
Ifrit tahu kalau sosok Jin didepannya itu sangat ketakutan, karena itulah ia sengaja membuatnya semakin panik dengan menakut-nakutinya.
Sosok Jin dengan dada tembus pandang tersebut mengepalkan tangannya, ia tiba-tiba terbang menjauh dari Ifrit untuk melarikan diri.
"Cih, kamu pikir bisa kabur dariku?" Ifrit membuat bola api di tangannya, ia kemudian melesatkan bola api tersebut ke arah sosok Jin yang kabur barusan.
Swuzz
Sosok Jin tersebut panik ketika melihat bola api yang terus mengejarnya, ia mencoba untuk mempercepat terbangnya, tapi bukannya semakin menjauh dari bola api tersebut, ia malah semakin mendekat dengan bola api itu.
Blarr
Arghh
Sosok Jin tersebut meraung kepanasan ketika bola Api Ifrit membakar tubuhnya. Tidak sampai di situ saja, bola api lainnya juga menuju ke arahnya.
Blar
Blar
Argh
Jin tersebut meraung-raung kepanasan, hingga akhirnya sosok tersebut hangus terbakar dan menghilang dari muka bumi.
Ifrit tersenyum simpul. "Sudah lama aku tidak menggunakan kekuatan ini, berkat tuan Reno kini aku bisa menggunakannya kembali," gumamnya lirih.
Ifrit memang selama ini terbelenggu oleh segel guru Pak Sulaiman, kekuatannya tidak bisa muncul kembali selama ini, itulah kenapa waktu bertemu dengan Reno di alam bawah sadarnya sosok tersebut tidak bisa menggunakan energi spiritual apinya dan tubuhnya terlihat terluka parah.
Awalnya Guru Pak Sulaiman akan mewariskan Ifrit ke muridnya itu, tapi Pak Sulaiman tidak sanggup membuat Ifrit mengakuinya, sosok jin tersebut pun tersegel sangat lama hingga akhirnya Reno datang.
Ifrit mendekat ke arah Reno dan bertekuk lutut sambil mengecilkan api yang menyelimuti tubuhnya.
"Tuan, apakah ada tugas lain lagi?" tanya Ifrit sopan.
"Tidak ada, terima kasih karena telah membantuku, kembalilah!" perintah Reno lembut.
"Baik tuan," Ifrit berubah menjadi api kemudian masuk kedalam keris tempatnya bersemayam.
Reno merapal mantra kemudian keris itu menghilang dari hadapannya.
Pak Sunardi masih tertegun ditempatnya, ia tidak pernah menduga kalau Reno akan memiliki bawahan Jin tingkat tinggi, padahal ia sudah memiliki dua bawahan Jin tingkat menengah.
Reno menghela napas lega, ia berbalik bertanya kepada Pak Sunardi. "Pak, misinya sudah selesai, mana bayaranku?"
Reno mengulurkan tangannya meminta bayaran, Pak Sunardi yang tadi tertegun seketika langsung tersadar.
"Kamu ini... bayarannya nanti, aku saja belum menerima bayaran," jawabnya tidak berdaya.
Reno menghela napas. "Tahu gini aku tidak datang kemari tadi," ucapnya malas.
Pak Sunardi tersenyum getir, ternyata murid rekannya itu sangatlah mementingkan uang daripada nyawa seseorang, walaupun kalau bekerja sangat profesional tapi menurutnya itu terlalu menjengkelkan.
"Reno!" teriak Elisa yang sudah membawa turun dua bawahan Pak Sunardi yang sudah sadarkan diri dan orang yang kesurupan.
Gadis itu berlari kearah Reno dengan tergesa-gesa, takut pria yang di cintainya itu terluka.
"Kamu tidak apa-apa, Ren?" tanya Elisa khawatir.
"Eh...." Elisa seketika menatap gurunya.
Pak Sunardi menghela napas. "Mereka belum membayar, mungkin nanti sore, aku transfer ke kamu nanti jatah kalian," ucap Pak Sunardi tidak berdaya.
"Hihihi... maaf yah Pak, Reno memang suka sekali dengan uang, padahal uangnya sudah banyak, entah mau buat apa," Elisa terkikik geli melihat Pak Sunardi wajahnya muram.
"Jangan salah, aku harus menabung dari sekarang, Kata Pak Sulaiman, kalau nanti aku menikah harus punya uang banyak, agar istriku nanti bangga padaku!" celetuk Reno dengan percaya diri.
"Eh...." Elisa terkesiap dengan perkataan Reno, gadis itu menatap lekat-lekat pria yang sedang bersamanya itu.
Siapa yang tahu kalau Reno memiliki pemikiran jauh kedepan seperti itu, walaupun pemikirannya terlalu kolot, tapi wanita yang akan menjadi istrinya pasti bahagia, karena sang pria begitu perduli dengan masa depan.
Secara tidak langsung kekaguman Elisa naik drastis, mau bagaimanapun dialah sosok yang paling dekat dengan Reno, apa lagi pria itu pernah mengecupnya didepan umum.
"Iya, Iya, nanti aku kirim uangnya kalau sudah di bayar, terima kasih karena sudah membantu, Reno, Elisa," ucap Pak Sunardi tulus.
"Sama-sama Pak, kalau begitu kami pergi dulu," balas Elisa.
Pak Sunardi menganggukkan kepalanya. Reno dan Elisa pergi dari sana, tanpa sengaja mereka bertemu dengan polisi yang melarang mereka masuk ketika baru datang.
Polisi tersebut pura-pura tidak melihat Reno dan Elisa, ia sadar telah melakukan kesalahan sempat menahan mereka berdua.
"Lain kali, sedikit percaya dengan orang juga tidak ada salahnya!" ucap Reno ketika berjalan di samping polisi tersebut.
Polisi terkesiap dengan perkataan Reno, ia tersenyum tipis sambil membungkukkan badan ke arah Reno dan Elisa yang sedang berjalan melewatinya, ia tahu telah salah menilai orang.
Sementara Reno dan Elisa pergi dari lokasi kejadian. Pak Sunardi dan bawahannya sedang melakukan investigasi lebih lanjut bersama dengan polisi.
"Roy, bagaimana menurutmu tentang Jin tadi?" tanya pria sepuh tersebut kepada bawahannya yang terluka.
"Tuan, saya rasa ada yang sengaja mengirim sosok tersebut kemari, mengingat tidak ada tanda-tanda sama sekali kalau orang yang dirasukinya pernah berhubungan dengan Jin," jawabnya yakin.
Pak Sunardi memegang dagunya berpikir. "Sengaja di panggil dan masukkan ke tubuh orang lain, dengan kata lain orang ini pasti kuat karena mampu mengutus Jin sepertinya, itu maksudmu, bukan?"
"Benar tuan, hanya itu kemungkinan yang masuk akal," jawab Roy.
Pak Sunardi menghela napas. "Apa motifnya? kenapa dia melakukannya? Jika saja tidak ada Reno, kemungkinan besar kita akan dibunuh olehnya, apakah dia mengincar kita?"
"Saya rasa tidak mungkin tuan, mengingat sebelumnya sosok tersebut tidak menyerang kita dengan brutal, tapi tiba-tiba dia langsung agresif, bukan?"
Pak Sunardi membelalakan matanya lebar ketika mendapatkan sebuah pencerahan, ia kurang lebih tahu apa yang di incar sosok tersebut.
Pria tua itu teringat kejadian sebelum Reno dan Elisa datang, orang yang di rasuki tampak sangat tenang, mereka juga bisa mendekatinya dengan hati-hati, akan tetapi tiba-tiba sosok tersebut mengamuk, tidak berselang lama Reno dan Elisa datang.
Pak Sunardi menyimpulkan jika ada seseorang yang mengincar antara Reno dan Elisa.
"Roy! Kamu cepat beritahu yang lain untuk melindungi Elisa!" perintah Pak Sunardi langsung.
Roy tidak tahu apa maksud tuannya itu, tapi ia langsung bergegas menghubungi yang lainnya agar cepat bergerak melindungi Elisa.
Sementara itu Pak Sunardi naik kedalam rumah sakit dimana orang yang kesurupan dirawat, ia mencari-cari sesuatu di sana.
Ruangan yang hancur tersebut membuat ia susah untuk mencari barang yang dicarinya. Pak Sunardi kemudian menemukan sebuah sobekan foto.
"Dugaanku benar, ternyata ada ada yang mengincarnya!" Pak Sunardi memasukkan sobekan foto tersebut ke sakunya dan pergi dari sana langsung.