Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Kecupan Maaf



Elisa sontak saja terkesiap dengan pernyataan Meysia, wanita itu dengan malu-malu menatap Reno.


Reno juga reflek menatap Elisa, ia ingin melihat bagaimana respon dari gadis tersebut.


"Ye... malah saling menatap, ditanya juga!" tegur Meysia kepada sang Kakak.


"Eh... kami hanya berteman saja Mey," jawab Elisa sambil tersenyum.


Raut wajah Reno tampak sedikit kecewa saat Elisa mengatakan kalau mereka hanyalah teman. Namun, pria itu tidak menunjukkan wajah kecewanya dan berusaha untuk tetap biasa saja.


"Baguslah kalau begitu," ucap Meysia sambil menatap Reno dengan senyum semanis mungkin.


Elisa yang melihat hal tersebut jelas saja terkejut, dari wajah Meysia ada semburat rasa memiliki terhadap pria yang ditaksirnya tersebut.


Sementara Reno mengabaikan Meysia, ia fokus ke ponsel barunya, mencoba fitur ponsel tersebut sesuai dengan apa yang pernah Elisa ajarkan.


"Mey, kita pulang yok, eke takut pulang kemalaman," celetuk Erwin.


"Hais kamu ini, padahal aku baru saja bertemu dengan Kak Elisa lagi," jawabnya malas.


"Ayolah Mey, kamu tidak ingat apa kejadian tadi siang?" tanya Erwin.


"Eh... sialan malah di ingetin lagi!" gerutu Meysia kesal. "Kak Elisa, Reno, kami pulang dulu yah, nanti aku minta nomor Kak Elisa dari Reno." lanjutnya seraya pergi dari sana meninggalkan Elisa dan Reno berdua.


Reno mengabaikan Meysia dan Erwin yang berpamitan, ia masih fokus dengan ponselnya.


Sementara Elisa melambaikan tangan kepada mereka berdua. Wanita itu kemudian duduk menatap Reno yang sedari tadi hanya diam saja setelah dirinya mengatakan kalau ia hanya temannya.


"Ren, kita juga pulang yuk," ajak Elisa lembut.


Reno mendongak menatap wanita itu kemudian menganggukkan kepalanya lirih seraya beranjak dari duduknya.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut pria itu, sehingga membuat Elisa bingung, kenapa Reno tiba-tiba menjadi pendiam.


Mereka keluar dari pusat perbelanjaan, hingga sampai di parkiran Reno masih tidak bicara sama sekali.


Elisa tidak tahu kenapa pria itu berbuah menjadi dingin, padahal sebelumnya terlihat sangat periang.


Reno naik motor bututnya, Elisa langsung bonceng dibelakang sambil memeluknya dengan Erat.


Elisa mau berbicara tapi Reno sudah menjalankan motornya. Ia hanya bisa menghela napas tidak berdaya.


Suasana canggung tersebut berlangsung hingga Reno mengantar Elisa sampai kedepan rumahnya, sepanjang jalan Pria itu hanya menanyakan jalan ke rumah Elisa saja.


"Ren, kamu kenapa?" tanya Elisa ketika sudah turun dari motor Reno.


"Aku tidak apa-apa," jawabnya datar.


Elisa menghela napas. "Sifat anak kecil kamu ternyata masih melekat di tubuhmu," ucapnya lembut.


Reno mengernyitkan dahi. "Maksud Mba Kunti?" tanyanya pongah.


"Bicara kenapa kamu tiba-tiba diam seperti ini, kalau kamu marah denganku katakan saja apa salahku, siapa tahu aku bisa memperbaikinya," ungkap wanita itu.


"Mba Kunti tidak salah kok, aku cuma sedikit capek saja ingin cepat istirahat, maaf telah membuat Mba Kunti tidak nyaman," balasnya sambil memaksakan sebuah senyum.


"Kalau begitu aku permisi du...."


Suara Reno tercekat ketika tiba-tiba Elisa mengecup pipinya, pria itu tertegun tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Ia menatap wanita yang tadi mengecup pipinya itu dengan penuh tanda tanya.


Terlihat Elisa mengulas sebuah senyum ke arahnya, wanita itu sepertinya tahu kalau dirinya sedang kecewa dengannya.


"Abaikan perkataanku di Mol barusan, aku cuma bercanda di sana, sampai ketemu lagi Reno...." wanita itu langsung masuk kedalam rumahnya meninggalkan Reno yang masih tertegun di motor sambil memegangi pipinya.


Rasa kecewa Reno seketika lenyap, pertama kalinya ia merasakan kecupan dari seorang wanita membuatnya terbuai dengan momen tersebut, apa lagi sosok yang mengecupnya itu wanita yang di sukainya, tentu saja hatinya langsung berbunga-bunga.


"Aku harap ini bukan mimpi!"


Plak


"Aduh!" pekiknya kesakitan ketika menampar dirinya sendiri.


"Ternyata ini bukan mimpi, apakah Mba Kunti serius suka denganku? Ah... ini sungguh di luar prediksi!" ucap Pria itu sambil menyalakan motornya.


Reno menjalankan motornya pergi dari depan rumah Elisa, pria itu tampak berbunga-bunga, sepanjang jalan ia tersenyum-senyum sendiri sambil bersiul senang.