Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Herman dan Dua Satpamnya



Roh-Roh yang keluar dari portal gaib berhamburan keluar, mereka kini hampir merasuki seluruh orang yang jiwanya sudah diserap oleh Jin pemakan Jiwa.


Hargh!


Orang-orang yang di rasuki Roh-Roh tersebut mencari korban lainnya.


Herman dan dua Satpam rumahnya yang tadi ikut dengan Elisa, mereka sedang berada didepan gedung.


"Elisa lama sekali," ucap Herman sambil melihat jam tangannya.


"Mungkin masalahnya berat Pak," jawab Soleh Satpam satunya.


"Iya Pak, Soleh benar," timpal Kadrun.


Herman mengernyitkan dahi, pria tersebut melirik dua Satpamnya itu. "Lalu ngapain kalian di sini? Bukankah saat di rumah bilang mau bantu Elisa!" tegurnya sedikit keras.


"Hehehe... kami kan tidak memiliki kekuatan seperti non Elisa Pak," jawab Soleh lugu.


"Aduh!" Kadrun tiba-tiba berteriak.


Herman dan Soleh menoleh, mereka berdua membelalakkan mata lebar ketika melihat Kadrun yang sedang digigit oleh seseorang.


"Tolong Soleh, lepaskan dia!" teriak Kadrun sambil melepaskan sosok yang menggigitnya.


Soleh bergegas membantu Kadrun, sayangnya sosok tersebut tidak mau melepaskan Kadrun.


Soleh mengambil pentungan satpamnya yang ada di pinggang.


Pletak


Pletak


"Lepaskan!" teriak Soleh.


"Argh! Sakit banget Leh, cepat lepaskan!" terlihat darah sudah keluar dari bahu Kadrun, walaupun ia mengenakan seragamnya.


Soleh terus memukuli sosok tersebut, Herman juga kali ini membantu.


Hingga akhirnya sosok itu terlepas ketika merogoh celananya dan memasukkan bulu-bulu sakral miliknya ke mulut sosok tersebut.


"Hahaha... ternyata ampuh juga!" ucap Soleh percaya diri sambil tertawa.


"Apa yang terjadi ini, kenapa dengan mereka?" Herman melihat begitu banyak orang yang menjadi aneh sedang mendekati mereka.


Soleh juga langsung berhenti tertawa, mereka bertiga jelas saja ketakutan saat melihat kejadian tersebut.


Kadrun memegangi bahunya yang terasa sakit, orang yang tadi menggigitnya juga meraung sambil mendekati mereka bertiga.


"Pak, kita kabur saja!" seru Soleh memberikan saran.


"Kabur kemana? Mereka banyak sekali?" tanya Herman dengan kaki gemetaran.


"Masuk kedalam!" Kadrun buka suara sambil menahan rasa sakitnya.


"Benar masuk kedalam!" Soleh setuju.


Mereka langsung bergegas masuk kedalam, tapi didalam juga ada orang kerasukan, walaupun jumlah mereka tidak banyak seperti di luar.


Soleh dan Kadrun berusaha melindungi majikannya dan terus masuk ke dalam, orang-orang yang kerasukan mengejar mereka.


"Mana liftnya?!" gerutu Herma panik.


"Lah kok tanya aku, bapak yang bekerja kantoran," jawab Soleh yang memukul orang-orang kerasukan mendekat ke arah mereka.


Brug


Kadrun terjatuh, Soleh langsung menarik temannya. "Drun, jangan mati dulu, kamu belum nulis surat wasiat agar istrimu mau dijadikan istriku," ucapnya menggoda.


"Brengsek kau dongos!" Kadrun menghela napas kasar. "Tinggalkan aku saja, kalian cepat ketempat Nona Elisa dan Mas Reno," lanjutnya pasrah.


"Jangan bicara bodoh, itu lift nya!" seru Herman.


"Soleh bawa Kadrun cepat!" lanjut pria paruh baya tersebut.


Soleh mengangguk mengerti, karena tubuhnya cungkring, pria tersebut tidak mungkin menggendong Kadrun, karena itulah ia menarik satu Kaki Kadrun dengan cepat.


"Teman biadab!" gerutu Kadrun yang di seret Soleh.


"Sudah jangan banyak protes, yang penting kita selamat!" jawab Soleh tidak merasa bersalah sama sekali.


Herman yang sudah berjalan didepan, ia dengan cepat membuka Lift, tampak pria paruh baya itu sangat panik karena orang-orang yang kerasukan terus mengejar mereka.


"Ayo, cepat-cepat!" gumam Herman pada Lift.


"Bagaimana mau cepat Pak, ini karung beras berat banget!" keluhnya yang masih menarik satu kali Kadrun.


Herman menggertakkan giginya, ia berlari ke arah dua satpamnya dan menarik satu kaki kadrun lainnya, sehingga mereka dengan cepat bisa membawa Kadrun masuk kedalam Lift.


"Majikan dan teman biadab!" gerutu Kadrun ketika masuk kedalam lift.


Orang-orang yang kerasukan semakin mendekat, Herman dan Soleh panik, keringat dingin mulai membasahi tubuh mereka.


Salah satu orang kerasukan berlari dengan sangat cepat ke arah Lift, Soleh panik ia memikirkan cara untuk membuatnya tidak semakin dekat.


Soleh melemparkan pentungan satpamnya ke dahi sosok tersebut.


Pletak


"Mantul!" serunya bangga.


Sesaat kemudian Lift menutup, mereka bertiga bernapas lega dan ambruk duduk di Lift.


"Sialan, sebenarnya mereka itu kenapa sih?" tanya Herman dengan napas terengah-engah.


"Lah, Bapak tanya sama aku, lalu ku tanya siapa? Kamu tahu Drun?" Soleh malah bertanya kepada temannya itu.


Kadrun tidak menjawab, Soleh reflek menoleh, terlihat wajah temannya memucat dan sudah tidak sadarkan diri.


"Astaga, Drun kamu mati? tega sekali kamu belum membuat surat wasiat!" gerutu Soleh.


Pletak


Aduh


"Kamu ini, teman lagi pingsan berkata yang tidak-tidak!" bentak Herman.


"Hehehe... kami cuma bercanda Pak, iyakan Drun?" tanya Soleh lagi kepada rekannya itu yang sedang tidak sadarkan diri.


Herman tidak tahu harus tertawa atau menangis, ternyata dia satpamnya tersebut memiliki sikap yang absurd, ia baru tahu sekarang setelah bersama dengan keduanya.


Tidak berselang lama Lift terbuka, Soleh dan Herman menarik Kadrun keluar dari Lift, mereka berdua menghela napas sambil duduk dilantai depan Lift.


"Akhirnya, kita selamat juga," ucap Soleh lega.


"Kamu benar, tadi hampir saja," timpal Herman.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang bahu Soleh, pria itu menghempaskannya, tapi tangan itu kembali memegang bahunya.


"Pak, aku tahu Bapak bangga denganku, tapi gak perlu juga pegang-pegang bahu," celetuk Soleh.


Herman mengerutkan keningnya. "Siapa yang pegang-pegang, bodoh!"


"Lah i...." suara Soleh tercekat ketika melihat tangan pucat dengan kuku-kuku panjang sedang dipegang dirinya.


Soleh perlahan menoleh ke belakang, pria itu menelan ludah ketika melihat hantu dengan seragam perawat sedang duduk menyeringai padanya.


"Sus-Sus... alah Bangs*t!"


Bug


Aduh


Suster ngesot terjungkal ketika Soleh memukul wajahnya, sosok hantu tersebut tentu saja sangat terkejut karena Soleh tiba-tiba memukulnya.


Soleh lari tunggang langgang tidak perduli dengan majikan dan temannya.


Herman mengerutkan keningnya, ia kemudian menoleh ke belakang, terlihat Suster ngesot yang sedang memegangi wajahnya sambil terjungkal.


"Soleh tunggu!" Herman juga lari mengejar Satpamnya tersebut.


Mereka berdua melupakan Kadrun yang terbaring tidak berdaya depan Lift.


Brug


Aduh


Pekik keduanya, ketika Herman yang lari tanpa melihat kedepan menabrak Soleh yang sedang tertegun.


"Brengsek kau Soleh! Aku potong juga gajimu nanti!" seru Herman sambil beranjak dari tubuh Soleh.


"Di saat seperti ini masih saja mau motong gaji! Dasar majikan biadab! Lihat noh didepan!" Bentak Soleh yang tidak takut dengan majikannya tersebut.


"Kamu be...." suara Herman tercekat ketika melihat puluhan hantu yang sedang bertengkar satu sama lain dan ada satu sosok hantu tinggi besar dengan banyak tangan di punggungnya. Pria itu menelan ludah dengan tubuh gemetaran.