Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Kebersamaan Yang Indah



Reno mengulas sebuah senyum kepada gadis yang di sukainya itu, berharap Elisa mau memaafkannya.


"Eh... kenapa kamu juga ada di sini?" tanyanya sambil nyengir kuda.


"Kenapa? Apa aku mengganggu?" jawabnya sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


"Bu-Bukan seperti itu, maksud aku kenapa kalian tiba-tiba ada di sini?" tanyanya gugup.


Elisa mengerucutkan bibirnya. "Kamu aku hubungi tidak di angkat juga, tau-taunya lagi tidur berduaan dengan Meysia! Apa punyaku kebesaran Ren?"


Elisa meraih tangan Reno dan menaruhnya di gunung kembarnya yang masih tertutup baju. Sontak saja pria itu langsung menelan ludah.


Reflek ia memencet-mencet gunung kembar tersebut, sehingga membuat wajah Melisa merah merona karena perlakuan Reno.


"Empuk banget Punya kamu Mba Kunti," ucapnya pongah.


"Ih... apa kamu mau?" tanya Elisa yang terangsang.


Reno menelan saliva ketika Elisa tiba-tiba mendekatkan wajahnya kemudian ******* bibirnya. Pria itu tertegun sejenak kemudian ia mulai mengikuti irama permainan Elisa.


Keduanya tampak menikmati hal tersebut, walaupun didalam ruangan tersebut sangat panas.


Keduanya terbuai dengan kenikmatan dunia tersebut, akan tetapi saat tangan Reno mulai nakal menyusuri bagian tubuh Elisa.


"Ekhem!" tiba-tiba terdengar suara orang berdehem dengan keras.


Sontak saja keduanya langsung menghentikan aktifitas mereka dan melihat siapa yang menegur mereka.


Tampak Meysia yang sedang cemberut menatap keduanya. Elisa yang sedang duduk dipangkuan Reno tersenyum penuh arti ke keponakannya tersebut.


"Kakak curang ih....!" tegur Meysia yang langsung menarik Elisa agar turun dari pangkuan Reno, kemudian ia bergantian duduk di sana.


"Meysia! Dia cowo Kakak!" seru Elisa menarik keponakannya tersebut.


Mereka berdua berebut duduk di pangkuan Reno, membuat pria yang sedang diperebutkan itu menghela napas tidak berdaya.


Reno melihat celananya, ia terkejut karena basah. Kemudian dengan sigap menarik Elisa untuk segera ke kamar mandi dan ia menunggunya di depan pintu.


"Ren, apa yang kamu lakukan?!" teriak Elisa yang di kunci dalam kamar mandi.


"Lihat celana kamu, aku ambilkan celanaku dulu!" jawabnya seraya mengambil celananya untuk Elisa.


"Ren, kenapa dengan Kak Elisa?" tanya Meysia penasaran.


"Lihat ini," Reno memerlihatkan darah yang ada di celananya.


"Astaga, kakak gak sadar haid!" teriak Meysia lantang.


Elisa yang mendengar teriakan Meysia sontak melihat kebawah, benar saja ia sudah berlumuran darah karena darah kotornya keluar banyak, wanita itu daritadi mengira jika celananya yang ia kenakan basah itu karena terangsang, tapi siapa yang mengira kalau malah datang tamu bulanan.


"Mey, Kakak pinjam punyamu!" teriak Elisa dari dalam kamar mandi.


Meysia menghela napas. "Iya, nanti aku ambilkan dulu!"


"Ren, biar aku pinjamkan pakaianku buat Kak Elisa, kasih saja dia sarung dulu," lanjutnya berbicara dengan Reno seraya keluar dari kontrakan.


Reno mengangguk, ia mengambilkan sarung untuk Elisa terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Meysia.


...***...


Setelah Elisa sudah mengenakan pakaian Meysia, mereka bertiga duduk bersama di kontrakan Reno sambil terkikik geli karena kejadian barusan.


"Kalian berdua itu bener-bener membuat aku salah tingkah, kalau saja aku seperti pria lain mungkin kalian berdua sudah hamil," ucapnya tidak berdaya.


"Mana ada Mas Koplak berani melakukan itu?" goda Elisa sambil menaik turunkan alisnya.


Meysia mengangguk setuju, pada dasarnya mereka berani menggoda Reno juga karena pria itu di yakini mampu menahan napsunya.


Reno menghela napas tidak berdaya, mereka tidak tahu saja kalau dirinya juga memiliki batas kesabaran, jika terlalu kelewatan bisa-bisa pria itu lepas kendali.


Tiba-tiba ponsel Elisa berdering, wanita itu langsung mengangkatnya. "Halo Pak Sunardi, ada apa?"


"Elisa, kamu cepat bantu bapak ke rumah sakit Kasih bunda, cepat!" seru pria sepuh itu dari seberang telepon dan langsung mematikannya sebelum Elisa bertanya lebih lanjut.


"Ada apa?" tanya Reno penasaran.


"Pak Sunardi menyuruh aku datang ke rumah sakit mutiara bunda, tampaknya ada masalah serius di sana, Ren!" jawabnya yakin.


"Kalau begitu kita kesana sekarang juga! Mey, kami pergi dulu, kamu pulang saja dulu, yah!" perintah Reno lembut.


Meysia mengangguk mengerti, karena ia sekarang sudah tahu pekerjaan Reno dan Elisa, jadi dirinya tidak menanyakan lebih detail lagi.


Mereka bertiga keluar dari kontrakan Reno, setelah menutup pintu dan menguncinya, Reno dan Elisa bergegas berangkat ke rumah Sakit mutiara bunda, sementara Meysia kembali ke rumahnya.


...***...


"Ren, kamu sebenarnya suka dengan Meysia juga, kan?" tanya gadis itu ketika berboncengan di motor.


"Mulai, mau buat drama lagi?" Reno balik bertanya.


"Ih!" Elisa mencubit pinggang pria itu.


"Aw, sakit Mba Kunti, aku lagi nyetir ini," keluar Reno.


Elisa tersenyum simpul, ia memeluk pria yang sedang bersamanya itu dengan erat, seolah tidak ingin melepaskannya.


Reno mengusap lengan wanita itu, ia juga tidak ingin momen tersebut cepat berakhir, karena hanya di saat seperti itu tidak ada yang mengganggu kemesraan keduanya.


Motor butut Reno terus melaju ke arah Rumah Sakit mutiara bunda, ketika hampir sampai di sana, keduanya merasakan energi spiritual yang kuat sama seperti ketika mereka bertarung bersama di Universitas.


Reno bergegas memarkirkan motornya, mereka langsung bergegas mencari dimana Pak Sunardi berada.


Terlihat didepan rumah sakit tampak sangat ramai, bahkan pasien juga ada di luar, mereka yakin ada yang sangat mendesak di dalam.


Reno dan Elisa membelah banyaknya orang-orang yang ada di sana untuk membuat jalan, Polisi penjaga yang melihat keduanya akan menerobos masuk menghentikannya.


"Mau kemana kalian? Bahaya didalam!" tegur polisi tersebut.


Elisa menghela napas. "Kamu berdua murid Pak Sunardi!" seru Elisa.


Polisi masih tidak percaya dengan keduanya, Reno dan Elisa mulai gusar karena terus dihalangi ketika mau masuk.


"Pak percayalah! Kami murid Pak Sunardi dan harus cepat membantunya!" seru Reno mulai tidak sabar.


"Mana buktinya? Pak Sunardi tidak bilang kalau memanggil kalian!" jawab Polisi itu tegas.


Prang


Kedebug


Anak buah Pak Sunardi terjatuh dari lantai dua, sontak saja membuat semua orang terkejut, polisi langsung menolong pria yang terjatuh dari lantai dua tersebut, termasuk polisi yang menahan Reno dan Elisa.


Mereka berdua kemudian menggunakan kesempatan tersebut untuk masuk kedalam, polisi yang melihat mereka berdua masuk kedalam berteriak.


"Hei berhenti!" seru Polisi mengejar keduanya. Namun, Reno dan Elisa tidak menggubrisnya sama sekali, mereka berdua tetep kekeh masuk kedalam.


Polisi itu mengepalkan tangannya, ia akan mengejar masuk tapi takut, karena sudah melihat sendiri jika lawan mereka di dalam bukanlah manusia, melainkan mahluk astral yang merasuki tubuh manusia, sehingga polisi hanya bisa mengumpat dalam hati saja.