
Reno dan Elisa mengobrol sampai malam di teras, hingga tanpa pria itu sadari. Elisa terlelap di bahunya.
"Elisa...." Reno melirik wanitanya itu, ia menghela napas ketika melihat Elisa sudah terlelap.
"Pantas saja dari tadi gak menyahut," gumamnya lirih.
Pria itu dengan hati-hati membawa Elisa masuk kedalam seperti kemarin, tanpa Reno sadari Elisa menyunggingkan senyum sambil sedikit mengintip prianya itu yang akan menggendong dirinya masuk kedalam rumah.
Kedua orang tua Elisa dan Kakaknya sudah tertidur, karena hari memang sudah larut malam. Pria itu dengan hati-hati membawa Elisa ke kamarnya.
Sesampainya dikamar, Elisa langsung terbangun, ia segera turun dari gendongan Reno lalu menutup pintu dan menguncinya.
Reno tertegun sesaat, ia kemudian buka suara. "Elisa apa yang kamu la... mmp...."
Mata Reno membelalak lebar ketika Elisa langsung mengecup bibirnya dengan rakus, pria itu dengan susah melepaskan calon istrinya tersebut.
"Apa yang kamu lakukan? Kita belum menikah!" tegur Reno dengan suara sedikit ditahan.
Elisa memeluk Reno dengan erat. "Aku sudah ingin tidur ditemani kamu, apa tidak boleh, lagi pula kita juga akan menikah nanti," ucapnya sambil mendongak menatap prianya itu.
"Tapi tidak begini caranya, kamu yang bilang lusa juga kita sudah menikah," balasnya tidak berdaya.
"Pokoknya malam ini aku mau tidur denganmu," wanita itu semakin erat memeluk Reno.
Reno menghela napas. "Oke-Oke, aku akan menemani kamu," jawabnya daripada Elisa ngambek.
Elisa tersenyum, ia menarik Reno ke ranjang miliknya. Pria itu terpaksa menemani Elisa tidur, mereka pun tidur bersama dengan di sana.
Awalnya Reno mengira hanya menemani Elisa untuk tidur bersama, akan tetapi wanita itu sepertinya sudah tidak bisa menahan napsunya sama sekali.
Elisa terus saja memanasi Reno, pria yang masih polos itupun akhirnya terbuai dengan rangsangan demi rangsangan yang diberikan Elisa.
Reno mulai menikmati setiap inci tubuh Elisa, pada saat mereka benar-benar sudah polos tidak mengenakan apa pun.
"Lakukan Ren...." perintah Elisa dengan napas yang memburu.
"Kamu yakin?" tanya Reno memastikan.
Elisa menganggukkan kepalanya dengan mantap, Reno pun menuntun pusakanya masuk kedalam liang kenikmatannya.
Elisa menggigit bibir bawahnya sambil mencengkram sprei dengan erat ketika Reno dengan kasar menghujamkan pusakanya hingga selaput dara Elisa robek.
Darah segar mengalir di sela-sela dua sumber kenikmatan keduanya. Karena ini pertama kali untuk Reno, ia tidak tahu kalau Elisa merasakan kesakitan.
Bukannya mendiamkan pusakanya terlebih dahulu, ia langsung memompanya dengan penuh semangat.
Elisa merasakan perih, air mata menetes keluar membasahi pipinya, tapi ia tidak menahan Reno sama sekali.
Seiring berjalannya waktu, rasa sakit yang dirasakan Elisa berubah menjadi kenikmatan, pada saat itu Elisa mulai liar kembali, ia mengikuti setiap gerakan Reno.
Ahhh...
******* keduanya terdengar, mengiringi pergulatan tersebut. Mereka berdua menikmati surga dunia tanpa peduli status mereka yang belum resmi.
Karena Reno belum bisa mengatur irama permainannya dan liang kenikmatan Elisa masihlah sangat sempit, hanya lima belas menit saja dia sudah mencapai puncak dan ambruk di atas Elisa.
Terdengar napas memburu keduanya, Elisa memeluk erat pria itu sambil mengecup pipinya.
"Sayang lagi...." rengek Elisa sambil menggerak-gerakkan pinggulnya meminta lebih.
"Pokoknya lagi," Elisa merangsang Reno kembali.
Hingga akhirnya setelah beristirahat sebentar, pusaka Reno kembali pulih dan melakukan ronde kedua.
Kali ini mereka berganti beberapa gaya, pria itu mulai terbiasa, apa lagi Elisa yang tampak begitu mahir dan mengajarinya.
Mereka pun mencapai ******* bersama setelah beberapa waktu. Keduanya ambruk di ranjang dengan napas tersengal-sengal dan peluh yang membasahi tubuh mereka.
Bercak darah terlihat di sprei Elisa, karena memang wanita itu masih gadis.
"Terima kasih sayang," ucap Pria yang usianya lebih muda dua tahun daripada Elisa sambil mengecup kening wanitanya itu yang meringkuk di sampingnya.
Elisa tersenyum. "Nanti kalau sudah resmi, kita bisa melakukannya setiap hari, dua hari lagi pasti aku sudah sembuh," goda wanita itu manja.
Reno tidak tahu harus tertawa atau menangis, wanitanya itu benar-benar sangat liar, bisa di kategorikan wanita Hyper mungkin.
Mereka berdua terlelap bersama saling berpelukan satu sama lain dengan raut wajah bahagia.
...***...
Di waktu yang sama, terlihat Pak Sunardi yang sedang menemui wanita paruh baya pemimpin kelompok Gagak hitam.
"Wulandari! Kamu ini ceroboh sekali, bukankah aku sudah bilang padamu bersabarlah hingga Elisa menikah terlebih dahulu, dengan begitu kita bisa memburunya kapanpun kita mau!" tegur Pak Sunardi kepada Wanita paruh baya tersebut.
"Terlalu lama Sunardi! Lagian tidak ada salahnya dia masih perawan juga, daripada nanti dia di jebol sebelum menikah, yang ada kita rugi tidak bisa mendapatkannya lagi!" balas Wulandari tidak mau kalah.
"Ckk, pria yang bersamanya masih sangat polos, mereka tidak mungkin melakukannya sebelum menikah, percayalah padaku!" ucap Sunardi lagi sambil berdecak.
"Aku tidak yakin, mereka saja sudah sangat dekat, mana ada pria yang bisa tahan melihat pepesan lama," jawab Wulandari datar.
"Percayalah, lusa mereka sudah menikah, sesudah pengantin baru kita akan memburunya, kekuatannya juga akan melemah selama satu hari setelah menikah, kita bisa menggunakan kesempatan itu," ucap Sunardi yakin.
Wulandari menghela napas. "Terserah kamu saja, tapi jika sampai Elisa sudah tidak perawan lagi sebelum menikah aku akan membunuhmu!" hardiknya sambil berlalu pergi dari ruangan yang temaram tersebut.
Pak Sunardi menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap rekannya itu. "Elisa, sebentar lagi kamu akan menjadi wadah yang pas untuk menambah energi spiritual ku," gumamnya sambil menyeringai.
Secara tidak langsung, tindakan Elisa yang menggoda Reno untuk menjebol keperawanannya membuat dirinya terbebas dari incaran kelompok tersebut.
Jika Elisa ditangkap ketika masih perawan atau tidak perawan setelah menikah darahnya masihlah suci menurut mereka. Namun, saat Elisa sudah tidak perawan lagi saat belum menikah, maka diyakini darahnya sudah kotor, karena itulah Pak Sunardi ingin cepat Elisa menikah, tujuannya untuk menghindari kejadian itu.
Sayangnya Pak Sunardi sudah salah perhitungan, nyatanya Elisa dan Reno yang semakin didekatkan mereka berdua tidak bisa menahan birahi masing-masing.
...***...
Ke esokan harinya, Reno terbangun dari tidurnya terlebih dahulu sebelum Elisa. Tentu saja pria itu panik karena takut dimarahi kedua orang tua Elisa.
"Sayang bangun," Reno membangunkan Elisa dengan lembut.
Wanita itu mengerjapkan matanya, ia kemudian terbangun, tersenyum ketika melihat Reno dan langsung menyosor bibir pria itu.
Reno menghela napas, setelah Elisa melepaskannya ia bertanya. "Sayang, aku pasti akan dimarahi kedua orang tua kamu ini."
Elisa bukannya takut malah tersenyum. "Biasa saja sih, lagi pula kita akan menikah, sudahlah jangan dipikirkan." jawabnya enteng sambil memeluk prianya itu.
Reno tidak bisa berkata-kata lagi, ia tidak menyangka kalau Elisa akan sesantai itu.