
Kedatangan Reno mengusik sosok-sosok kuat di tempat tersebut, mereka semua tentu langsung tertarik dengan hawa keberadaan manusia yang datang ke tempat mereka.
Hantu dengan wajah rusak dan mata melotot keluar mendekat ke arah Reno, sosok tersebut mencoba memegang Reno. Namun, ia terpental ke belakang karena Reno memakai jimat pemberian Pak Sulaiman.
"Aduh, atit...." raungnya kesakitan, sehingga membuat Reno reflek menoleh.
Pria itu menelan ludah ketika melihat hantu tersebut jatuh, dan di belakangnya begitu banyak sekali hantu yang sedang mengikuti mereka berdua.
Reno bergegas memalingkan wajahnya dan fokus berjalan ke depan, tapi tetap saja tubuhnya merinding melihat berbagai sosok yang konon hanya sebuah mitos saja.
"Pak, mereka mau apa ngikutin kita?" tanya Reno dengan suara bergetar.
"Aku kan sudah bilang padamu, abaikan saja, selama kamu masih mengenakan kalung itu, tidak usah gubris mereka," tegur Pak Sulaiman.
Reno tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa berharap kalau dirinya bisa keluar dari sana dengan selamat, mengingat begitu banyaknya mahluk astral di sana.
Mereka berdua semakin dalam masuk kedalam hutan, hingga akhirnya kedua orang tersebut sampai di sebuah makam yang letaknya tepat di tengah-tengah hutan.
Reno terkejut ketika melihat ada roh seperti pria sepuh dengan rambut dan jenggot yang panjang berada di sana sambil bermeditasi.
"Salam guru!" ucap Pak Sulaiman tiba-tiba yang langsung bertekuk lutut di tanah.
Reno seketika mengikuti gurunya itu dengan bertekuk lutut di sampingnya, walaupun ia tidak tahu apa-apa tentang hal tersebut.
Pria sepuh tersebut tidak bicara sama sekali hingga beberapa menit Reno bertekuk lutut. Pemuda yang hanya ikut-ikutan tersebut mulai merasakan kakinya kesemutan dan sakit karena ia bertekuk lutut di atas batu kecil.
Kapan ini akan berakhir coba? Mana kakiku kesemutan, hadeh....
Reno menggerutu dalam hati, karena ia benar-benar tidak terbiasa melakukan hal tersebut. Akhirnya pemuda tersebut lebih memilih bersila dengan perlahan, masa bodo jima Pak Sulaiman marah dengannya.
"Apa ini muridmu, Sulaiman?" tiba-tiba terdengar suara pria sepuh tersebut bertanya.
Reno mengernyitkan dahi, ia tidak tahu sama sekali apa yang dimaksud oleh kedua pria sepuh tersebut.
Roh pria sepuh itu membuka matanya, Pak Sulaiman juga raut wajahnya tampak serius, sementara Reno terlihat seperti orang bodoh yang sedang bingung.
"Sulaiman, apa kamu sudah menjelaskan semua persyaratan menjadi bagian dari pewaris kekuatan ini?" tanya pria sepuh tersebut memastikan.
"Belum guru, tapi dia memiliki tekad untuk melakukannya," jawabnya jujur.
Roh pria sepuh itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap jenggot putihnya, ia menatap Reno dengan seksama.
Tampangnya terlihat tidak meyakinkan, tapi energi spiritualnya cukup kuat, di tambah ia sudah memiliki indra ke enam dan mata Batin yang membuatnya semakin spesial.
"Anak muda, apa kamu serius ingin mengikuti jalan kami?" tanya Roh pria sepuh tersebut.
"Selama itu bisa membuatku membalaskan dendam kepada orang-orang yang pernah menyakitiku, aku bersedia," jawabnya tegas.
Reno memang membutuhkan kekuatan untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang kampung Seronok yang telah menyakitinya selama ini, karena ia sadar sekarang belum memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan mereka.
Pria sepuh kemudian bertanya. "Jika kamu mewarisi kekuatan kami, maka kamu tidak akan terlepas dari sebuah kontrak yang mengharuskan kamu mengusir Roh-Roh jahat di sekitarmu, apa pun resikonya kamu harus melakukan itu, untuk masalah kekuatan aku tidak akan melarang kamu untuk di gunakan buat balas dendam, asalkan kamu bisa memilah baik buruk atas perbuatanmu, karena kekuatan ini juga akan menyerang mu, jika sampai kamu terlalu sering berbuat jahat, apa kamu mengerti?" tanya Pria sepuh tersebut memastikan.
"Baik, aku mengerti!" jawabnya tegas, karena Reno memang tidak pernah berpikir untuk menggunakan kekuatan tersebut untuk kejahatan.
Pria sepuh tersenyum. "Berjuanglah, jika kamu bisa mengalahkannya kekuatan turun temurun kami akan menjadi milikmu!"
Reno bingung dengan pernyataan pria sepuh tersebut, tapi tiba-tiba tempatnya duduk berubah menjadi gelap. Pak Sulaiman dan Pria sepuh menghilang.
Reno sontak saja langsung berdiri, ketika ia sedang bingung tempat itu menyalakan obor sehingga ruang temaram itu menjadi terang. sesosok mahluk astral dengan tubuh berlumuran darah membawa sebuah keris dengan mata melotot terlihat di depan Reno.