
Begitu harmonis pemandangan ketika melihat Reno dan Elisa makan bersama, pasalnya Elisa sudah seperti istri Reno, wanita itu begitu perhatian terhadapnya. Bahkan makanan pun ia ambilkan untuk prianya tersebut.
Kedua orang tua Elisa saja sampai terbengong, mereka merasa kalau putrinya seperti kena pelet saja, begitu lembut dihadapan Reno.
Herman dan Istrinya sudah tidak bisa berkata-kata lagi, mereka semakin yakin kalau anaknya gadisnya itu sudah siap menikah.
...***...
Setelah acar sarapan pagi bersama selesai, Elisa mengajak Reno untuk jalan-jalan berdua.
Reno yang ingin terus menjaga Elisa, ia tidak keberatan sama sekali, mereka berdua pun pamitan dengan kedua orang tua Elisa kemudian pergi bersama.
"Kita mau kemana Mba Kunti?" tanya Reno ketika sudah naik motor.
"Wisata Mangrove, aku pengen ke sana, sudah lama tidak pergi jalan ke tempat itu," jawabnya sambil tersenyum simpul.
Reno menghela napas. "Baiklah tuan putri," goda pria itu.
"Ih... apaan sih," Elisa merajuk manja.
Reno tersenyum, ia menyalakan motor bututnya, wanita itu dengan cepat langsung naik dan memeluk erat Reno.
Mereka berdua pun pergi ke hutan Mangrove, karena jaraknya hanya setengah jam perjalanan motor jika cepat. Mereka sampai di sana setelah hampir satu jam, pasalnya motor butut Reno tidak bisa di ajak mengebut.
Mereka sampai di sana ketika hari menjelang siang, suasananya cukup sepi karena bukan Weekend. Namun, pemandangannya cukup indah membuat pikiran mereka rileks.
Elisa menarik tangan Reno setelah turun dari motor, wanita itu mengajak prianya itu ke sana kemari tanpa adanya penolakan sedikit pun.
Reno hari itu seperti boneka, ia menuruti semua kemauan Elisa. Pria itu menyadari kalau melihat wanitanya tersenyum, hatinya terasa begitu hangat.
"Mba Kunti, aku pergi ke WC dulu, kebelet," celetuk Reno tiba-tiba, karena ingin buang hajat.
"Ih... ya sudah sana, nanti keluar di sini bahaya," usir Elisa lembut.
Reno menganggukkan kepalanya, ia bergegas pergi ke WC umum yang ada di sana, tentu pria itu tidak lupa mengeluarkan Wowo untuk menjaga Elisa.
Reno sampai di kamar mandi, ia dengan cepat masuk kemudian menutup pintu. Pria itu menikmati momen terbuangnya kotoran-kotoran dalam perutnya.
Tiba-tiba sebuah asap hitam muncul dan masuk ke tempat Reno yang sedang buang hajat.
Hawa dingin menyeruak ke seluruh tubuh, membuat bulu kuduk merinding.
Sesosok hantu wanita dengan pakaian serba putih, rambut acak-acakan, mata putih polos dan mulut robek muncul dihadapan Reno.
Hantu itu mendekat ke arah Reno. Pria itu yang notabenya dapat melihat sosok mahluk astral menghela napas berat. Namun, karena ia masih harus menuntaskan hajatnya Reno mengabaikan sosok tersebut.
Hantu itu mendekati Reno, wajahnya hanya berjarak satu jengkal saja dengan pria tersebut.
Reno masih mengabaikannya, karena masih ada beberapa butir kotorannya yang belum keluar, ia merem melek mengabaikan sosok hantu tersebut.
Si Hantu terus mendekatkan wajahnya, ia berusaha menggoda Reno agar ketakutan.
Puncaknya ketika hantu itu membuka mulutnya, Reno yang sedang menikmati momen sakralnya mulai merasa terganggu dengan sosok mahluk astral tersebut.
Duak
"Aduh!" pekik hantu tersebut terjungkal ke belakang saat Reno memukulnya pakai gayung.
"Brengsek kau! Tidak tahu apa aku sedang dalam momen indah!" bentak Reno.
"Eh... ternyata benar kamu bisa melihatku! Kalau begitu akan ku cekik kau!" seru hantu tersebut mendekat ke arah Reno.
Bang
Bang
Aduh
Hantu itu meraung kesakitan ketika Reno memukulnya beberapa kali dengan gayung, hingga wajahnya memar.
"Kamu kira cuma kamu yang bisa menyentuh manusia, aku juga bisa menyentuh hantu!" hardik Reno sambil cebok.
Reno mengenakan celananya kembali, baginya pengalaman seperti ini sudah biasa ia dapatkan, tapi karena sebelumnya para hantu tidak mengganggu jadi ia mengabaikannya.
Ini pertama kalinya ia di ganggu hantu dalam kamar mandi, sehingga membuat pria itu sangat marah.
Reno masih memegangi gayung, ia dengan membabi buta memukuli hantu tersebut.
Pletak
Pletak
Pletak
"Ampun, ampun om...." Hantu itu memohon ampunan ke Reno.
"Om... Om... palamu pitak!" Reno tanpa ampun menghajarnya.
Sosok hantu itu akhirnya berubah menjadi asap hitam dan menghilang dari sana, karena tidak kuat lagi mendapatkan siksaan dari Reno.
Pria itu menghela napas, ia menaruh gayung yang sudah pecah ke asalnya sambil keluar dari kamar mandi.
Reno tercengang ketika keluar dari kamar mandi ada beberapa orang yang sedang menunggunya di luar dengan tatapan menyelidik.
Mereka semua mendengar jeritan hantu wanita, karena hari masih siang bolong, orang-orang itu mengira kalau Reno pria mesum.
Reno mengabaikan mereka dan pergi begitu saja, sementara orang-orang di sana masih menunggu, siapa wanita yang telah bersama pria yang keluar dari kamar mandi tersebut.
Beberapa menit menunggu mereka tidak mendapati seorang pun yang keluar dari kamar mandi.
"Sudah kita lihat saja langsung!"
"Benar, daripada penasaran, kalau cantik aku juga mau."
Mereka sepakat membuka kamar mandi tersebut. Namun, semuanya tertegun ketika tidak melihat siapapun didalam sana.
"Loh... gak ada siapa-siapa didalam!"
"Masa sih?"
Mereka memeriksa kamar mandi tersebut dan benar saja tidak ada siapa-siapa didalam, semua orang kebingungan, mereka melihat ke arah Reno yang sudah menghilang dari pandangan.
Semuanya terheran-heran dan bertanya-tanya kenapa ada suara wanita, tapi tidak ada orangnya.
Sementara itu Reno mencari Elisa yang sedang menunggunya, wanita itu sedang duduk menikmati kelapa muda ditemani Wowo.
"Maaf lama Mba Kunti," tegur Reno.
Elisa tersenyum. "Tidak apa, itu buat kamu, tadi aku memesan sekaligus untuk kamu." Wanita itu menunjuk kelapa muda yang ada di sampingnya.
Reno dengan senang hati mengambilnya, ia kemudian duduk bersama dengan Elisa sambil menikmati segarnya kelapa muda.
Elisa seperti biasa dengan manjanya menyenderkan kepala di bahu Reno. Ia melirik wajah Reno yang sedang menikmati kelapa muda.
"Ren, Ayah dan Ibu sudah setuju kita menikah, bagaimana tanggapan kamu?" tanya wanita itu lembut.
Reno menoleh ke arah Elisa, ia menghela napas. "Apa Mba Kunti yakin mau menikah dengan pria seperti aku, tidak berpendidikan, tidak memiliki orang tua dan tidak memiliki apa-apa, kamu yakin tidak akan kecewa denganku nantinya?"
"Hais, kamu ini bicara apa sih, aku sudah tahu semuanya tentang kamu, jika aku mau menolak kamu itu dari awal. Buktinya sekarang aku masih ada di sampingmu," jawabnya yakin.
Reno tersenyum. "Ya sudah, aku ikut saja apa kata Mba Kunti."
"Eh... kamu serius Ren?" Elisa langsung duduk dengan tegap lalu menatap Reno dengan seksama.
Reno menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Tentu saja Elisa sangat senang, wanita itu langsung memeluk Reno dengan erat.