Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Soleh



Herman dibuat tertegun ketika melihat Momon yang sedang melawan para hantu bersama dengan rekan-rekannya.


Pria paruh baya itu menelan ludah beberapa kali, dengan tubuh gemetaran, ketika melihat berbagai macam hantu berada di sana.


Alasan Herman dan Soleh bisa melihat mereka para hantu, karena mereka sudah berada dekat dengan sumber energi spiritual gerbang gaib, karena itulah para hantu yang bisa tidak terlihat oleh manusia, terlihat wujudnya.


Kracak


Kracak


Soleh yang tengkurap dibawah Herman terkejut, ketika ada air yang membasahi punggungnya.


Satpam cungkring dengan gigi tonggos itu reflek menoleh, betapa terkejutnya dia ketika melihat majikannya mengompol.


"Sialan! Sudah tua ngompol!" gerutu Soleh yang bergegas menjauh, walaupun sudah terlambat.


"Leh, antar aku pu...."


Brug


Herman jatuh pingsan karena melihat banyak hantu di sana, Soleh mendengus kesal, padahal ia masih mau melarikan diri, tapi malah dibebani lagi.


"Cih, semuanya penakut ternyata!" ucapnya percaya diri.


Klontang


Bug


Tiba-tiba sesuatu menimpuk punggung Soleh, pria tersebut semakin kesal, ketika ia menoleh kebelakang terlihat kepala hantu yang sedang tersenyum padanya.


Aaaa!


"Brengsek!" Soleh berdiri lalu menendang kepala hantu tersebut.


Bug


Awww!


Tendangan Soleh mengenai Kuntilanak merah yang sedang mencakar-cakar momon, hingga sosok tersebut jatuh.


"Hihihi... manusia sialan!" kuntilanak langsung mengincar Soleh untuk mencekiknya.


Soleh panik, Kuntilanak merah terus menuju ke arahnya, ia kemudian teringat dengan bulu-bulu sakralnya.


Brabat


"Aduh," pekik Soleh sebentar kemudian menarik tangannya dari celana.


Kuntilanak merah semakin mendekat, bukannya takut Soleh malah menunggunya.


"Hihihi... matilah kau ma...." suara Kuntilanak merah tercekat, saat bulu-bulu sakral Soleh masuk kedalam mulutnya.


"Makan itu, enak bukan! Hahahaha...." Soleh tertawa senang ketika kuntilanak merah tersedak bulu-bulunya.


Kuntilanak merah merasa tersiksa, sosok tersebut tiba-tiba menghilang dari hadapan Soleh.


Pria cungkring itu jadi punya ide untuk menjauhkan para hantu darinya. Ia menyeringai melihat majikannya yang sedang pingsan.


"Hehehe... maaf saja Pak, ini kondisi darurat," pria itu mendekat ke arah Herman membuka celananya.


"Gila lebat amat," ucapnya sambil tersenyum getir.


Soleh menghela napas, ia dengan cepat melakukan hal tersebut.


Brabat


"Aduh!" Herman seketika langsung terbangun dari pingsannya.


"Hahaha... bapak sudah sadar," Soleh tertawa sambil menyembunyikan bulu-bulu sakral majikannya.


Herman cukup kesal dengan Soleh, ia beranjak duduk, kemudian melihat masih banyak para hantu yang ada di sana, membuat pria itu kembali merinding ketakutan.


Berbeda dengan Soleh yang tampak tidak ketakutan sama sekali berhadapan dengan mereka semua.


Momon masih mencoba untuk melenyapkan para hantu bersama dengan saudaranya, Wowo dan Giaju, mereka masih berusaha bertahan di sana melawan ratusan hantu tersebut.


...***...


Sementara itu ditempat Reno dan Elisa berada, tampak Reno yang sudah berdiri lagi walaupun di papah Elisa.


"Ifrit, lawan dia, biar kami yang cari cara untuk menghentikan portal gaib!" perintah Reno mengabaikan perkataan Jin pemakan Jiwa.


"Baik tuan!" Ifrit langsung menyerang Jin pemakan Jiwa.


Tidak tanggung-tanggung Ifrit mengeluarkan banyak bola-bola api besar dan menyerang Jin pemakan Jiwa tanpa henti.


Blar


Blar


Api berkobar dimana-mana, akan tetapi Jin pemakan Jiwa masih bisa menghindari serangan Ifrit.


"Hahaha... kasihan sekali Jin tingkat tinggi sepertimu dijadikan budak manusia lemah!" ejek Jin pemakan Jiwa.


"Hahahaha... tahu apa kau dengan kehebatan tuanku, sosok seperti mu pasti akan menyesal karena berani melawan tuanku!" Ifrit tidak terkena provokasi jin pemakan Jiwa.


Kedua sosok tersebut saling menyerang satu sama lain, Jin pemakan Jiwa mengubah energi spiritual hitam menjadi tombak-tombak untuk melenyapkan Ifrit.


Swuzz


Swuzz


Tombak-tombak tersebut terus melesat ke arah Ifrit, tapi bawahan Reno itu mampu menahannya dengan energi spiritual apinya.


Reno mencari berbagai jimat diatasnya, ia berharap ada sesuatu yang berguna untuk menghilangkan portal gaib.


"Ren, apa kamu marah denganku?" tanya Elisa sendu.


"Elisa, ini bukan waktunya membahas itu, kamu bantu aku dulu menyelesaikan masalah ini!" perintah Reno.


Elisa menghela napas. "Baik!" Wanita itu juga mencari jimat dalam tasnya.


Reno melemparkan jimat-jimat segel ke arah portal gaib, akan tetapi semua itu tidak berguna sama sekali, jimat-jimat segel terbakar seketika.


Elisa juga melakukan hal yang sama dan hasilnya sama saja. Reno jelas saja bingung harus berbuat apa.


"Sial, apa tidak ada yang berguna sama sekali?!" gerutunya kesal.


Elisa melihat Reno yang tampak frustasi dengan wajah pucat nya, ia merasa sangat bersalah dengannya.


"Ren, gunakan energi spiritual ku untuk menyegel portal gaib," ucap wanita lembut.


Reno mendongak menatapnya. "Kamu gila? Mana ada seperti itu!" jawabnya sambil berpikir keras.


Reno mengeluarkan kertas segel yang ditancapkan ke jarum-jarumnya, ia melemparkannya lalu menggunakan benang energi spiritual untuk membuat segel.


Duar


Hoek


Reno memuntahkan seteguk darah, karena teknik tersebut memerlukan kondisi primanya, karena terlalu memaksa penyegelan itu meledak dan membuatnya terkena imbasnya.


"Ren kamu tidak apa-apa?" tanya wanita itu cemas.


"Aku tidak apa-apa, bagaimana kita bisa menyegel portal gaib?" tanyanya sambil memegangi dada.


"Ren, gunakan tubuhku, aku yakin tubuhku bisa menyegel mereka semua," tawar Reno.


Reno menatap tajam Elisa. "Apa kamu dari awal memang sudah ingin meninggalkan aku, Elisa?! Sekarang terlihat jelas kenapa kamu tidak tega melukai pria yang bernama Raka itu, memang dari awal kamu tidak ingin bersamaku!" serunya marah.


"Tidak Ren, aku sangat mencintaimu, aku tidak punya pemikiran ke sana, sumpah!" jawab Elisa tegas sambil menitihkan air mata.


"Lalu kenapa kamu menyuruh aku untuk membunuhmu? Kamu jelas tahu, kemampuan tubuh dua duniamu sangat kuat, jika digunakan untuk menyegel memang akan berhasil, tapi kamu juga akan ikut lenyap! Kamu mau meninggalkan aku sendirian lagi? Kamu tega Elisa...." Reno menitihkan air matanya.


"Tidak Ren, aku tidak ingin meninggalkanmu, aku sangat mencintaimu," jawabnya sambil memeluk Reno dengan erat.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi Elisa, hanya kamu yang aku punya...." Reno balas memeluk Elisa dengan air mata berlinangan.


Mereka berdua saling melepaskan perasaan, sebelum akhirnya Momon, Wowo, Giaju, Herman dan Soleh datang ke atap, setelah berhasil mengalahkan para hantu berkat ide gila Soleh.


Mereka yang baru datang melihat portal gaib yang semakin membesar, sementara itu Reno dan Elisa sedang berpelukan dihadapan mereka semua.


"Dasar pengantin baru, kalian bikin iri aku saja!" celetuk Soleh yang melemparkan sesuatu ke portal gaib.


Drrtt


Ketika benda yang dilemparkan Soleh menyentuh Portal Gaib. Portal tersebut bergetar dan energinya sedikit tergoncang.