
Reno tidak tahu harus berkata apa, pria itu bingung karena mendadak mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Pak Sunardi, apa maksud Bapak?" tanya Elisa mengalihkan pembicaraan, agar Reno tidak merasa tertekan.
"Elisa, ada seseorang yang sedang mengincar kamu. Bapak yakin kalau orang tersebut lebih kuat dariku, entah apa yang mereka cari darimu, hanya Reno yang bisa melindungi kamu, karena kekuatannya sudah melampaui Bapak," ungkap Pak Sunardi.
"Aku mau saja menikah dengan Reno, tapi apa Ayah dan Ibu merestui," jawab wanita itu langsung.
"Mba Kunti kamu...." Reno menegur Elisa.
Elisa tersenyum ke arah Reno. "Bukankah sudah jelas, kalau aku dari awal sudah suka denganmu, kamunya saja yang gak peka."
Reno terdiam, ia menatap lekat-lekat wanita dihadapannya itu yang seolah tidak merasa risih sama sekali menyatakan perasaannya didepan banyak orang.
Herman dan Sulastri menghela napas berat, karena anak gadisnya itu memang selalu berbuat seenaknya sendiri kalau sudah menyangkut urusan pribadinya.
"Elisa, apa kamu tidak menghargai Kakak sama sekali?" tanya Aris sambil menunjukkan wajah memelas.
Elisa mengernyitkan dahi. "Salah siapa sudah bangkotan gak nyari-nyari calon istri, malu tuh sama anak tetangga, Kak."
Aris menundukkan kepalanya, ingin rasanya ia *******-***** mulut adiknya yang ceplas-ceplosnya tersebut.
Pak Sunardi tersenyum penuh arti, keluarga tersebut memang selalu mengambil keputusan bersamanya, karena ia memang sudah menjadi bagian dari keluarga Sanjaya.
"Ren, bagiamana dengan kamu? Apa kamu bersedia menikahi Elisa?" tanya Pak Sunardi memastikan.
Reno menggaruk belakang kepalanya. "Emmm... anu Pak, aku... aku belum punya modal untuk menikah, tabunganku masih sedikit, takut kalau tidak bisa membahagiakan Mba Kunti nantinya," jawab Pria itu polos.
"Kalau masalah itu jangan khawatir, calon mertua kamu orang paling kaya di kota Senja, aku yakin mereka tidak keberatan menerima kamu," jawab Pak Sunardi yakin.
Reno menggelengkan kepalanya. "Ini bukan masalah kaya atau tidak Pak, yang mau menikah aku, ya harus aku yang bertanggung jawab, adapun untuk melindungi Elisa, aku juga berencana tinggal di sini, menjadi pengawal Elisa mungkin," ucapnya yakin.
Semua yang ada di sana menatap Reno penuh arti, mereka tidak menyangka sama sekali kalau Reno memiliki pemikiran yang begitu dewasa.
Mata Elisa berkaca-kaca, wanita itu jadi semakin menyukai Reno. Pasalnya pria itu tetap teguh dengan pendiriannya.
"Ren, kamu yakin mau menunggu sampai punya modal?" tanya Pak Sunardi memastikan.
"Yakinlah, makanya aku minta bayaran cepet kalau sudah menjalankan misi dan Bapak belum memberikan bayaran tadi siang, mana?" jawab Reno sambil menengadahkan tangannya.
"Eh...." Pak Sunardi tercengang malah dia ditagih sama Reno.
Mereka semua tertawa bersama di ruangan itu karena celetukan Reno yang mendadak. Kedua orang tua Elisa juga mulai menyukai pria itu yang terlihat apa adanya dan bertanggung jawab.
Hingga akhirnya Reno pun diterima kerja oleh Herman untuk menjadi pengawal pribadi putrinya, sambil menunggu pria itu berhasil mengumpulkan uang untuk menikahi putrinya.
...***...
Sementara itu ditempat wanita paruh baya yang mengincar Elisa. Ia sedang duduk bersama dengan beberapa bawahannya.
"Kita harus cepat mendapatkan gadis itu sebelum menikah, hanya itu caranya agar kekuatanku tidak ada yang bisa menandingi!" seru wanita itu penuh dengan penekanan.
"Nyonya, tapi bagaimana caranya, dia di jaga ketat oleh Sunardi?" tanya bawahannya.
"Tunggu momen di saat ia tidak dijaga Sunardi! Kalian terus saja pantau keberadaannya, tangkap dia jika sudah tidak di kawal lagi!" ucapnya yakin.
Mereka semua kemudian meninggalkan tempat tersebut, di sana hanya tinggal wanita paruh baya itu sendirian bersama dengan Kuyang yang selalu menemaninya.
Kepercayaan terhadap ilmu hitam membuat wanita itu gelap mata, entah sudah berapa gadis yang di bunuhnya, hanya demi sebuah kekuatan yang sangat di puja nya.
...***...
Malam hari dikediaman Sanjaya, Reno yang sudah resmi pindah ke rumah Elisa. Pria itu sedang duduk di teras sambil berkerudung sarung karena malam itu sangat dingin.
"Ren, ini teh hangat buat kamu," Elisa tiba-tiba datang membawakan teh hangat untuk Reno.
"Terima kasih Mba Kunti," ucapnya sambil menyunggingkan senyum manis.
Elisa duduk di samping Reno, wanita itu mengenakan Sweater karena malam itu memang sangat dingin.
Reno menyeruput teh manis buatan calon istrinya tersebut dengan penuh penghayatan, membuat Elisa yang melihatnya tersipu malu.
"Teh buatan calon istri memang rasanya berbeda dengan teh warteg," celetuk pria itu memuji.
"Apaan sih, lebay." tegur Elisa malu-malu kucing dengan wajah merah merona.
"Serius, rasanya enak sekali, manisnya pas," pujinya sambil tersenyum.
Wajah Elisa semakin merah. "Ih... gombal," ucap wanita itu senang.
"Mba Kunti, ngomong-ngomong kamu tahu tidak kenapa ada yang mengincar mu?" tanya Reno serius.
"Entahlah Ren, aku juga tidak tahu, padahal kemarin-kemarin tidak apa-apa. Kenapa mereka mengincar ku yah?" jawabnya tidak berdaya.
Reno menghela napas. "Andai Pak Sulaiman masih hidup, pasti aku bisa bertanya padanya."
"Eh... apa maksud kamu?" tanya Elisa bingung.
Reno kemudian menceritakan kalau Pak Sulaiman sudah tidak ada, karena mewariskan energi spiritual padanya ia harus mengorbankan nyawanya.
Elisa jelas saja terkejut, ia mengira kalau guru Reno masih ada. Ternyata alasan Reno tinggal di kontrakan juga karena gurunya telah tiada. Wanita itu turut prihatin dengan Reno, pasalnya ia tahu kalau pria tua itu sudah di anggap Reno sebagai orang tuanya, mengingat pria yang di sukainya itu tidak punya siapa-siapa lagi.
"Kamu yang sabar yah Ren," ucap Elisa lembut.
"Aku sudah terbiasa hidup sendiri Mbak kunti, jadi tidak aku tidak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum getir.
Elisa menyenderkan kepalanya di bahu Reno, ia sebenarnya ingin cepat menikah dengan pria itu, hanya saja Reno tetep kekeh dengan pendiriannya, padahal jika mereka menikah, ia berniat akan memberikan segalanya untuk Reno.
Elisa sangat tahu kalau Reno dari kecil kurang kasih sayang, orang tua kandung tidak pernah memberikan kasih sayang, ia sangat yakin kalau sebenarnya pria yang dikaguminya itu butuh sosok untuk bersandar.
"Ren, kenapa kamu tidak mau menikah denganku langsung sih?" tanya Elisa memastikan.
Reno menghela napas berat. "Sebenarnya aku masih punya misi dari Pak Sulaiman, aku di suruh melenyapkan orang-orang yang memiliki ilmu hitam terlebih dahulu, kata beliau jika aku menikah terlebih dahulu, bebanku akan bertambah dan tidak bebas bertindak." jawabnya tidak berdaya.
Elisa terkejut dengan jawaban Reno, ia langsung mengangkat kepalanya dan bertanya dengan serius. "Jadi alasannya bukan masalah uang, Ren?"
Reno menggelengkan kepalanya. "Bukan, maaf Mba Kunti, tapi itu permintaan terakhir Pak Sulaiman, mau tidak mau aku harus menjalankannya, apa kamu mau menungguku?"
Reno berharap Elisa mau menunggunya, ia juga sudah terlanjur jatuh cinta dengan wanita itu, sebenarnya ia juga Ingin menikahinya, tapi apa boleh buat masih ada satu ganjalan dalam hidupnya.