
Pak Sunardi dan kelompoknya belum tahu jika Elisa sudah dijebol oleh Reno, mereka mengira kalau gadis itu masihlah perawan.
Mereka pun masih menunggu momen dimana Elisa nanti akan melemah, padahal gadis itu sedang mengalaminya sekarang.
Setelah seharian penuh Elisa terbaring di ranjang, gadis itu tiba-tiba bugar kembali ke esokan harinya di saat orang-orang sedang menyiapkan pernikahannya.
Walaupun Reno meminta pernikahan yang sederhana saja, nyatanya Herman dan Sulastri tidak bisa melakukan hal tersebut, pasalnya banyak relasi bisnis mereka yang di undang juga.
Reno sedang membantu orang-orang yang sedang menyiapkan dekorasi di halaman rumah, pria itu tampak sangat bersemangat membantu mereka.
"Mas Reno tidak usah membantu kami, nanti Pak bos marah," ucap asisten Herman yang mengawasi pekerjaan di sana.
"Tidak apa-apa pak, diam terus juga tidak enak," jawab Reno ramah.
Asisten Herman menghela napas. Biasanya calon pengantin cenderung gugup, akan tetapi Reno berbeda, pria itu sangat bersemangat menyambut hari dimana ia akan melepas masa lajangnya.
"Ren, aku cari kemana-mana ternyata kamu ada di sini," tegur Elisa sambil merangkul calon suaminya itu.
"Eh... kamu sudah sembuh?" tanya Reno sedikit terkejut, karena calon istrinya itu tiba-tiba muncul.
Elisa tersenyum, ia berbisik pada Reno. "Sudah dong, apa nanti malam mau lagi?" goda wanita itu.
Reno mengernyitkan dahi sambil melirik Elisa. Wanita itu menaik turunkan alisnya seolah menantang Reno.
Reno menghela napas. "Satu kali saja kamu langsung sakit," balasnya.
"Eh... itukan karena baru pertama kali," elak wanita itu.
Asisten Herman yang mendengar pembicaraan absurd keduanya tersenyum tipis. Hingga akhirnya ia lebih memilih untuk pergi dari sana, tidak mendengarkan keduanya yang sedang dimabuk Asmara.
Elisa mengajak Reno untuk duduk di teras sambil melihat para penata Dekorasi.
"Aku seneng banget, akhirnya kita bakal terus bersama," ucap wanita itu dengan wajah sumringah.
Reno tersenyum. "Aku juga seneng, bisa bersama wanita yang terus menggodaku," jawabnya menggoda.
"Ih... apaan, aku kaya gitu tapi kamu juga suka kan?"
Reno menarik Elisa agar bersender dibahunya, pria itu entah kenapa sangat suka jika Elisa bermanja-manja seperti itu.
Pria itu mengusap puncak kepala Elisa lalu mengecupnya. Elisa sedikit mendongak untuk menatap Reno yang tiba-tiba sangat mesra.
"Kamu tidak sakit kan, Koplak?" goda Elisa.
Reno mengernyitkan dahi. "Kamu masih ingat dengan panggilanku dulu?"
"Hihihi... tentu saja masih ingat, ngomong-ngomong kamu kan punya tanah dan pekarangan di sana? Sekarang bagaimana kabar tanah itu?" tanya Elisa memastikan.
"Entahlah, aku ini bodoh Elisa, tidak bisa mengurus perihal masalah tanah, jadi biarkanlah saja para pejabat rakus itu memakannya," jawab Reno tidak berdaya.
Elisa beringsut, ia menatap calon suaminya dengan tajam. "Tidak bisa gitu dong Ren, itu hak kamu, dan kamu juga selalu ditindas oleh mereka, setidaknya berikan mereka pelajaran."
Reno tersenyum, ia mencubit hidung Elisa dengan gemas. "Kalau aku balas dendam, artinya aku sama saja seperti mereka, tidak memiliki hati layaknya manusia," jawabnya bijaksana.
Elisa menghambur ke pelukan Reno, mereka berdua sedari tadi terus bermesraan, padahal sedang banyak orang di sana, membuat mereka merasa iri.
Penata Dekorasi jomblo yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela napas tidak berdaya.
...***...
Ke esokan harinya, acara pernikahan Reno dan Elisa akan dimulai.
Nampak keduanya sedang di rias dalam kamar Elisa. Reno sedang menunggu giliran sambil duduk tegang di ranjang.
Elisa yang melihat calon suaminya tersebut tampak tegang tersenyum. "Kamu kenapa? Kemarin sangat semangat, sekarang jadi tegang seperti itu?" tanyanya lembut.
"Nona Elisa pakai di tanya, Mas Reno pasti gugup itu," timpal tukang rias.
"Hihihi... dia itu memang aneh, kemarin padahal sangat bersemangat banget, eh... pas banyak orang langsung berubah," ucap Elisa sambil terkikik geli.
"Maklum Non, namanya juga perjaka, apa lagi Mas Reno masih sangat muda," balas tukang rias.
"Kalian bisa diam tidak sih, aku lagi hafalin ijab kobul!" tegur Reno.
Elisa dan tukang Rias hanya tersenyum, mereka berdua pun mengabaikan Reno yang sedang fokus dengan pemikirannya sendiri.
Sementara itu dihalaman rumah, tamu undangan mulai berdatangan. Herman dan Istrinya menyambut mereka semua dengan ramah.
Acara tersebut tampak sangat mewah, walaupun kata Herman hanya acar sederhana saja.
Pak Sunardi juga datang dan dia berpura-pura menyuruh bawahannya untuk segera menjaga keamanan acara tersebut.
"Dimana Reno, Herman?" tanya Pak Sunardi.
"Mereka sedang di rias Pak, sebentar lagi juga turun," jawab Herman sopan.
Pak Sunardi menganggukan kepalanya mengerti. "Baguslah kalau pemuda itu tidak kabur," celetuknya bercanda.
"Bapak bisa saja, mana ada dia bakal kabur, orang keduanya sudah saling suka," ucap Heman sambil tersenyum.
Pak Sunardi balas tersenyum, mereka tertawa bersama. Suasana tempat tersebut bertambah ramai, karena tamu undangan terus berdatangan seiring berjalannya waktu.
Tampak sangat terlihat kebahagian di raut wajah kedua orang tua Elisa dalam menyambut para tamu.
Kalaupun ada satu orang yang tidak bahagia di sana mungkin cuma satu orang. Aris yang belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya dilewati adiknya menikah.
Dari kemarin pria itu mengurung dirinya di kamar, walaupun sudah di rayu kedua orangtuanya pria itu tidak mau keluar dari kamar juga.
Setelah semua tamu kebanyakan sudah datang, dua pengantin turun dari atas, terlihat pasangan tersebut sangat serasi.
Elisa yang tampak cantik dengan setelan kebaya putih, perpaduan dengan Reno yang begitu tampan.
Semua tamu terpana melihat keduanya ketika turun dari atas bersama. Herman dan Sulastri saja sampai pangling melihat wajah anaknya itu.
Raut wajah keduanya sangat senang, walaupun ada sedikit raut wajah gugup dari pengantin pria yang memang masih kikuk ketika melihat banyak orang.