkan jarum-jarum tersebut ke para Hantu.


Clap


Clap


Sepuluh jarum menancap ke para hantu, Reno langsung mengeluarkan benang energi Spiritual lalu menarik mereka.


Giaju yang menjadi eksekutor untuk melenyapkan para hantu tersebut dengan serangan-serangannya.


Pertarungan mereka sangat sengit, Reno juga banyak mengeluarkan energi spiritual nya, akan tetapi hantu-hantu tersebut tetap saja masih banyak.


Jumlah mereka bukannya berkurang malah semakin banyak, membuat Reno dan dua bawahannya itu kewalahan.


Duak


Brug


Reno terhempas ke belakang ketika mendapatkan tendangan dari hantu berotot sixpack.


"Tuan!" Wowo segera melesat ke arah Reno, begitu juga Giaju.


Tampak kedua bawahan Reno juga sudah kewalahan, karena mereka sedari tadi hanya bertarung bertiga saja, sementara lawannya tak terhingga.


"Kalian beristirahatlah dulu, aku tahu kalian sudah lelah," ucap Reno sambil beranjak dari jatuhnya.


"Tidak tuan, kami tidak akan meninggalkan anda sendirian," jawab Wowo mantap.


Wowo tahu kenapa Reno tidak mengeluarkan Ifrit, karena sosok Jin tersebut senjata terakhirnya untuk melawan Jin pemakan Jiwa.


"Hihihi...." Tiba-tiba terdengar suara hantu wanita terkikik keras.


Reno dan dua bawahannya mendongak, terlihat Kuntilanak merah juga muncul di sana, ditambah ada pria muka rata, Nenek gayung dan berbagai hantu yang terkenal di seluruh tanah Java.


"Astaga, apa ini tempat parade Hantu?" gumam Reno tidak percaya.


Di lorong gedung lantai terakhir itu di penuhi dengan hantu yang mengepung Reno dan bawahannya dari depan dan belakang.


Mereka semua mengincar Reno, karena hanya pria itu sosok manusia satu-satunya yang berada di sana.


Wowo dan Giaju menguatkan tekadnya, mereka sudah memutuskan akan bertarung sampai akhir, walaupun harus lenyap untuk melindungi tuan mereka.


Reno akan merapal mantra pemanggil Ifrit, mau tidak mau ia harus mengeluarkan bawahan terkuatnya tersebut, karena lawannya bukanlah satu dua sosok hantu. Namun, tiba-tiba muncul gerombolan hantu wanita yang merupakan saudara-saudari dari Momon, hantu pelindung Elisa.


"Tombak penyucian!" teriak Elisa sambil melemparkan senjatanya.


Swuzz


Clap


Bsstt


Bsstt


Hantu yang terkena tombak penyucian semuanya langsung lenyap menjadi asap. Reno tertegun melihat Istrinya datang menolong dirinya, pria itu menatapnya dengan bingung, kenapa ia datang membantunya, padahal tempat tersebut sangatlah berbahaya.