Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Kemesraan



Sementara Ibu Reno yang masih meratapi kesalahannya karena telah menelantarkan sang anak.


Reno sudah mulai beraktivitas kembali setelah tubuhnya kembali pulih seperti sedia kala.


Pria itu turun dari kamarnya bersama dengan Elisa. Mereka berdua mengernyitkan dahi ketika mendengar suara tawa wanita dan Aris di ruang tamu.


"Kak Aris punya pacar?" tanya Reno pada Istrinya.


Elisa menggendikkan bahu. "Aku tidak tahu."


Mereka berdua bergegas turun kebawah untuk melihat siapa yang sedang bersama dengan Aris.


Pasangan suami istri tersebut mengernyitkan dahi ketika melihat siapa yang sedang bercanda bersama dengan sang kakak.


"Meysia!" ucap mereka berdua bersamaan.


Aris dan Meysia yang sedang duduk bersama saling merangkul reflek menoleh kebelakang.


"Halo Kak Elisa," sapa wanita itu sambil tersenyum simpul.


"Kalian....?" Elisa menghentikan ucapannya sambil menatap Kakaknya menyelidik.


"Kenapa? Memangnya tidak boleh aku dekat dengan Meysia?" ucap pria itu santai.


Elisa dan Reno kembali saling menatap, mereka berdua masih tidak percaya kalau keduanya akan menjalin sebuah hubungan, walaupun memang dibolehkan karena meskipun masih saudara tapi saudara jauh.


"Perkenalkan, pacarku yang cantik jelita ini," ucap Aris sombong sambil menaik turunkan alisnya.


Elisa dan Reno tersenyum getir, mereka tidak menyangka jika sang kakak akan menjadikan Meysia sebagai pacarnya. Namun, Elisa cukup senang dengan begitu Meysia tidak akan mengejar-ngejar Reno lagi.


"Lanjutkan deh, kami mau pergi, kalau Ibu mencari bilang saja kami sedang jalan-jalan," ucap Elisa sambil menarik Reno agar pergi dari sana.


"Iya-Iya sana pergi," usir Aris.


Elisa bergegas pergi dengan Reno, malas meladeni kakaknya yang pasti akan bertambah sombong jika terus di ajak bicara.


Mereka berdua keluar dari rumah untuk sekedar jalan-jalan dekat komplek perumahan wilayah tersebut, agar Reno yang sudah terbaring dua hari melemaskan otot-ototnya.


Pasangan suami istri tersebut tampak terlihat mesra dengan Elisa yang selalu merangkul lengan Reno, membuat orang-orang yang melihatnya cukup iri, apalagi paras Elisa cukup cantik.


"Sejak kapan mereka pacaran? Apa sewaktu aku tidak sadarkan diri?" tanya Reno pengin tahu.


"Kenapa memangnya? Kamu masih berharap dengan Meysia?" Elisa balik bertanya dengan suara mengintimidasi.


"Mana ada astaga, apa sih yang kamu pikirkan? Aku cuma bertanya saja, lagian kalau aku berharap padanya yang ada Istriku yang cantik ini bisa membunuhku," goda Reno.


"Ih apaan sih, mana ada aku tega membunuhmu, paling aku pasung kamu dikamar," balas Elisa.


Mereka berdua bercanda sambil jalan, pasangan suami istri tersebut tampak sangat harmonis. Elisa yang sebenarnya lebih dewasa dari Reno bisa mengimbangi pemikiran suaminya tersebut yang notabenya masih remaja.


Mereka berdua duduk di kursi taman yang ada disekitar wilayah tersebut, mereka berdua melihat ada sebuah keluarga yang sedang bermain dengan anaknya.


"Ren, kalau punya anak, kamu maunya cowo atau cewe?" tanya Elisa lembut sambil menyenderkan kepalanya di bahu Reno.


"Cewe atau cowo sama saja, asalkan mereka lahir dengan selamat bersama Ibunya nanti, tapi kalau boleh memilih aku ingin cowo," jawabnya santai.


"Tapi aku maunya cewe dulu," ucap Elisa manja.


"Boleh, kalau bisa kemar Cewe dan Cowo," Reno tersenyum sambil melihat wajah Istrinya.


Elisa mengernyitkan dahi. "Melahirkan satu anak saja sakit, gimana kalau kembar?"


"Memang kamu pernah? Orang kalau buat saja ke enakan, masa sakit sih?" goda Reno.


"Beda ih...." Elisa merajuk manja.


Reno tersenyum simpul, ia mengusap puncak kepala lalu mengecup kening Istrinya. Pria itu merasa beruntung karena dipertemukan dengan Elisa. Ia teringat dulu waktu awal bertemu dengan Istrinya yang merupakan sesosok Hantu sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Elisa menyelidik saat melihat suaminya senyum-senyum sendiri.


Reno menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, aku hanya teringat dulu saat bertemu dengan hantu cantik yang menemaniku."


"Hihihi... tidak menyangka yah kalau kita bakal menikah, padahal dulu aku hanya kasihan dengan Mas Koplak yang keterbelakangan mental," goda Elisa sambil terkikik geli.


"Kalau aku tidak sembuh, apa kamu akan tetap menikah denganku?" tanya Reno memastikan.


Elisa menghela napas. "Kamu tahu gak kenapa aku mau menikah denganmu?"


Reno menggelengkan kepalanya, karena memang ia tidak tahu alasannya sama sekali.


"Kamu ingat waktu aku pulang kerumah terluka? Saat itulah aku mulai suka padamu," ucapnya jujur.


Reno mengernyitkan dahi. "Astaga, ternyata kamu suka dengan pria keterbelakangan mental?" goda pria tersebut pada istrinya.


"Apaan sih, kenyataannya memang seperti itu," jawabnya sambil menggembungkan pipi kesal.


"Iya-Iya, setidaknya aku tahu kalau kamu benar-benar suka denganku dan mau menerima aku apa adanya, walaupun kemarin sempat goyah," celetuk Reno.


"Mulai deh, jangan bahas itu kenapa, Raka juga sudah meninggal, sudah tidak ada hubungan lagi denganku," Elisa menghela napas berat.


Reno tersenyum simpul, ia kembali mengecup kening istrinya, karena sedari tadi hanya ingin menggoda wanita yang sudah menjadi bagian dari hidupnya tersebut.