Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Wanita Pilihan



Reno sampai di kontrakannya, siapa yang menyangka jika Meysia menunggunya di depan gerbang Kontrakan.


Pria itu tidak memerhatikan Meysia, ia nyelong masuk saja dengan motornya karena gerbang masih terbuka.


Reno bersiul-siul dengan senang hati, pasalnya ia baru merasakan kebahagiaan seperti itu yang seolah menjalar keseluruh tubuhnya.


"Ren, sepertinya kamu senang banget?" tegur Meysia tiba-tiba.


"Astaga! Kamu bikin aku kaget saja," celetuk Reno kaget sambil turun dari mobilnya.


"Hihihi... maaf, habisnya daritadi aku memanggilmu didepan gerbang tapi kamu tidak menjawab juga," ucap wanita itu lembut.


"Iyakah? Kalau begitu aku minta maaf, karena memakai helm dan suara motorku jadi tidak mendengar kamu," jawabnya pongah.


"Tidak apa, ini buat kamu," Meysia memberikan paper bag yang entah isinya apa.


"Apa ini?" tanyanya penasaran.


"Hadiah buat kamu, sudah malam aku pulang dulu yah, bye Reno...." wanita itu melambaikan tangannya berlalu meninggalkan Reno sendirian.


Reno hanya tersenyum, ia langsung bergegas ke kontrakannya untuk beristirahat.


Pria itu menaruh semua barang belanjaannya di sudut kontrakan, ia menghela napas panjang kemudian duduk bersender di dinding.


Ponsel barunya ia keluarkan dari sakunya, dengan semangat ia melihat ponsel tersebut setelah menyalakan data.


Benar saja ada beberapa pesan masuk dari Elisa, pria itu senyum-senyum sendiri melihat pesan yang tertera di Wa nya.


Reno membalas pesan tersebut dengan senang, tanpa ia sadari ada sosok hantu wanita yang sedang duduk di sebelahnya.


"Kamu ini ternyata populer juga di kalangan wanita, sampai-sampai anak saya juga terpincut denganmu," ucap sosok tersebut tiba-tiba.


"Sial!"


Reno mengusap-usap dadanya karena terkejut karena mendengar suara hantu tersebut.


"Hantu tidak memiliki sopan santun! Lama-lama aku hilangkan juga kamu dari sini!" hardik Reno kesal.


"Hihihi... maaf anak muda, habisnya kamu dari tadi sibuk sendiri, padahal aku sudah di sini cukup lama," jawabnya sambil terkikik.


Reno menghela napas. "Sudah Sono kembali ke tempatmu, aku sedang tidak ingin berurusan dengan hantu."


"Anak muda, aku sebenarnya ingin minta tolong padamu," ucap Hantu tersebut.


Reno mengernyitkan dahi, ia menatap lekat-lekat hantu dengan rambut yang awut-awutan serta wajah yang pucat pasi dengan pakaian serba putih itu dengan seksama.


"Minta tolong apa? Aku yakin kamu sudah meninggal lama, memangnya masih ada penyesalan dalam diri kamu?" tanya Reno memastikan.


Sosok Hantu itu menghela napas. "Sebenarnya itulah masalahnya, aku tidak bisa pergi dari sini, Rohku terkurung ditempat ini, aku berharap kamu bisa menemukan jasadku agar aku bisa pergi dengan tenang," ungkapnya sedih.


"Tidak, tidak, tugasku untuk menghilangkan kalian, bukan untuk menjadi detektif," jawabnya mantap sambil beranjak dari duduknya pergi ke kamar mandi.


Reno mengabaikan permintaan hantu tersebut, ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Hantu itu tetap mengikuti Reno, ia seolah menaruh harapan besar ke pria itu agar membantunya keluar dari sana.


"Tolong aku anak muda, kasihanilah hantu tidak berdaya ini," pintanya memelas.


"Aku hancurkan roh kamu langsung bagaimana? Aku tidak suka berurusan dengan orang jahat," jawab Reno sambil keluar kamar mandi.


Reno tahu kalau sosok tersebut ingin dirinya mengungkap kematiannya yang tidak wajar. Namun, Reno tahu betul kalau masalah itu bukan ranahnya, ia tidak ingin terlibat dengan masalah pembunuhan dan sebagainya, karena ia hanyalah seorang pengusir hantu.


"Anak muda, ini menyangkut anak saya juga, dia harus tahu kebenaran ini," Hantu itu masih mencoba membujuk Reno.


"Sudah aku bilang bukan, pekerjaanku bukan seperti itu, aku hanya bisa mengusir hantu," jawabnya tegas.


Suara rintihan tangisan sosok tersebut jelas saja membuat bulu kuduk Reno merinding, walaupun ia pengusir Hantu, tapi tetap saja ia juga masih seperti manusia pada umumnya, hanya saja mentalnya sudah terbiasa menghadapi hal semacam itu jadi tidak merasakan takut sama sekali, hanya bulu kuduknya saja yang berdiri.


Reno menghela napas. "Kalaupun aku menemukan jasadmu, memangnya aku bisa apa? Aku ini tidak memiliki koneksi kuat yang bisa membuat masalahmu bisa di selesaikan."


Hantu itu berhenti menangis, ia dengan semangat menatap Reno. "Kamu tidak perlu menyelesaikan masalahku, yang penting kamu bisa menemukan jasadku, sisanya nanti juga ada yang mengurus."


Reno menghela napas. "Baiklah, aku akan membantu kamu, tapi hanya sekedar menemukan jasadmu saja!"


"Terima kasih, itu saja sudah cukup buatku!" jawabnya bersemangat.


"Ya sudah sono pergi, aku mau tidur!" usir Reno tegas.


"Baik... Hihihi...." hantu itu terkikik sambil pergi dari kamar Reno.


Reno hanya bisa menghela napas berat, selalu saja ia tidak bisa menolak permintaan para roh penasaran. Pria itu menggelar tikar kemudian berbaring memejamkan matanya.


Tanpa Reno sadari, teman satu kontrakan yang ada di sebelahnya, ia sedang menggigil ketakutan karena mendengar rintihan tangis dan Ketawa sosok yang menemui Reno.


"Aku yakin tidak salah dengar, kenapa tempat ini jadi menakutkan seperti ini?" pria itu menutupi tubuhnya dengan sarung sambil menggigil ketakutan.


Bagaimana ia tidak takut, jika jelas-jelas suara yang didengarnya merupakan sosok hantu wanita seperti di film-film.


Pria itu benar-benar ketakutan, nampaknya malam ini ia tidak akan tertidur lelap. Berbeda dengan Reno yang sudah terbiasa melihat berbagai macam hantu.


Reno jelas saja bisa tidur seperti biasanya, jangankan hantu wanita seperti itu, hantu yang wajahnya hancur saja sudah biasa baginya.


...***...


Ke esokan harinya....


Tok... Tok....


Suara pintu Kontrakan Reno diketuk seseorang, pria itu yang sedari tadi belum bangun seketika mengerjapkan matanya lalu bangun dari tidurnya.


"Siapa?!" serunya dari dalam kontrakan.


"Ini aku Ren, Meysia!" sahut wanita itu dari balik pintu.


Reno menguap sambil meregangkan tubuhnya, ia beranjak dari tikar membuka pintu kontrakannya.


Dengan mengucek mata ia bertanya. "Ada apa pagi-pagi kamu kemari?" tanyanya sopan.


Meysia tersenyum. "Aku bawakan makanan, kita sarapan bareng yah."


Reno mengernyitkan dahi, ia melihat rantang yang sedang dipegang Meysia. Wanita itu tersenyum penuh arti kepadanya.


Reno yang tidak bisa menolak pemberian orang yang sudah baik terhadapnya, ia mempersilahkan Meysia masuk kedalam kontrakannya.


"Masuklah, aku mau cuci muka dulu," ucapnya lembut.


Meysia mengangguk dengan senang hati ia masuk kedalam kontrakan Reno, wanita itu duduk di tikar sambil membuka rantang makanannya menunggu Reno.


Tanpa wanita itu sadari ada sesosok hantu yang sedang berdiri di pojokan memerhatikan dirinya.


Sementara itu di luar kontrakan, para penghuni pria yang melihat anak pemilik kontrakan di buat geger.


"Gila, hoki bener tuh orang, bisa mendapatkan Mba Meysia!"


"Sial, kita salah sat-set dengannya!"


"Tapi menurutku wajar sih, pria itu tampan, penghuni kontrakan wanita saja banyak yang membicarakannya, tapi karena mereka tahu kalau Mba Meysia mengincarnya, mereka tidak berani mendekati pria itu."


Para penghuni Pria membicarakan Reno dan Meysia, mereka merasa iri dengan Reno yang bisa mendapatkan perhatian anak pemilik Kontrakan.