
Hari-Hari mereka berdua lewati tanpa adanya gangguan apa pun, bisa dibilang keduanya sedang menikmati kebahagian mereka.
Hingga setelah dua bulan pernikahan mereka , pagi-pagi buta Reno dikejutkan dengan Elisa yang tiba-tiba marah-marah dan mengusirnya dari kamar.
"Sayang kamu kenapa?!" teriak Reno dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
"Menjauh dariku Reno! Aku tidak ingin melihat wajahmu!" sahut Elisa dari dalam kamar.
"Sayang, apa salahku? Kita bicarakan ini baik-baik!" seru Reno tidak berdaya.
"Aku bilang pergi ya Pergi!" balas Elisa berteriak dari dalam kamar.
Reno tidak tahu kenapa Istrinya tiba-tiba marah kepadanya, padahal kemarin masih baik-baik saja.
Pria itu jelas bingung, ia tidak tahu apa yang terjadi, kapan dirinya melakukan kesalahan karena dari kemarin Elisa tidak seperti itu. Ia menghela napas panjang sambil bersandar di pintu.
"Ren, ada apa ini? Pagi-pagi kalian sudah ribut?" tegur Ibu Mertuanya yang datang bersama sang Suami karena mendengar teriakan mereka berdua.
"Ibu, Ayah, aku juga tidak tahu kenapa Elisa tiba-tiba marah-marah dan mengusirku dari kamar," jawabnya dengan wajah sendu.
"Mengusir kamu? Kenapa Elisa melakukan itu, bukannya dia selama ini selalu nempel kaya perangko?" tanya Herman menyelidik.
Reno menggelengkan kepala tidak berdaya. "Entahlah Ayah, aku juga tidak tahu kenapa Elisa tiba-tiba begini."
Herman dan Sulastri saling menatap, mereka berdua berpikiran sama, kalau Reno tidak mungkin selingkuh, karena hari-harinya saja selalu bersama dengan Elisa selama ini.
"Kamu yakin tidak melakukan kesalahan?" tanya Sulastri lembut.
"Aku sangat yakin Bu, karena dia marah-marah saat aku memeluknya ketika Elisa baru bangun seperti biasa, tapi kali ini dia mendorongku dan menyuruh aku pergi," jawabnya tidak berdaya.
Sulastri mengernyitkan dahi, wanita paruh baya itu terlihat berpikir sebentar, sebelum akhirnya buka suara.
"Ya sudah, kamu lebih baik jangan dekat dengannya dulu, biar Ibu yang bicara dengan Elisa."
Reno menghela napas. "Baik Bu, tolong bujuk Elisa," ucapnya lembut.
Sulastri mengangguk sambil tersenyum, pria itu kemudian meninggalkan tempat tersebut dengan lantai gontai.
Sulastri melihat menantunya itu sangat terpukul dengan kejadian tersebut, terlihat dari raut wajahnya yang lesu.
"Kamu tahu kenapa Elisa seperti ini Bu?" tanya Herman kepada Istrinya.
Sulastri menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku juga tidak tahu pasti, tapi gejalanya mirip ketika aku mengandung Elisa dulu."
Herman mengernyitkan dahi lalu bertanya. "Maksud kamu?"
"Ayah ingat tidak ketika aku selama satu Minggu malas sekali berdekatan dengan Ayah? Jangankan untuk bersentuhan, menatap wajah Ayah saja waktu itu aku sangat tidak suka," ucapnya menjelaskan.
"Astaga, jangan bilang kalau Elisa...."
"Itu masih dugaan Ayah, lebih baik Ayah telepon dokter saja untuk memastikan, aku bicara dengan Elisa terlebih dahulu," ucapnya sambil mendekat ke pintu kamar anaknya.
Herman mengangguk mengerti, ia sesegera mungkin menelepon Dokter agar datang ke rumahnya untuk memeriksa Elisa lebih lanjut.
Sementara itu Sulastri mengetuk pintu anaknya lalu memanggilnya.
Tok... Tok....
"Elisa sayang, ini Ibu... buka pintunya," panggil Sulastri lembut.
"Tidak mau, ada Reno diluar!" sahut Elisa dari dalam.
Sulastri menghela napas. "Tidak ada Nak, Ibu sudah menyuruhnya pergi."
Tidak terdengar jawaban dari dalam, tapi beberapa saat kemudian terdengar suara kunci pintu dibuka, lalu terlihat Elisa menjulurkan kepalanya dari balik pintu, wanita itu menyapu pandangannya di sekitar sana.
Sulastri tersenyum melihat sikap Elisa. "Reno sudah Ibu suruh pergi dulu, bicara dengan Ibu, apa yang sebenarnya terjadi."
Elisa menarik Ibunya masuk kedalam kamar lalu mengunci pintu kamar kembali.
Sulastri duduk di ranjang anaknya, Elisa kemudian menghampirinya dan langsung memeluk sang Ibu.
"Bu, apa aku sudah bosan dengan Reno?" tanyanya polos.
"Loh kenapa?" tanya wanita paruh baya itu.
Elisa menghela napas. "Saat bersamanya aku merasa sangat membencinya, apakah karena aku sudah tidak menyukainya?"
Sulastri tersenyum, ia mengusap puncak kepala anaknya dengan lembut. "pernikahan kalian baru seumur jagung, harusnya kalian masih dalam masa-masa harmonis, tidak baik berbicara seperti itu, bicarakan baik-baik dengannya apa masalah kamu kenapa sangat membencinya," ucapnya pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Aku juga tidak tahu Bu, tiba-tiba saja sangat membencinya," jawab Elisa tidak berdaya.
Sulastri semakin yakin kalau anaknya sedang mengalami masa perubahan hormon.
Kehamilan tidak hanya mengubah fisik seorang perempuan Perubahan yang terjadi pada kehamilan juga bisa bersifat emosional.
Beberapa wanita bingung dengan perubahan yang sangat tiba-tiba, dan akhirnya mereka membenci suami mereka sendiri (orang yang paling sering mereka temui). Perubahan perasaan ini juga dipengaruhi oleh faktor hormonal. salah satunya kasus seperti yang sedang di alami Elisa.
Sulastri berpikir kalau anaknya memang sedang hamil, mengingat mereka sudah menikah selama dua bulan lebih.
Wanita paruh baya itu hanya mendengarkan cerita anaknya, agar Elisa tenang dan rileks, sehingga tidak mempengaruhi mentalnya.