
Meysia berniat menghubungi Ayahnya jika ingin membongkar jasad Ibunya. Namun, Reno menghentikannya, sehingga membuat Meysia kebingungan.
"Ren, kenapa aku tidak boleh memberitahu Ayah? Bukankah beliau juga wajib tahu?" tanyanya mendesak.
"Mey, berpikirlah lebih jauh, jika Ibumu di makamkan di sini, seharusnya Ayahmu tahu sejak dulu, tapi kenapa dia masih diam sampai sekarang, aku tidak bermaksud menuduhnya yang melakukan ini semua, tapi kita perlu berhati-hati jika ingin menangkap siapa pelakunya," jawabnya yakin.
"Mey, Reno ada benarnya, jika memang Ayahmu tidak terlibat, seharusnya beliau sudah mengetahui tempat ini, apa lagi tempat ini ada didalam halaman belakang rumahmu," timpal Elisa.
Meysia seketika terkesiap dengan perkataan Reno dan Elisa, ucapan mereka berdua masuk akal, mengingat pohon mangga tersebut ada didalam halaman belakang yang di kelilingi dinding, bagaimana mungkin orang lain bisa mengubur jasad Ibunya begitu saja di sana.
Hantu wanita tidak mengingat apa pun setelah kejadian ia di bunuh, yang di ingatnya cuma bayangan sebelum di bunuh, karena itulah ia masih mengingat Meysia dan melupakan siapa orang yang telah membunuhnya.
"Kenapa Ayah tega melakukan ini?" tangis Meysia seketika pecah di sana.
Elisa hanya bisa memeluk keponakannya tersebut dengan tidak berdaya, ia juga merasa sedih jika ternyata pembunuh Ibu Meysia itu suaminya sendiri. Namun, semua itu masih asumsi, bisa jadi orang lain yang melakukan hal tersebut, walaupun presentasi pelaku sebenarnya mengarah ke Ayah Meysia lebih besar.
Mereka pun berpikir keras untuk memecahkan misteri pembunuhan tersebut. Reno dan Elisa membuat rencana untuk meneror Ayah Meysia agar mau berbicara nantinya.
...***...
Malam harinya Meysia tidak mau keluar dari kamar, walaupun Ayahnya belum pasti salah, tapi wanita itu sudah terlanjur curiga terhadap Ayahnya.
"Bi Maryam, kenapa dengan Meysia?" tanya Liam Ayah Meysia kepada pembantunya.
"Saya tidak tahu tuan, dari sore Non Meysia tidak mau keluar dari kamar," jawab Bi Maryam.
Liam pikir kalau Meysia sedang sedih, jadi ia membiarkannya saja, karena biasanya juga ketika sedihnya sudah selesai putrinya itu akan keluar dari kamar sendiri.
Liam seperti biasa menghitung pemasukan dan pengeluaran ketika malam hari, mengingat ia memiliki beberapa kontrakan dan toko aksesoris.
Hari semakin larut, Liam masih mengerjakan pekerjaannya di ruang keluarga.
Tiba-tiba lampu berkedip-kedip seolah akan padam. Pria berkacamata itu menoleh ke atas melihat lampu yang berkedip-kedip tersebut.
Tep
Tiba-tiba lampu di ruang keluarga benar-benar padam. Liam mengira itu hanya kebetulan kampus tersebut padam.
"Sialan, mana sudah malam matinya," gerutu Liam sambil beranjak dari duduknya.
Krieeet
Suara pintu berderit terdengar, membuat Liam reflek menoleh ke arah pintu depan.
Bruak
Terdengar suara pintu di banting dengan keras, membuat Liam terkejut dan mengusap dadanya.
Angin dingin mulai terasa menerpa tubuhnya, membuat bulu kuduk Liam berdiri. Pria itu memegang tengkuknya yang terasa sedikit berat.
"Siapa itu, jangan bercanda?!" teriak Liam mencoba untuk memberanikan diri menghampiri pintu depan.
Liam berjalan ke arah pintu depan dengan perlahan, pria tersebut ingin memastikan siapa yang sedang mengerjainya.
Ketika Liam akan membuka pintu, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dengan sendirinya.
Bruak
Liam terkejut hingga jatuh terduduk di lantai. Lampu depan yang tadinya masih menyala berkedip-kedip sebelum akhirnya padam.
pria paruh baya itu mulai menelan ludahnya, kini ia benar-benar ketakutan, tiba-tiba terlihat samar-samar bayangan hitam besar berdiri di depannya dengan mata merah menyala.
Sosok tersebut hanya diam sambil menatapnya dengan tajam, membuat pria itu mencoba menjauh dengan menggerakkan tubuhnya mundur.
"Hihihi...." terdengar suara khas Mba Kunti yang terkikik di belakang Liam.
Pria itu berkeringat dingin, menelan ludahnya berkali-kali, kemudian dengan perlahan menoleh ke belakang.
Sosok hantu wanita dengan rambut awut-awutan dan pakaian serba putih menatap berdiri di belakang Liam sambil terkikik terus menerus, membuat pria tersebut benar-benar ketakutan.
"Liam Su... hari ini kamu harus menerima hukuman karena telah membunuhku! Hihihi...." geram sosok tersebut sambil terkikik.
"A-Apa m-aksu-d mu?!" tanya Liam tergagap dengan tubuh bergetar hebat.
"Kau sudah melupakan ku Liam Su... Hihihi...." ucap sosok tersebut lagi.
Sosok Hitam yang ada di belakang Liam mendekat, ia menepuk bahu Liam dengan jari-jarinya yang memiliki kuku panjang.
"Ampun... aku tidak tahu siapa kalian, ampun... aku tidak pernah membunuh siapapun!" ucap Liam sambil menangis, dengan cairan pesing yang mengalir deras di celananya.
Bersamaan dengan itu, Bi Maryam yang melihat kejadian tersebut, ia sangat ketakutan wanita yang sudah bekerja selama dua puluh tahu di rumah itu jatuh terduduk ketika melihat sosok Hantu wanita yang sedang menakuti Liam.
"Ti-Tidak mungkin, kenapa baru sekarang dia muncul?" gumamnya tidak percaya.
"Apa maksudmu Bi!" tiba-tiba Meysia menegur Bi Maryam yang sedang terjatuh di lantai.
Sontak saja wanita tua itu terkejut dengan kemunculan Meysia yang tiba-tiba, ia terlihat panik sangat panik dan bingung.
Meysia mengernyitkan dahinya, ia curiga dengan pembantunya tersebut. Karena bertingkah aneh, berbeda dengan Ayahnya yang hanya ketakutan saja.
"Bi Maryam, jangan bilang kalau kau terlibat dengan hilangnya Ibu?!" hardik Meysia.
"Ti-Tidak Non, sa-saya tidak tahu apa-apa tentang pembunuhan Ibu Non Meysia!" jawabnya gugup.
"Pembunuhan? Jadi benar Bi Maryam terlibat?!" bentak Meysia.
Bi Maryam langsung menutup mulutnya, ia tidak sengaja mengatakan pembunuhan, padahal Meysia tidak mengatakan hal tersebut.
Lampu tiba-tiba semuanya menyala kembali, Wowo dan Hantu wanita itu menghilang dari sana setelah mendengar teriakan Meysia.
Liam juga mendengar teriakan tersebut. Reno dan Elisa yang sudah menunggu di luar bergegas masuk kedalam rumah tersebut.
"Om, ayo bangun, kita sudah menemukan pelakunya," ucap Elisa lembut sambil memapah Liam yang tubuhnya masih bergetar ketakutan dengan dibantu Reno.
"Pelaku? Apa maksudnya dan kenapa kalian ada di sini?" tanya Liam kebingungan.
" Nanti kami jelaskan semuanya, ayo bangun," ajak Elisa lembut.
Brug
"Aww!" pekik Elisa kesakitan ketika Bi Maryam mendorongnya hingga membentur dinding dan terjatuh.
"Meysia!" teriak Elisa dan Reno.
Bi Maryam lari dengan sangat cepat ke belakang rumah, Reno bergegas mengejar wanita tua itu. Walaupun sudah berumur, anehnya larinya bisa sangat cepat layaknya maling saja, sehingga membuat Reno kesulitan menangkapnya.
Wanita tua itu keluar dari pintu halaman belakang rumah, Reno masih mengejarnya dengan secepat mungkin karena ia sangat yakin di balik pembunuhan Ibu Meysia Bi Maryam pasti tahu semuanya.
"Wowo, Giaju! Kejar dia!" perintah Reno mengeluarkan dua Jin bawahannya.
"Baik tuan!" jawab mereka berdua langsung mengejar wanita tua itu.