Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Kisah Tragis



Bi Maryam lari dengan cepat menyusuri rumah-rumah warga yang ada di sekitar sana. Karena sudah tinggal di kota tersebut selama dua puluh tahun, wanita tua itu jelas mengetahui semua jalanan yang ada di sana.


Hos... Hos ....


Terdengar suara napas tersengal-sengal wanita tua itu, mau bagaimanapun fisik Bi Maryam sudah jauh lemah daripada masa primanya dulu.


Bang


Brak


Arghh


Wowo menghempaskan Bi Maryam dengan energi spiritualnya, sehingga wanita tua yang sedang berlari cepat itu terhempas menabrak dinding rumah warga.


Wanita tua itu dengan susah payah berdiri lagi, dengan tertatih-tatih ia mencoba menghindari Wowo dengan raut wajah ketakutan.


Bang


Duak


Bi Maryam terhempas ke belakang ketika Giaju datang didepannya menghempaskannya menggunakan energi spiritual.


Wanita tua itu ketakutan, didepannya ada jin bertubuh putih dengan satu mata, sementara dibelakangnya ada Genderuwo yang menghadangnya.


"Pergi! Jangan ganggu aku!" teriaknya mencoba untuk tetap berani dengan napas tersengal-sengal.


"Menyerahlah!" tegur Reno lantang ketika sampai ditempat itu.


"Tidak! Aku tidak bersalah!" jawab Bi Maryam sambil berteriak.


Reno menghela napas. Ia mendekat ke arah Bi Maryam dengan cepat lalu membuatnya pingsan dengan memukul tengkuknya.


Pria itu berterima kasih kepada dua jin bawahannya itu dan memasukkan mereka kembali ke tempat bersemayamnya.


Reno membawa wanita tua itu kembali ke rumah Meysia, untuk dimintai keterangan, apa yang sebenarnya sudah terjadi sebenarnya.


...***...


Elisa mencipratkan air ke wajah Bi Maryam yang sedang pingsan di sofa agar terbangun.


Tidak berselang lama wanita itu mengerjapkan matanya dan mulai terbangun, ia langsung terkejut ketika melihat Liam, Meysia, Elisa, Reno dan satpam penjaga gerbang ada di sana.


"Bi Maryam! Katakan pada kami apa yang sebenarnya kau lakukan dengan istriku!" hardik Liam yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Sa-Saya...."


"Katakan cepat!" bentak Liam lagi karena sudah sangat geram.


Bi Maryam menundukkan kepalanya. Ia kemudian mulai bercerita mengenai kematian Istri majikannya tersebut.


Wanita tua itu menceritakan kalau sebenarnya ia tidak sengaja membuat istri majikannya terkejut hingga terpeleset dan jatuh dari tangga, kepalanya menghantam anak tangga hingga ia tewas seketika.


Karena panik Bi Maryam bingung akan berbuat apa, hingga akhirnya ia memanggil suaminya.


Suami Bi Maryam yang waktu itu tukang kebun di sana ikut panik, mereka pun dengan spontan membuat rencana untuk mengubur majikannya itu di halaman belakang, mengingat Liam yang sangat jarang duduk di halaman belakang.


Dengan membungkus jasad majikannya itu menggunakan terpal yang sengaja mereka beli, mereka harap baunya nanti tidak tercium.


Setelah menguburnya, suami Bi Maryam menanami kuburan tersebut pohon mangga dan beberapa bunga, untuk menghindari kecurigaan Liam jika ia pergi ke halaman belakang.


Pada saat itu usia Meysia masih satu setengah tahun, ia juga melihat ketika istri Bi Maryam mengubur Ibunya, tapi karena masih bocah, Meysia tidak menyadari sama sekali hal tersebut.


Hingga akhirnya Istri Liam pun dikabarkan menghilang, padahal ia sudah mencari kemanapun tidak menemukannya, sampai pihak polisi tidak ada yang mencurigai sama sekali dengan pasangan pembantu rumah tangga tersebut.


Waktu terus berjalan, ketakutan pasangan suami istri itu akhirnya perlahan reda, karena mereka pikir Liam sudah tidak lagi mencari istrinya hingga mereka bisa hidup dengan damai di sana. Namun, ketika dua tahun lalu suaminya meninggal, Bi Maryam sudah sempat ingin menyerahkan diri dan membongkar kejadian tersebut yang ia pikir sudah sangat salah, tapi wanita itu tetap ragu-ragu sampai sekarang ini.


Mendengar penjelasan Maryam, Liam dan Meysia langsung menitihkan air mata, ia tidak menyangka jika orang yang dicarinya selama ini sudah tiada.


"Ibu....!" Meysia menangis histeris.


Elisa memeluk Meysia, gadis itu juga turut prihatin dengan masalah yang mereka hadapi, ternyata selama ini di balik kebaikan Bi Maryam, ada sepenggal kisah yang menjadikannya orang sangat tidak berperasaan.


Tidak berselang lama polisi datang, ia menangkap Bi Maryam. Jelas saja semua warga di sana bingung sebenarnya apa yang telah terjadi.


Ketika mereka mulai mendengar kebenaran, kalau Maryam yang telah membunuh Istri Liam, mereka semua mengutuk tindakan wanita tua itu.


...***...


Ke esokan harinya, acara penggalian jasad Istri Liam pun dilakukan, para warga membantu membongkar tempat jasad Ibu Elisa.


Pohon mangga yang sudah tumbuh dewasa langsung di robohkan, berkat bantuan para warga pembongkaran cepat dilakukan.


Benar saja setelah mereka menggali akar pohon mangga dan mengangkatnya, terlihat sisa-sisa terpal yang sudah rapuh di sana bersama dengan tulang belulang yang sebagian sudah menjadi tanah, hanya tersisa beberapa bagian saja, mengingat kejadian itu sudah sangat lama sekali.


Liam ambruk di tanah ketika melihat sisa-sisa tulang istrinya, ia tidak menyangka jika orang yang di carinya selama ini ada di sana.


Warga yang menggali mengumpulkan sisa-sisa tulang itu di kain kafan yang sudah di siapkan, karena rencananya Liam akan memakan istrinya dengan layak.


Meysia jatuh pingsan, tidak sanggup melihat kebenaran yang selama dua puluh tahun baru terungkap tersebut.


Reno melihat roh Ibu Meysia yang tersenyum ke arahnya. "Terima kasih Reno, dengan begini aku bisa pergi ke alam sana dengan tenang, tolong jaga anakku baik-baik."


Sosok pria bertudung hitam menjemput hantu yang sekarang sudah menjadi Roh tersebut.


Reno tersenyum ke arah roh itu yang kemudian menghilang di bawa sosok bertudung hitam yang tidak lain merupakan malaikat.


Sisa-sisa tulang tersebut kemudian dimakamkan ke pemakaman umum kota Senja dengan layak. Banyak warga yang ikut melayat mengingat kejadian tersebut sangatlah menyentuh hati nurani mereka.


Kini Liam dan Meysia sudah sedikit tenang karena tahu keberadaan orang yang selama ini di carinya, walaupun masih sedih, tapi setidaknya sudah tidak ada lagi beban yang mengganjal di hati mereka berdua.


...***...


Setelah kejadian tersebut berlalu beberapa hari....


Reno sedang beristirahat siang di kontrakannya, pria itu terlihat sangat berkeringat karena hari itu sangatlah panas.


"Kenapa hari ini panas sekali?" ceracau nya dengan mata masih terpejam sambil mengibas-ngibaskan kerah bajunya.


Reno memiringkan tubuhnya, seketika ia langsung terbangun ketika tangannya menyentuh sebuah benda kenyal di sampingnya.


"Meysia!" seru Reno seraya melihat Meysia yang sedang tidur di sampingnya.


Reno melihat ke arah tangannya, ia seketika langsung menariknya sambil mengusap dada karena untung saja Elisa tidak melihatnya.


"Jadi kamu suka yang kecil," tiba-tiba terdengar suara Elisa dibelakangnya.


Pria itu menelan ludah, ia perlahan menoleh ke belakang, benar saja ternyata Elisa juga ada di sana sedang duduk di belakangnya.