Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Siapa Dia?



Reno dan Elisa pulang bersama berboncengan motor, seperti biasa wanita itu memeluk erat Reno dari belakang.


Mereka berdua menuju rumah Elisa, karena Reno akan mengantarnya terlebih dahulu, sebelum ia pulang ke kontrakannya.


Sementara itu bawahan Pak Sunardi bergegas mengejar Reno dan Elisa yang sudah meninggalkan rumah sakit mutiara bunda terlebih dahulu.


...***...


"Ren, tidak mau mampir dulu?" tanya Elisa ketika sudah sampai didepan rumahnya.


Reno menggelengkan kepalanya. "Nanti saja Mba Kunti, aku belum siap bertemu orang tua kamu," jawabnya tidak berdaya.


Elisa menggembungkan pipinya. "Terus kapan siapnya?" tanya wanita itu sedikit merajuk.


Reno mengusap pipi Elisa sambil tersenyum. "Nanti kalau uang yang aku kumpulkan sudah cukup."


"Dih... apa hubungannya dengan uang dengan mampir ke rumahku?" tanya Elisa bingung.


"Adalah... ya sudah aku pulang dulu, bye Mba Kunti," ucap Reno seraya melepaskan tangannya lalu menyalakan motornya.


Elisa menghela napas. "Ya sudahlah...." jawabnya malas.


Reno melambaikan tangan kemudian menjalankan motor ke kontrakannya, Elisa melambaikan tangan hingga pria yang mengantarnya itu sudah tidak terlihat lagi.


Wanita itu kemudian masuk kedalam rumah dengan wajah berseri-seri.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang mengawasi Elisa bersama dengan Kuyang, yang merupakan hantu bawahannya.


Wanita itu mau memberikan perintah ke Kuyang untuk masuk kedalam rumah Elisa. Namun, tiba-tiba Pak Sunardi dan bawahannya datang, sehingga ia tidak jadi melakukan itu.


"Sial, apa tua bangka itu sudah tahu rencanaku?!" gerutunya kesal. "Kita pergi dari sini," lanjutnya mengajak pergi Kuyang.


Wanita paruh baya itu pergi bersama dengan Kuyang bawahannya dengan menaiki mobilnya. Tidak ada yang tahu sama sekali kalau wanita itu berada di sana.


...***...


Sementara itu Reno sudah sampai di kontrakannya, tempat tersebut sedikit sepi karena para penghuninya masih banyak yang belum pulang kerja ataupun sekolah.


Pria itu masuk kedalam kontrakannya, setelah dua hantu yang selalu berkeliaran di kontrakan tidak ada, tempat tersebut sekarang sudah tidak terasa mencekam lagi. Namun, tiba-tiba Reno melihat Wowo yang keluar tanpa di panggil olehnya didalam kontrakan sehingga membuat pria itu terkejut.


"Astaga! Kamu ini bikin kaget saja Wowo!" bentak pria itu sambil mengusap dadanya.


"Hahaha... maaf tuan," jawabnya sambil tertawa meminta maaf.


Reno menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menaruh tas ransel yang selalu dibawanya ketika pergi di lantai lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah membasuh muka, Reno keluar dari kamar mandi, kemudian bertanya. "Tumben kamu keluar sendiri, biasanya tidak pernah, ada apa?"


"Sebenarnya saya malas keluar takut hantu wanita kemarin jatuh cinta denganku, nanti bisa gawat urusannya," jawabnya santai.


Reno melirik Jin dengan rambut gimbal, tubuh hitam legam serta empat taring yang menghiasi wajahnya itu sambil mengernyitkan dahi.


"Jadi setan kepedean amat, ngaca sono," tegur Reno sedikit kesal.


"Hehehe... namanya juga usaha tuan," jawabnya sambil tertawa.


Reno menghela napas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil duduk lalu mengambil ponselnya tanpa memperdulikan Wowo lagi.


Wowo mendekat ke arah Reno, ia duduk di samping Reno, kali ini dengan wajah yang serius.


Reno yang sedang menatap ponselnya, ia mendongak. "Melaporkan apa?"


"Waktu anda mengantar Nona Elisa ke rumahnya, saya merasakan ada energi spiritual mirip dengan Kuyang di dekat sana," jawabnya yakin.


Seketika Reno langsung serius menatap Wowo. "Kamu tidak bercanda kan?" tanyanya memastikan.


Wowo menganggukkan kepalanya. "Saya tidak bercanda tuan, dan saya yakin sosok tersebut mengikuti Nona Elisa."


Reno jelas saja penasaran dengan apa yang dikatakan Wowo, menurut pengetahuan yang diberikan Pak Sulaiman kepadanya. Kuyang merupakan salah satu mahluk astral yang berbahaya, ia biasanya memakan organ dalam manusia terutama jantungnya.


Pria itu terlihat berpikir keras, tentu ia tidak mau Elisa kenapa-napa. Namun, Reno bingung bagaimana caranya ia bisa terus melindungi Elisa.


"Wowo, apa kamu bisa pergi ke rumah Elisa dan melindunginya?" tanya Reno memastikan.


Wowo menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa tuan, rumah Nona Elisa memiliki pagar gaib, adapun aku bisa masuk ke dalam sana jika bersama dengan anda," jawabnya tidak berdaya.


"Terus bagaimana caranya aku melindungi dia?" gumamnya sambil berpikir.


"Kenapa tuan tidak tinggal bersama Nona Elisa saja?" celetuk Wowo tiba-tiba.


"Setan tetaplah Setan, pikirannya pasti kaya setan!" gerutu Reno kesal.


Wowo tersenyum getir, ia tahu apa maksud tuannya tersebut, karena dipikiran Reno pasti mengira kalau dirinya menyuruh agar tidur bersama Elisa, padahal Wowo niatnya ingin mengatakan kalau Reno bisa saja tinggal di rumah Elisa menjadi Security atau semacamnya.


Reno beranjak dari duduknya, ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri, baru setelah itu ia segera ke rumah Elisa, untuk memastikan kondisinya.


Wowo kembali masuk ketempat bersemayamnya kembali, ikut dengan Reno tanpa berbicara apa-apa lagi.


...***...


Di rumah Elisa berada, Pak Sunardi sudah ada di sana bersama dengan para bawahannya yang sudah menjaga seluruh wilayah rumah tersebut.


"Pak Sunardi, apa benar yang anda katakan?" tanya Herman, Ayah Elisa bertanya dengan cemas.


"Pak, terus kita harus berbuat apa?" tanya Sulastri menimpali.


Pak Sunardi menghela napas. "Aku juga berusaha untuk menjaganya selama ini, ternyata malah masalahnya jadi semakin merembet seperti ini," jawabnya tidak berdaya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan Pak?" tanya Herman di ikuti anggukan kepala Istrinya.


"Nikahkan Elisa dengan Reno, hanya dia pria yang bisa menjaganya, kemampuannya sudah melebihi ku, aku yakin dia dapat melindungi Elisa," jawabnya mantap.


Pasangan suami istri itu saling menatap, mereka saja selama ini tidak pernah melihat pria yang bernama Reno seperti apa, selam ini keduanya hanya mendengar namanya tanpa tahu seperti apa orangnya.


Tentu saja keduanya bingung jika harus tiba-tiba menikahkan anak gadisnya dengan Pria yang belum di kenalnya, ditambah Aris kakak Elisa juga belum menikah.


"Pak, apa tidak ada cara lain?" tanya Herman memastikan.


"Kalian ini, Elisa juga tidak akan keberatan dinikahkan dengan Reno, lagi pula pria itu tampan dan juga bisa mencari uang, apa ya g membuat kalian ragu?" tegur Pak Sunardi sedikit kesal.


"Masalahnya aku juga belum menikah Pak!" seru Aris yang tiba-tiba menginterupsi pembicaraan mereka. "Aku juga belum menikah Pak, masa mau di lewat adik saya yang masih bau kencur," lanjutnya seraya duduk bersama dengan mereka.


Pak Sunardi mengernyitkan dahi, ia menatap Herman dan Istrinya yang tampak menghela napas berat. Karena ternyata masalahnya ada pada Anak sulungnya yang belum kunjung menikah juga padahal usianya sudah 35 tahun.


Pak Sunardi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memijat pangkal hidungnya. Ia tidak tahu harus berkata apa melihat kenyataan tersebut.