
Meysia tidak perduli semua orang berkata apa, baginya kebahagiaan dirinya sendiri lebih berarti.
Jika ia berpaku kepada ucapan orang-orang yang ada dirinya hanya akan terus membatasi hidupnya. Lebih baik fokus dengan kehidupannya sendiri daripada memikirkan perkataan orang lain yang hanya bisa nyinyir sana-sini.
"Astaga!" Reno tersentak kaget ketika melihat hantu yang semalam menemaninya.
"Kamu kenapa Ren?" tanya Meysia bingung.
Reno menghela napas. "Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kaget saja melihat makanan yang kamu bawa," ucapnya berbohong sambil menatap tajam hantu yang ada di sana.
"Aku yang masak sendiri loh, ayo kita makan," ajak Meysia dengan lembut.
Reno menganggukkan kepalanya, ia mendekat lalu duduk dihadapan Meysia.
Wanita itu mengambilkan porsi makanan untuk Reno dengan penuh perhatian. Ia benar-benar tidak takut sama sekali kalau pria di hadapannya akan berbuat sesuatu.
"Ayo makan Ren!" perintahnya lembut.
Reno mengangguk, ia mengambil sendok dan mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya, mata pria itu langsung berbinar ketika merasakan makanan itu begitu terasa enak di mulutnya.
"Bagaimana rasanya Ren?" tanya wanita itu harap-harap cemas.
"Enak, bahkan enak sekali, aku tidak menyangka kalau kamu juga bisa memasak," ucapnya sambil melahap makanan tersebut dengan rakus.
"Syukurlah kalau kamu suka, aku bisa membuatkan mu setiap hari," ujarnya yakin.
"Boleh, kapan lagi aku bisa makan-makanan gratis seperti ini," jawabnya dengan mulut penuh dengan makanan.
Hantu yang sedang berada di pojokan melihat interaksi keduanya, ia tersenyum simpul. Sosok tersebut seolah sangat senang melihat anaknya yang begitu bahagia dengan Reno.
Meysia sebenarnya daritadi merasa merinding, karena ia tahu kalau kontrakan disebelah tempat Reno tinggal merupakan kontrakan angker.
"Ren, kamu tidak takut tinggal di sini? Kalau kamu mau aku bisa meminta ke Ayah agar kamu pindah ke kontrakan lainnya," ucapnya perhatian.
"Tidak perlu, aku sudah terbiasa hidup ditempat terpencil, bagiku tinggal dimanapun sama saja," jawabnya santai.
Meysia menghela napas. "Maaf yah Ren, dari awal aku tidak berbicara jujur padamu, kalau sebenarnya di sebelah kontrakan ini pernah ada yang bunuh diri, karena itulah kamar tersebut sekarang kosong terus."
"Aku sudah tahu itu," jawabnya enteng.
"Eh... kamu sudah tahu? Maksudnya?" tanya Meysia terkejut.
Reno mengulas sebuah senyum. "Aku dari awal sudah bilang padamu kalau aku pengusir setan, bukan?"
Meysia membelalakkan matanya terkejut, ia baru ingat ketika pertama kali bertemu dengan Reno pria tersebut memang mengatakan kau seorang pengusir Setan.
Wanita itu menatap Reno lekat-lekat, ia sekarang tahu kenapa pria yang sedang bersamanya itu seolah tidak merasakan takut sama sekali dengan sesuatu yang namanya hantu.
"Ren, jadi kamu bisa melihat hantu?" tanya Meysia memastikan.
Reno menganggukkan kepalanya lirih sambil makan.
Meysia menelan ludah. "Apa di sini ada hantu juga?"
Reno mengangguk lagi. "Tuh... dibelakangmu, daritadi dia di sana."
Argh!
Pekik Meysia yang langsung memeluk Reno, sehingga pria itu yang sedang makan rendang daging, menelannya bulat-bulat.
Reno gelagapan, bukan hanya rendang dagingnya yang masih di tenggorokan, tapi lehernya juga tercekik oleh pelukan Meysia yang begitu erat.
"A-Air...." ucap Reno mencari air minum.
Jelas saja wanita itu ketakutan, karena sedari tadi ia memang sudah merasa merinding.
Hantu yang ada di pojokan terkikik geli melihat anaknya ketakutan, Reno semakin jengkel dengannya, karena bukannya menghilang dari sana malah asyik menertawakan keduanya.
Reno akhirnya berhasil meraih air minum di gelas, ia dengan cepat meminumnya. Pria itu bernapas lega saat rendang dagingnya masuk kedalam perut. Walaupun masih tercekik oleh Meysia.
Krieet....
Tiba-tiba pintu terbuka, Reno reflek menoleh, terlihat Elisa yang membawakan rantang, sama halnya seperti Meysia.
"Reno! Apa yang kamu lakukan!" seru Elisa.
Meysia yang tadi terpejam membuka matanya, ia menoleh ke arah pintu. "Kak Elisa!".
Mata Elisa berkaca-kaca, rantang yang di bawanya ia jatuhkan dan bergegas pergi dari sana. Sontak saja Reno terkejut, ia bergegas melepaskan pelukan Meysia lalu mengejar Elisa.
Meysia tertegun ditempatnya, ia tidak tahu apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba ada Elisa datang ke kontrakan Reno.
"Mba Kunti, tunggu!" seru Reno mengejar Elisa.
Wanita itu sambil menghapus air matanya bergegas pergi dari kontrakan Reno, akan tetapi pria tersebut dengan cepat mengejarnya dan meraih lengannya.
"Mba Kunti, aku bisa jelaskan semua ini," ucap Reno sambil menggenggam erat lengan Elisa.
"Jelasin apa? Sudah jelas kalian berduaan di kontrakan sambil pelukan! Apa yang perlu di jelaskan?!" raungnya marah dengan air mata berlinangan.
"Semuanya tidak seperti yang kamu lihat, Meysia tadi sedang ketakutan," jawabnya tidak berdaya.
"Tapi apa perlu berpelukan seperti itu?!" suara Elisa meninggi, membuat semua penghuni kontrakan yang belum berangkat kerja mendengarnya.
Semua orang melihat pertengkaran keduanya itu, mereka jelas saja penasaran dengan keributan di pagi hari tersebut.
Meysia yang mengejar mereka berdua juga menyaksikan hal tersebut, wanita itu bertanya-tanya kenapa Kakaknya sampai marah seperti itu, padahal kemarin ia bilang hanya teman Reno.
"Mba Kunti, lebih baik kita ngobrol didalam saja yah, malu di lihat banyak orang," ucap Reno lembut.
"Malu? Jadi kamu malu berduaan denganku, sementara sama Meysia tidak?!" serunya membalikkan fakta.
Elisa berbicara terus menerus menyudutkan Reno, ia membentak, menghardik, mengatakan semua unek-uneknya.
Reno hanya tertegun mendengarkan wanita itu yang sedang marah, pria itu tidak berbicara sepatah katapun.
"Kalau kamu malu sama aku, itu sudah jelas jika kamu hanya menganggapku mainan saja, kamu mem.... mmmmm"
Mata Elisa membelalak lebar ketika Reno tiba-tiba memagut bibirnya, wanita itu sontak saja terkejut.
Meysia yang melihat hal itu juga terkejut, begitu juga mereka para penghuni kontrakan yang menonton. Semuanya tidak menyangka kalau Reno akan melakukan hal tersebut.
Elisa tersadar, ia sedikit mendorong Reno menjauh lalu menutup mulutnya tidak percaya sambil menatap pria dihadapannya tersebut.
"Sudah marahnya?" tanya pria itu lembut.
Elisa tidak menjawab pertanyaan Reno, wanita itu masih mencerna apa yang baru saja terjadi, kenapa Reno berani melakukan itu.
Reno menghela napas. "Aku tidak pernah sekali malu mengakui kamu, aku malu karena orang lain akan melihat hal buruk tentang kita, sekarang kita masuk yah, bicara baik-baik," ucapnya lembut seraya menarik Elisa ke kontrakannya.
Elisa tidak menolak sama sekali, ia mengikuti Reno yang menarik lengannya. Melihat Meysia yang tertegun di jalan, Reno juga menariknya, agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.
Semua yang melihat itu terkagum-kagum dengan sikap Reno yang begitu gentle menurut mereka, karena tindakan tersebut sangatlah jarang terjadi.