
Kuyang tidak berdaya dibanting Wowo ke sana kemari, anggota tubuhnya yang berupa hanya organ dalam saja serasa mau terlempar dari tempatnya.
"Genderuwo brengsek, lepaskan aku!" seru Kuyang yang masih dibanting Wowo.
"Enak saja, kamu pikir aku bakal tergoda denganmu, sory yah aku punya selera yang bagus," celetuk Wowo.
"Brengsek, aku akan menggigit mu sampai mati!" teriak Kuyang geram.
"Heleh, kau saja tidak bisa apa-apa!"
Bag
Bug
Wowo terus-menerus membanting Kuyang tanpa henti, sosok tersebut sangat tahu kalau lawannya itu tidak akan bisa apa-apa jika diperlakukan seperti itu.
"Nona Wulandari tuluuuung!" seru Kuyang yang tidak bisa bergerak.
"Hahaha... ayo menangis hantu aneh!" ejek Wowo.
Sementara itu pertarungan Ifrit dan Buta Ijo terus berlangsung, terlihat Ifrit yang tanpa ampun membakar Buta Ijo dengan apinya.
Sayangnya karena terlalu fokus dengan Buta Ijo, ia melupakan tugasnya untuk melenyapkan semua bawahan Sunardi dan Wulandari.
Ifrit memiliki dendam pribadi dengan Buta Ijo, karena dulu sebelum menjadi bawahan Wulandari, sosok tersebut pernah membantu orang yang menyegel dirinya dulu. Karena itulah Ifrit begitu ingin melenyapkan sosok tersebut.
Duar
Blaar
Argh!
Buta Ijo meraung kesakitan ketika Ifrit membakarnya dengan Api yang sangat besar.
"Hahaha... musnahlah kau bedebah! Gara-gara kamu aku harus tersiksa tanpa kekuatan!" serunya sambil tertawa.
Melihat penderitaan Buta Ijo yang terbakar oleh apinya sosok Jin kuat itu sangat senang, karena akhirnya ia bisa membalaskan dendam.
Warga yang keluar dari rumah, mereka semua ketakutan saat melihat kobaran Api yang begitu besar dijalan depan rumah Elisa.
"Astaga, api apa itu?"
"Cepat lari, sebelum kita terbakar!"
"Tuluuuung!"
Para warga yang dekat dengan rumah Elisa berhamburan melarikan diri, mereka mengajak sanak saudara mereka untuk menjauh dari tempat tersebut.
...***...
Sementara itu di rumah Elisa, terlihat Herman, Istrinya dan Aris sedang berada didepan rumah menyaksikan kejadian tersebut.
"Ayah, kita juga harus pergi dari sini!" seru Aris.
"Kamu benar, cepat panggil Elisa dan Reno!" perintah Ayahnya.
"Tidak mau, mereka pasti lagi enak-enak," jawab Arios cemberut.
"Kamu ini apaan sih? Cepat panggil adikmu, kamu mau mereka kenapa-kenapa?!" bentak Ayahnya.
"Baik Ayah," jawabnya tidak berdaya.
Aris dengan terpaksa memanggil Reno dan Elisa, agar mereka juga meninggalkan tempat tersebut bersama.
"Sayang, kamu panggil seluruh pelayan agar keluar rumah juga, aku akan menyiapkan mobil!" perintah Herman yang bergegas menyiapkan mobil.
Sulastri mengangguk mengerti perintah suaminya, ia bergegas memanggil para pelayan rumahnya agar pergi bersama mereka.
Saat mereka semua sedang panik, Pak Sunardi dan Wulandari masuk ke rumah tersebut, mereka bersama dengan jin Sunardi berniat untuk menangkap Elisa.
"Dimana kembarnya Sunardi?!" bentak Wulandari.
"Itu di atas!" seru pria tua itu menunjuk lantai dua.
Mereka berdua bergegas naik ke atas untuk menangkap Elisa. Sunardi yang sudah melihat Jin bawahan Reno ada didepan melawan Jin para bawahannya dan milik Wulandari, ia berpikir kalau Reno sudah tidak memiliki pelindung lagi.
Saat mereka sampai di atas, terlihat Aris, Reno dan Elisa yang akan turun, mereka berpapasan di sana.
"Jangan Kak, Pak Sunardi yang melakukan ini semua!" seru Elisa.
"Apa maksudmu Elisa?" tanya Aris bingung.
"Kak, Pak Sunardi selama ini telah membohongi kita! Dia sebenarnya jahat!" seru Elisa sambil menatap sinis Pak Sunardi.
Aris tentu saja bingung dengan pernyataan adiknya, karena selama ini Pak Sunardi lah yang telah membantu keluarga mereka.
Pria itu tidak tahu harus berbuat apa, ia menatap Pak Sunardi dengan bimbang, akan tetapi pria tua itu tiba-tiba tertawa.
"Hahaha... terus apa yang akan kalian lakukan kalau tahu aku yang merencanakan ini semua? Bawahan Reno sedang sibuk di depan semuanya, sementara lihatlah bawahanku ini!" Pak Sunardi menunjukkan puluhan Jin yang sudah ditaklukkannya.
Elis menggenggam erat tangan Reno ketika melihat puluhan Jin Pak Sunardi, Wanita itu tahu kalau Jin-Jin Pak Sunardi cukup kuat walaupun tidak sebanding dengan Ifrit.
Aris yang tidak bisa melihat sosok Jin jelas saja bingung, ia tidak tahu ada puluhan Jin di depannya.
Reno menghela napas, ia melepaskan tangan Elisa dan menarik mundur Aris. "Kak, jaga Elisa, biar aku yang menghadapi mereka semua," ucapnya yakin.
"Ren, mereka sangat banyak, kamu tidak bisa melawannya sendirian," ucap Elisa.
Reno mengulas sebuah senyum. "Tenang saja, kita tidak sendirian," jawabnya yakin.
Pak Sunardi mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Reno. Pasalnya pria tersebut tampak sangat percaya diri.
Wulandari juga merasa heran dengan sosok Reno yang seolah tidak takut sama sekali melawan puluhan Jin yang ada didepannya itu.
"Aku akui mentalmu kuat, tapi sayang sekali jika kau tidak menyerahkan Elisa, maka akan ku bunuh!" hardik Pak Sunardi.
Reno menyeringai. "Aku beritahu kamu satu hal Pak tua, sebelumnya aku bertarung dengan Ifrit untuk menaklukkannya dan yang harus kalian tahu aku tidak sendirian!" jawabnya tegas.
"Banyak omong, Kita bunuh saja dia Sunardi!" Wulandari memberikan perintah sambil mengeluarkan sebuah kujang miliknya.
Sunardi mengangguk. "Serang dia!" perintahnya kepada para Jin miliknya.
Para Jin langsung menyerang Reno bersamaan, Elisa akan bergerak menolong Reno, tapi tiba-tiba terlihat Momon yang menyerang para Jin tersebut dengan saudari-saudarinya.
Ternyata Momon menghilang dari tempatnya memanggil bala bantuan berupa hantu yang ada di wilayah tersebut, mereka para hantu Wanita dengan berbagai jenis panggilan.
Reno sudah menyadari kehadiran mereka semua, awalnya ia pikir itu bawahan Sunardi, tapi setelah merasakan energi spiritual Momon, pria itu langsung yakin kalau mereka akan membantunya.
Sunardi jelas saja bingung, karena setiap jinnya harus melawan tiga hantu wanita, jelas saja mereka kewalahan.
Swuz
Duak
Aduh
Pak Sunardi memekik kesakitan ketika Reno meninju wajahnya hingga ia terjungkal ke belakang.
"Hehehe... ternyata kau sudah pikun Pak tua, kita ini sedang bertarung malah ngelamun jorok," ejek Reno.
"Brengsek! Hiaaa....!" Wulandari menghunuskan kujangnya.
Reno yang melihat hal tersebut, ia langsung menghindar. Walaupun wanita sosok tersebut sangat lincah menyerang Reno.
Swut
Swut
Tebasan demi tebasan kujang Wulandari terus di hindari Reno.
Bang
Duak
Wulandari terhempas mundur, ketika Reno berhasil melesatkan sebuah tendangan memutar.
Kedua orang yang berencana menangkap Elisa itu saling menatap kemudian menganggukkan kepala, mereka meluapkan energi spiritualnya dan menyerang Reno secara bersamaan.
"Matilah kau, brengsek!" seru mereka berdua yang menggunakan serangan kombinasi energi Spiritual.
Reno yang melihat hal tersebut, tidak tinggal diam, ia juga melepaskan energi spiritualnya menahan serangan tersebut.