Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Jin Pemakan Jiwa



Reno tidak berbicara sepatah katapun, pria itu hanya mendengarkan keduanya saling beradu argumen satu sama lain.


"Sepertinya aku tidak seharusnya mengganggu pembicaraan kalian," celetuk Reno tiba-tiba sambil beranjak dari duduknya.


"Sayang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya," ucap Elisa sambil mencekal lengan Reno.


Reno mengulas sebuah senyum tipis. "Aku tahu, kamu selesaikan masalah kamu baik-baik, aku tidak akan mengganggu kalian," jawabnya sambil melepaskan tangan Elisa yang mencengkram lengannya.


Reno meninggalkan mereka berdua begitu saja, pria itu sebenarnya merasa sakit melihat Elisa yang ternyata masih memiliki sebuah hubungan dengan pria lainnya.


Alasannya kenapa tidak ingin berada di sana mendengarkan pembicaraan mereka, karena pembicaraan keduanya semakin mengarah ke hubungan yang masih terjalin.


Reno mungkin masih belum tahu banyak masalah percintaan, akan tetapi ia juga tahu pembahasan mereka berdua yang begitu menyakiti perasaannya. Pria itu pergi ke kamar untuk menenangkan dirinya.


"Raka, sebaiknya kamu pulang saja, aku sudah menikah, hubungan kita sudah berakhir!" ucap Elisa dengan suara meninggi.


"Kamu begitu mudahnya melupakan aku Elisa? Hanya demi pria yang lebih muda itu? Aku rela pulang dan datang ke sini untuk melanjutkan hubungan kita," jawabnya yakin.


Elisa menggelengkan kepalanya. "Kau sudah gila Raka! Aku sudah punya kehidupan baru, sebaiknya kamu cepat lupakan aku, cari penggantiku, maaf kita akhiri sampai di sini!" ucapnya sinis sambil meninggalkan pria itu begitu saja dan bergegas mengejar Reno.


Terlihat Raka mengepalkan tangannya, pria itu mendengus kesal kemudian pergi dari kediaman keluarga Sanjaya.


Sementara itu Elisa berlari ke kamarnya, ia membuka pintu kamar, terlihat Reno yang sedang duduk di ranjang sambil melamun.


Wanita itu merasa sangat bersalah, ia dengan cepat menghambur memeluk Reno. "Sayang, dia cuma masalalu ku, kita tidak memiliki hubungan apa pun, kamu jangan marah yah, aku akan selalu menyayangi kamu," ucapnya lembut sambil mendongak menatap wajah suaminya itu.


Reno hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya, pria itu tidak berbicara sama sekali.


Elisa sangat yakin kalau Reno marah padanya, wanita itu tidak tahu harus berbuat apa, pasalnya ia tidak menduga sama sekali kalau Raka akan pulang dan menemuinya.


"Sayang, kamu marah?" tanya Elisa lembut dengan mata berkaca-kaca.


Reno menggelengkan kepalanya. "Aku tidak marah," jawabnya lirih.


"Tapi sikap kamu berubah, kamu pasti marah kan?" cecar Elisa.


Reno tersenyum dan memeluk Elisa. "Aku tidak bisa marah padamu."


"Maaf, aku tidak memberitahu kamu masalah ini, tapi aku berani bersumpah kalau aku hanya mencintai kamu saja," ucapnya sambil memeluk erat suaminya itu.


"Aku tahu itu," ucap Reno sambil mengecup keningnya.


Reno mencoba untuk menahan rasa sakitnya di hari pertama setelah dia menikah, pria itu tidak mau berpikir lebih jauh, asalkan Elisa masih berada di sampingnya, itu sudah cukup untuknya.


...***...


Sementara itu ditempat Raka berada, pria itu pergi ke sebuah tempat, dimana dulu ia pernah mengucap janji dengan Elisa akan selalu bersama.


"Elisa, aku tidak akan melepaskan mu begitu saja, aku akan pastikan jika aku tidak bisa memiliki mu, maka orang lain juga tidak akan ada yang bisa memiliki mu!" gumamnya lirih.


Terlihat Raka benar-benar menyimpan dendam terhadap Reno, pria itu tidak rela kalau Elisa di miliki orang lain.


Pria itu tidak sengaja meluapkan energi spiritual hitam pekat, dari kejauhan tampak sesosok Jin dan langsung merasuki tubuh Raka.


"Hahaha... akhirnya aku menemukan tubuh yang cocok!" tiba-tiba Raka tertawa terbahak-bahak ditempat tersebut.


Orang-orang lewat yang menyaksikan hal tersebut mengira kalau Raka orang gila, karena tiba-tiba tertawa seperti itu.


Raka menyadari hal tersebut, tiba-tiba Raka melesat ke arah salah satu orang, ia mencengkram lehernya.


"Hahaha... waktunya memanen jiwa kalian!" serunya sambil menyedot jiwa orang yang dicengkeramnya tersebut.


Orang itu berusaha berontak, akan tetapi ketika jiwanya mulai terserap masuk kedalam mulut Raka, Orang tersebut seketika berhenti bergerak dan wajahnya langsung memucat.


Sosok itu melemparkan orang yang jiwanya sudah di serap, orang lain yang melihat itu tentu saja ketakutan, mereka semua berlari berhamburan tanpa arah.


Raka mengejar mereka dan yang tertangkap akan di serap jiwanya langsung tanpa kompromi, semakin banyak jiwa yang terserap oleh mahluk yang merasuki Raka kekuatan Raka semakin besar.


"Hahaha... dengan begini aku bisa membangkitkan keturunan ku dengan bebas!" Raka berteriak sambil tertawa lantang.


Terlihat orang-orang yang sudah diserap jiwanya bergeletakan ditanah. Namun, mereka semua masih hidup, hanya saja tidak bisa bergerak karena tidak memiliki jiwa.


Sosok tersebut pergi dari sana, mencari mangsa lainnya untuk mewujudkan keinginannya.


Kota Senja hari itu sangat kacau karena kemunculan sosok tersebut, banyak orang yang di serap Jiwanya oleh sosok tersebut.


Berita tersebut akhirnya menyebar ke seluruh wilayah kota Senja, jelas saja semua orang jadi takut keluar rumah, mereka semua lebih baik bersembunyi didalam rumah yang menurut mereka aman, padahal sosok tersebut bisa merasakan keberadaan jiwa mereka.


...***...


Di rumah Elisa, terlihat Herman dan Aris yang baru pulang ke rumah, keduanya tampak sangat tergesa-gesa.


"Kalian cepat masuk kedalam rumah, kunci gerbangnya!" perintah Herman kepada Satpam.


"Ada apa tuan sebenarnya?" tanya salah satu Satpam.


"Jangan banyak bicara, cepat lakukan itu, masuk kedalam rumah!" serunya lagi.


"Ayah, aku masuk kedalam dulu," ucap Aris.


Herman menganggukkan kepalanya, Satpam mau tidak mau mengunci gerbang dan bergegas masuk kedalam rumah.


Herman mengunci pintu dan mengumpulkan semua penghuni rumah di ruang keluarga, termasuk Elisa dan Reno.


"Ayah, ada apa ini?" tanya Elisa yang sedang merangkul lengan Reno.


Herman tidak menjawab, ia menyalakan televisi untuk melihat berita di kota Senja.


Seketika mereka semua terkejut saat melihat banyak orang yang bergeletakan dijalan, pengambilan gambar berita tersebut juga menggunakan Drone.


"Astaga, apa yang terjadi?" tanya Elisa terkejut.


"Ayah juga tidak tahu, tapi tiba-tiba ada serangan seperti itu, kita diperingatkan oleh polisi, makanya bisa cepat pulang! Kalian semua tidak boleh keluar dari rumah sebelum semuanya masalahnya selesai!" jelas Herman.


"Jin pemakan jiwa, Ayah masalah ini tidak akan bisa selesai jika dibiarkan! Aku harus mengurusnya," ucap Reno.


"Apa kamu gila, Reno! Lihatlah berapa banyak korban yang jatuh!" seru Aris.


"Benar sayang, kamu diam saja di rumah bersama kita," timpal Elisa lembut.


"Masalahnya siapa yang bisa menghentikan ini? Jika aku tidak bertindak, takutnya Jin tersebut akan lebih leluasa lagi!" jawabnya tegas


"Tidak, kamu tidak boleh pergi," Elisa memeluk erat Reno.


Herman dan istrinya juga menasehati Reno, mereka semua tentu tidak ingin anggota keluarganya ada yang terluka, apa lagi Reno dan Elisa baru saja menikah.