
Reno dibawa masuk kedalam rumah pemilik kontrakan. Wanita memanggil Ayahnya yang merupakan pemilik kontrakan.
Meysia memanggil Ayahnya dengan suara lantang. Seketika pria paruh baya dengan tergopoh-gopoh keluar dari dalam rumah tersebut ke ruang tamu.
"Ada apa Mey, teriak-teriak seperti di hutan saja!" tegur sang Ayah tegas.
"Hehehe... ini Yah, ada orang mau ngontrak," jawabnya sambil nyengir kuda.
Pria paruh baya itu melihat Reno yang sedang duduk di kursi lalu menghampirinya, kemudian duduk bersama.
Reno tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dibalas senyum ramah Ayah Meysia kepada Reno.
"Jadi kamu seriusan mau ngontrak di sini?" tanya Pak Liam, Ayah Meysia.
"Iya om, kalau boleh tahu berapa perbulannya?" tanyanya sopan.
Pak Liam tersenyum. "Murah, hanya lima ratus ribu perak saja, tapi kamu dilarang masuk kontrakan cewek, jika melanggar maka kamu akan aku usir dari kontrakan ini, bagiamana?"
"Baik Om, aku mengerti. Apa ada syarat lainnya?" tanya Reno memastikan.
Pak Liam berpikir sebentar, kemudian ia teringat dengan satu kamar yang tidak pernah di tinggali siapa pun setelah kejadian bunuh diri penghuninya, di tambah banyak orang juga yang melihat penampakan di sana, karena itulah kamar tersebut di kunci.
"Ada satu kamar yang tidak boleh kamu masuki, ujung kamar lorong kamar yang nantinya akan kamu tempati!" ucap Pak Liam tegas.
Reno pikir itu karena kamar privasi orang lain, jadi dia hanya menganggukkan kepalanya patuh. Reno mengeluarkan uang bulan pertama kepada Pak Liam.
Pria paruh baya itu tersenyum puas. "Mey, antarkan dia ke kamarnya!" perintah pria paruh baya itu.
"Iya Ayah," jawabnya malas.
"Ikut anak ku, dia akan mengantar kamu," ucap Pak Liam lagi.
Reno menganggukkan kepalanya, ia mengikuti Meysia dan Erwin yang berjalan didepan mengantar dirinya.
Kontrakan yang akan ditinggali Reno bersebelahan langsung dengan rumah pemilik kontrakan.
Kontrakan tersebut terdiri dua lantai dengan kamar yang berjejeran satu sama lain dan berhadap-hadapan.
Kontrakan tersebut memiliki dua bangunan yang sama, disebelah rumah pemilik kontrakan itu kusus untuk wanita, sementara sebelahnya lagi untuk pria. Tentu saja ada pagar penghalang tinggi untuk memisahkan dua kontrakan tersebut.
Rata-rata penghuni kontrakan di sana mahasiswa/i karena tempatnya memang dekat dengan salah satu Universitas di kota Senja.
Reno sudah sampai di antar ke kontrakannya, ketika ia sampai di lorong kontrakan, pemuda tersebut langsung melihat hantu pria dengan lidah menjulur keluar sedang duduk didepan kamar yang dimaksud Pak Liam, karena kamar Reno bersebelahan dengan kamar tersebut.
"Ini kamar kamu, betah-betah di sini," ucap Meysia ramah.
"Ssstt... apaan sih kamu!" bentak Meysia lirih.
Reno menghela napas, sekarang ia tahu kenapa kontrakan tersebut harganya murah, karena tempatnya bersebelahan langsung dengan kamar yang tidak boleh di lihat.
"Tenang saja, aku pasti betah di sini, dan kamu... tuh teman kamu sedang duduk, apa tidak mau nemenin?" celetuk Reno sambil menunjuk hantu pria tersebut.
Si Hantu menoleh ketika di tunjuk Reno. Meysia dan Erwin melihat ke arah jari Reno yang menunjuk ke arah kamar tersebut.
Erwin menelan ludah, bulu kuduknya terasa semakin merinding karena di hantu beranjak dari duduknya dan menghampiri mereka.
Meysia juga merasakan hal yang sama, tiba-tiba ia merasa semua bulu kuduk di tubuhnya berdiri.
"Ka-Kamu jangan menakuti kami, Ren...." keluh Meysia tergagap.
"Siapa yang menakuti kalian, tuh dia kemari," jawabnya enteng sambil masuk kedalam kontrakan.
Meysia dan Erwin semakin ketakutan, karena hawa dingin mulai merayap di tubuh mereka. Semakin Si hantu mendekat, semakin mereka berdua merasakan sensasi yang menakutkan.
Kracak... Kracak....
Terdengar suara air yang gemericik di lantai. Meysia semakin ketakutan karena tiba-tiba mendengar suara air tersebut. Namun, bau pesing mulai menyeruak masuk ke hidungnya, sehingga membuat wanita itu mengerutkan keningnya lalu reflek menoleh ke bawah.
"Astaga Erwin! Kamu ngompol!" teriak Meysia tidak percaya.
"Eke takut Mey," jawabnya pongah.
"Sialan, bersihkan cepat! Kamu mau dimarahi Ayahku!" hardik Meysia.
"Tapi Mey...."
Suara Erwin tercekat ketiga bahunya seolah ada yang memegang, begitu juga dengan Meysia, mereka berdua langsung saling menatap dan menelan ludah. Mereka berdua dengan hati-hati menoleh kebelakang dan....
Arghhh!
Teriak keduanya langsung ketika melihat hantu pria tersebut dan lari tunggang langgang.
Brug
Erwin jatuh ke lantai karena terpleset air seninya sendiri, Meysia membiarkan Erwin begitu saja, wanita itu tidak perduli sama sekali sahabatnya itu jatuh di lantai sambil menangis.
"Mey tuluuuung!" teriak bencong itu lantang dengan suara Pria.
Meysia tidak memperdulikannya sama sekali, sehingga Erwin hanya bisa menangis histeris di sana sendirian.