Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
Sosok Yang tidak di Ketahui



Malam itu Elisa yang sudah terlanjur bangun setelah baru tidur beberapa saat, ia tidak bisa tidur kembali, akhirnya gadis tersebut lebih memilih menemani Reno di teras rumah.


Kedua orang tua Elisa yang melihat kedekatan Reno dan putrinya, mereka berdua kini sadar kalau mereka berdua sudah saling cocok satu sama lain. Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk merayu Aris agar membiarkan Elisa dan Reno menikah.


Saat Reno dan Elisa sedang duduk berdua di teras. Wowo yang mengejar sosok mencurigakan kembali bersama dengan Giaju.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa menangkapnya," ucap Wowo tiba-tiba.


Reno menghela napas. "Tidak apa, kalian kembalilah ke tempat bersemayam."


"Sebelum kami kembali, saya menemukan ini tuan, siapa tahu ini sebuah petunjuk." Wowo menyerahkan sebuah Bros dengan bentuk gagak hitam.


Reno menerima Bros tersebut, setelah itu Wowo dan Giaju masuk kembali kedalam tempat bersemayam mereka.


Elisa melihat-lihat Bros tersebut bersama dengan Reno, mereka berdua mengamati baik-baik benda kecil itu.


"Ren, Bros seperti ini kayaknya banyak deh penjual aksesoris," ucap Elisa yakin.


Reno menggelengkan kepalanya. "Lihatlah baik-baik Mba Kunti, rasakan energi spiritual didalamnya."


Elisa kembali menatap Bros tersebut dengan seksama, tapi ia tetap saja tidak bisa merasakan energi spiritual didalam Bros tersebut.


"Ren, aku tidak bisa merasakannya sama sekali," ucap Elisa yakin.


"Masa sih? Ini jelas banget terasa loh," ungkapnya yakin.


"Astaga, apa kekuatanku sudah menghilang gara-gara keseringan mencium kamu?" celetuk Elisa menggoda Reno.


Reno mengerutkan kening. "Mulai, padahal kita lagi membahas masalah serius," ucapnya tidak berdaya.


"Hihihi... aku senang kalau menggoda kamu," jawabnya sambil menyenderkan kepala di bahu Reno.


Reno tersenyum kecut, ia menaruh Bros tersebut di sakunya, kemudian merangkul wanita yang sedang bermanja padanya tersebut.


Mereka berdua ngobrol-ngobrol bersama, hingga tanpa sadar Elisa mengantuk dan tertidur di bahu Reno.


Reno menyadari kalau Elisa tertidur, ia dengan perlahan-lahan membawa wanita itu ke kamarnya.


Sesampainya dikamar Elisa, Reno membaringkan wanita itu kemudian menyelimutinya, saat mau pergi ia mengecup keningnya terlebih dahulu.


...***...


Sementara itu ditempat sosok yang tadi masuk ke kamar Elisa, ia sedang terengah-engah duduk di sebuah kursi taman seorang diri.


"Sialan tuh Genderuwo, ngejar-ngejar terus sampai aku kehabisan banyak energi spiritual untuk berubah wujud, untung saja aku masih lihai bersembunyi!" gerutunya kesal.


Sosok tersebut merebahkan tubuhnya di kursi sambil mendongak ke atas menatap gelapnya langit dini hari.


Setelah beristirahat sebentar pria itu pergi dari tempat tersebut, ia tidak menyadari kalau Bros keanggotaannya telah jatuh saat dikejar Wowo.


Ke esokan harinya. Elisa terbangun dari tidurnya, ia terkejut karena sudah berada di kamar, padahal semalam dirinya ngobrol-ngobrol dengan Reno.


"Apa Reno yang membawaku ke kamar?" Elisa bertanya-tanya sendiri sambil tersenyum simpul.


Wanita itu bergegas beranjak dari kamarnya dan langsung membersihkan diri. Ia dengan cepat berdandan kemudian turun ke bawah untuk membuatkan sarapan untuk Reno.


"Pagi Bu," ucap Elisa yang sudah terlihat rapi dan wangi.


Sulastri tersenyum simpul. "Tumben anak Ibu pagi-pagi sudah rapi, mau kemana?" tanya wanita paruh baya itu lembut.


"Mau kemana apanya? Cuma mau bantu Ibu masak," jawabnya santai.


"Ih... Ibu apaan sih," terlihat wajah Elisa merah merona.


Ibu dan Anak tersebut saling menggoda satu sama lain sambil memasak, terlihat hari itu Elisa begitu ceria. Membuat Sulastri sangat yakin kalau anaknya tersebut sangat menyukai Reno.


"Sayang, kamu serius mau menikah dengan Reno?" tanya wanita paruh baya itu lembut.


Elisa tanpa ragu mengangguk. "Aku sudah cocok dengan Reno Bu, dia pria yang baik dan jujur," jawabnya yakin.


Sulastri tersenyum simpul, ia merangkul anaknya itu. "Semalam Ayah dan Ibu sudah berbicara, kalian boleh menikah, urusan Kakakmu nanti Ayah yang berbicara dengannya."


"Benarkah Bu?" tanya Elisa memastikan.


Sulastri menganggukkan kepala sambil tersenyum. Tentu saja Elisa sangat senang, ia memeluk Ibunya tersebut dengan Erat.


"Terima kasih Bu, aku mau bicara dengan Reno!" Elisa melepas pelukan Ibunya, mengecup pipinya lalu bergegas pergi dari dapur.


Sulastri yang melihat hal itu, wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum, kemudian melanjutkan masak kembali.


Elisa pergi ke teras rumah, terlihat Reno yang sedang tertidur sambil duduk dengan berselimut sarung.


Grook... Grook....


Elisa mengerutkan keningnya ketika mendengar Reno mendengkur dengan keras ketika ia mendekatinya.


"Ih... tampan-tampan kok mendengkurnya kayak Babi," gumamnya sambil tersenyum simpul.


Orang sudah jatuh cinta itu kadang aneh, pasangannya kentut baunya kayak bangkai saja, akan di puji katanya harum.


Ketek tidak pernah mandi saja bisa terus di ciumi tanpa merasakan apa-apa. Bukan masalah lebay atau apa, orang-orang yang seperti ini biasanya dia sangat setia, berbeda dengan pasangan yang cepat ilfil, di jamin pasti cepat bosan satu sama lain, kalau tidak percaya cek saja ponselnya😁.


Elisa tidak berani membangunkan Reno yang masih tertidur lelap, wanita itu hanya menatap Pria yang sudah mengisi relung hatinya tersebut sambil tersenyum-senyum sendiri.


Wanita itu entah kenapa sangat suka sekali dengan wajah Reno, menurutnya ia masih seperti dulu ketika masih keterbelakangan mental.


"Pandangi saja terus, memangnya di wajah dia ada layar tancepnya!" tegur Aris tiba-tiba.


Elisa sontak saja terkejut, ia menoleh ke arah Kakaknya. "Apaan sih Kak, rese deh!" gerutu Elisa.


"Lah kamu kayak orang gila, menatap dia sampai segitunya," celetuk Aris.


"Ih... apaan sih, sana berangkat kerja, gak usah ikut campur urusanku!" usir Elisa mendorong Kakaknya.


"Iya-iya orang bucin!" ucap Aris sambil berjalan ke garasi untuk mengambil mobilnya.


Elisa mendengus kesal dengan Kakaknya yang menggoda dirinya. Wanita itu menghela napas kemudian kembali ke tempat Reno.


Karena mendengar perdebatan kakak, adik tersebut, Reno terbangun, ia mengucek matanya sambil menguap.


"Pagi-pagi sudah ribut aja, ada apa sih Mba Kunti?" tanya Reno separuh sadar.


"Eh... maaf yah buat kamu terbangun, habisnya tadi Kakak menggodaku terus," jawabnya sambil duduk di samping Reno.


Reno hanya tersenyum sambil mengangguk. Elisa buka berbicara. "Mandi gih, terus kita sarapan bareng."


"Bentar, rohku belum pulang semua," jawabnya enteng.


Setelah beberapa saat Reno beranjak dari duduknya, ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, sementara Elisa bergegas masuk kedapur untuk menyiapkan sarapan.


Wanita itu begitu sangat perhatian dan hati-hati menyiapkan makanan untuk Reno. sampai-sampai kedua orang tuanya saja menggeleng-gelengkan kepala karena melihat putrinya yang tampak sudah tidak bisa jika harus di pisahkan dengan Reno.