
Reno yang melihat gadis tersebut menangis terisak, pria tersebut mengajaknya untuk duduk bersamanya di kursi taman.
Pria itu membiarkan gadis tersebut tenang terlebih dahulu, tanpa berbicara sepatah katapun.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Reno setelah gadis tersebut sudah tenang.
"Komplek perumahan Metro," jawabnya parau.
"Mau aku antar?" tawar Reno.
Raisa menatap pria yang ditabraknya itu dengan bingung. "Kamu tidak bertanya kenapa aku bertengkar?"
Reno menggelengkan kepalanya. "Buat apa? Itu masalah pribadimu, kalau dia tadi tidak main tangan, mungkin aku juga tidak akan ikut campur," jawabnya jujur.
Raisa mengernyitkan dahi, baru kali ini dia bertemu dengan orang seperti Reno, biasanya pria jika melihat wanita menangis kebanyakan akan mencari perhatian, tapi Reno berbeda.
Gadis tersebut sampai dibuat kagum dengan Reno, karena tampaknya pria yang membelanya barusan sangat baik.
"Ayo, mau aku antar tidak?" tanya Reno sambil beranjak dari duduknya.
Raisa mendongak, ia menganggukkan kepalanya lalu berdiri. Mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
Mereka berdua naik taksi menuju komplek perumahan Metro, dimana tempat Raisa tinggal.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di sana, mereka berdua pun turun dari taksi.
Raisa berjalan menuju gerbang rumahnya, tapi Reno menahannya. "Eh, bayar taksinya dulu!" tegur Pria itu lantang.
Raisa mengernyitkan dahi. Wanita itu menatap Reno dengan sinis lalu menghampiri sopir taksi dan membayar ongkosnya.
Reno pura-pura tidak melihat, setelah Raisa membayar taksi pria itu nyengir seperti orang bodoh.
Raisa menghela napas. "Mampir dulu mas."
Reno menganggukkan kepalanya, ia pun masuk ke rumah Raisa tanpa ragu, tapi pria itu merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya ketika masuk kedalam rumah tersebut.
"Aku pulang!" Raisa berseru ketika masuk dalam rumah.
"Kamu darimana saja! Ayahmu tadi menjemputmu tapi tidak ada di sekolahan!" tegur wanita paruh baya yang langsung menghampiri anaknya tersebut.
"Aku tadi pulang sama temen Bu," jawabnya santai.
Ibu dan Anak tersebut tidak memperhatikan Reno yang sedang menatapnya dengan seksama, terlihat pria itu benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Oh iya Bu, kenalin dia Mas Reno, orang yang hampir saja Raisa jeburkan ke sungai," ucapnya sambil tersenyum kecut.
Wanita paruh baya itu menoleh, seketika matanya langsung membelalak lebar saat melihat siapa orang yang dikenalkan Raisa.
Tubuhnya bergetar hebat, suaranya tercekat tidak bisa berkata-kata melihat pria tersebut, walaupun sudah belasan tahun lamanya tidak bertemu, akan tetapi wajah Reno yang hampir mirip dengan Ayahnya ketika masih muda dulu, membuat wanita itu mematung.
"Bu... Ibu kenapa?" tegur Raisa pada sang Ibu.
Bukannya menjawab Ratih langsung menghambur ke pelukan Reno. "Nak, Ibu mencarimu selama ini, kamu kemana saja?" tanyanya sambil memeluk erat Reno dengan air mata yang berlinangan.
Reno tidak membalas pelukan Ratih sama sekali, ia sedikit mendorong Ratih agar melepaskan pelukannya.
"Maaf Nyonya, anda sepertinya salah orang," ucap Reno datar setelah melepaskan pelukan Ratih.
Ratih menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku yakin itu kamu," ucapnya masih dengan berlinangan air mata.
Raisa yang melihat hal tersebut bingung, ia mencoba mencerna apa yang terjadi dengan Ibunya dan orang yang baru dikenalnya itu.
Ratih masih berusaha meyakinkan Reno kalau dia Ibunya, akan tetapi pria itu tetap kekeh bilang kalau Ratih hanya salah orang.
"Maaf, aku lupa sedang di tunggu istriku, Raisa aku pulang dulu," Reno bergegas pergi dari sana dengan berlari cepat.
Ratih akan mengejarnya, tapi Raisa menghentikan sang Ibu. "Bu, apa yang terjadi?" tanya gadis itu penasaran.
"Raisa, dia kakakmu, orang yang selalu Ibu ceritakan!" serunya yakin.
"Apa!" Raisa terkejut, ia bergegas mengejar Reno, tapi saat melihat ke jalan sosok Reno sudah tidak terlihat lagi.
Ratih dan Raisa hanya bisa menghela napas tidak berdaya, karena orang yang selama ini Ibunya cari malah pergi begitu saja.
Raisa kurang lebih sudah tahu semua tentang Reno, ia malah memarahi Ibunya ketika pertama menceritakan tentang Reno, pasalnya ia mendengar kalau Reno keterbelakangan mental, sebab itulah Raisa juga berniat mencari sang Kakak.
Sayangnya setelah Reno berada dihadapannya barusan, mereka tidak segera membawanya masuk kedalam rumah membuat pria itu bisa menghindar.
Ditempat Reno berada, ia sedang bersembunyi dibalik dinding pagar rumah tidak jauh dari kediaman keluarga Ibunya.
Terlihat pria itu sedang menangis, karena tidak tahu apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan sang Ibu yang telah menelantarkannya selama ini.