
Elisa berharap kalau Reno tidak hanya mempermainkan dirinya, karena ia sudah memiliki harapan lebih kepadanya.
Akan tetapi pria itu masih diam sambil menatapnya. Reno tidak berbicara sama sekali membuat Elisa semakin sedih.
"Ren, jawab Ren!" tegur Elisa dengan air mata yang mulai menetes.
Reno mengulas sebuah senyum. "Apa aku perlu menjawab itu? sementara kamu sudah tahu perasaanku, Elisa."
Ini pertama kali Reno memanggil wanita itu dengan nama aslinya, terlihat ekspresi wajahnya yang sangat serius ingin bersama dengan Elisa.
"Jadi...."
Reno menganggukkan kepalanya sebelum Elisa selesai bicara. Wanita itu langsung menghambur memeluk pria itu seketika.
"Ih... kenapa tidak menjawab dari awal sih!" gerutu Elisa sambil menangis bahagia dipelukan Reno.
Pria itu balas memeluk Elisa sambil mengusap punggungnya. "Lagian kamu sendiri seolah tidak percaya denganku, apa mungkin aku yang polos ini bisa menyukai wanita lain selain kamu?"
Elisa melepaskan pelukannya, ia menghapus air mata yang berlinang membasahi pipinya sambil menatap Reno dengan dahi mengerut.
"Polos apanya, Kamu juga kecentilan sama Meysia!" tegur Elisa.
"Lah, tapi bukan aku yang mulai, Meysia saja yang terpesona dengan ketampanan ku," jawabnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Ih... kamu ini yah!" Elisa memukul-mukul kecil dada Reno.
Pria itu tersenyum kemudian memeluk wanita itu. Elisa menyandarkan kepalanya di dada Reno, ia merasa senang karena pria itu telah menerima dirinya secara penuh.
Pak Sunardi hanya terdiam di tempat, ia melihat dua anak muda itu yang sedang bermesraan mengabaikan dirinya, seolah tidak ada siapa-siapa di sana.
Ehem!
Pak Sunardi berdehem, seketika Reno dan Elisa tersentak kaget, mereka berdua baru teringat kalau di sana masih ada Pak Sunardi, keduanya tersenyum kecut melihat Pria tua itu yang menghela napas tidak berdaya.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini, sekarang satu-satunya cara kamu harus cepat menikahi Elisa Ren, hanya dengan merenggut mahkotanya maka tidak akan ada lagi yang mengganggu kalian," ucap Pak Sunardi serius.
"Eh... apakah tidak ada cara lain Pak?" tanya Reno yang tampak gugup.
Pak Sunardi mengernyitkan dahi. "Lah, apa salahnya kalau sudah menikah, itu salah satu kewajiban mu."
Elisa tersenyum simpul. "Tenang saja, nanti biar aku yang mengajarimu," goda wanita itu.
Pak Sunardi menggeleng-gelengkan kepalanya, ia biasa melihat si pria yang agresif, tapi kali ini malah kebalikannya, dimana Elisa yang tampak sangat bersemangat menunggu malam pertama mereka.
"Ya sudah, untuk sementara Bapak akan perkuat penjagaan untukmu Elisa, jangan pergi-pergi terlebih dahulu sebelum kalian resmi menikah, untuk sekarang hanya itu yang bisa kita lakukan. Bapak permisi dulu," ucap Pak Sunardi yang langsung beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.
Reno dan Elisa mengantarnya sampai didepan rumah, setelah berpamitan kembali pria tua itu di antar bawahannya kembali ke rumah.
Tidak berselang lama Herman dan Istrinya pulang dari acara makan siang bersama dengan Klien mereka.
Sulastri memang kadang ikut jika ada acara tersebut, untuk sedikit refreshing sebagai Ibu rumah tangga.
Terlihat Reno dan Elisa yang sedang duduk bersama nonton televisi di ruang tamu, pasangan suami Istri tersebut menghampiri mereka.
"Kalian sudah pulang?" tanya Sulastri ketika sudah duduk.
"Pulang dari tadi Tante," jawab Reno sopan.
"Apaan sih yah, lagian juga Reno akan menjadi suami Elisa," jawab wanita itu cuek.
Sulastri tersenyum kecut melihat kelakuan anaknya. "Nak, kalian itu belum resmi, kalau sudah Resmi juga Ayah dan Ibu tidak akan melarangnya lagi," ucapnya lembut.
"Iya-Iya Bu, kalau begitu cepat resmikan kami," jawab Elisa menantang.
Reno hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mencubit hidung Elisa, karena kekasihnya tersebut sudah semakin ceplas-ceplos saja.
Herman dan Sulastri menghela napas, mereka yang sudah tahu bagaimana watak anaknya membiarkannya, lagian juga Reno sudah akan bertanggung jawab.
"Menikah juga perlu persiapan Elisa, tidak asal bicara saja." sang Ayah mengingatkan.
Reno melepaskan rangkulan Elisa, kemudian ia buka suara. "Om, Tante, sebenarnya saya juga ingin menyiapkan pernikahan yang terbaik untuk Elisa, tapi Pak Sunardi tadi datang kemari menyuruh kami untuk cepat melakukannya, itu juga untuk kebaikan Elisa. Aku sudah siap untuk menjadi suami Elisa dan tidak perlu acara berlebihan juga tidak apa asal kami resmi saja."
Herman menatap tajam Reno, ia bertanya. "Apa maksud kamu Reno? Bukankah kemarin kamu sendiri yang bilang tidak ingin buru-buru?"
Reno mengangguk. Ia kemudian menceritakan semua kondisi yang Elisa alami, tentu saja ia berbicara seperti itu sesuai dengan perkataan Pak Sunardi.
Reaksi Herman dan Sulastri jadi khawatir, untuk memastikan Herman menelpon Pak Sunardi. Reno membiarkan hal tersebut, karena ia tahu kalau Ayah Elisa ingin membuktikan kebenarannya.
Setelah menelpon Pak Sunardi, pria itu buka suara. "Baik, aku akan menikahkan kalian secepat mungkin, Elisa jangan pergi kemanapun sebelum kalian sudah bersatu!" perintah sang Ayah tegas.
"Terima kasih Ayah," Elisa memeluk Herman.
"Hadeh kamu ini, ya sudah Ayah akan menelpon penghulu dulu," ucap pria tua itu.
Elisa mengangguk, ia melepaskan pelukannya dari sang Ayah. Herman dan Sulastri langsung sibuk menghubungi koneksi mereka untuk mempercepat proses pernikahan Elisa.
Orang tua mana yang tidak ingin anaknya bahagia? Apa lagi kondisinya sedang dalam bahaya seperti itu, jika dengan menikahkan putrinya itu bisa menghindarinya dalam bahaya dan bisa membuatnya bahagia, untuk apa ragu melakukannya?
Begitulah kira-kira yang ada didalam pikiran Herman dan istrinya. Untuk urusan Aris, mereka berdua tidak mempermasalahkannya, karena ia seorang pria pasti ada saatnya nanti anak sulungnya itu menemukan wanita yang tepat.
Proses pendaftaran pernikahan Reno dan Elisa langsung dikerjakan oleh pihak terkait, mengingat keluarga Sanjaya merupakan keluarga terkaya dikota Senja, sangat mudah untuk Herman mengatur semuanya. Asalkan ada uang masalah akan cepat terselesaikan.
...***...
Malam harinya, Reno seperti biasa berjaga di teras rumah Elisa dengan berselimutkan sarung kesayangannya.
Calon Istrinya itu keluar dari dalam membawa secangkir kopi untuk pria itu, meletakkannya di meja.
"Terima kasih, cantik," ucap Reno.
Elisa mengernyitkan dahi. "Jangan belajar gombal deh, aku gak suka," celetuk Elisa.
Reno tersenyum masam. "Aku cuma ingin membuat kamu senang saja," jawab pria itu sambil menyesap kopi di cangkir.
"Tapi aku gak suka, kamu lebih baik seperti biasanya saja," wanita itu duduk dan menyenderkan kepalanya di bahu Reno.
"Iya-Iya maaf," jawab pria itu sambil meletakkan kembali cangkir kopinya.
"Oh iya, kata Ibu lusa kita akan menikah, apa kamu sudah siap?" tanya wanita itu lembut.
"Ckk, bicara apa kamu ini, bukankah jawabannya sudah jelas?" Reno mengusap puncak kepala Elisa lalu mengecupnya.
Elisa sedikit mendongak, ia tersenyum melihat Reno yang begitu perhatian dengannya. Wanita itu sudah tidak sabar bisa hidup bersama dengan pria yang sangat di cintainya itu.