Mba Kunti & Mas Koplak

Mba Kunti & Mas Koplak
SAH!



Para tamu memuji pasangan tersebut, mereka semua jelas saja sangat senang melihat mereka yang begitu serasi.


Pujian demi pujian terus didapatkan oleh kedua orang tua Elisa, tentu saja membuat Herman sangat bangga terhadap anaknya tersebut.


Kedua pasangan pengantin tersebut pun di bawa ketempat penghulu yang sudah menunggu mereka sedari tadi.


"Elisa, aku pengen ke kamar mandi," bisik Reno.


Elisa mengernyitkan dahi. "Kamu apaan sih, tadi sudah beberapa kali ke kamar mandi, sudah tahan saja!" balasnya berbisik.


Reno tidak tahu harus tertawa atau menangis, dia benar-benar sangat gugup, jantungnya berdegup sangat kencang, keringatnya mulai bercucuran.


Mereka kemudian duduk didepan penghulu yang sudah menunggu mereka, semua orang juga seketika langsung duduk semuanya, menyaksikan acara ijab kobul itu dengan seksama.


"Loh... mas tidak usah tegang, rileks saja, dapat wanita secantik ini kok malah tegang, harusnya bangga," celetuk penghulu.


"I...Iya Pak," jawabnya tergagap.


Semua orang terdengar terkikik mendengar Reno yang tampak sangat tegang. Elisa menyenggol Reno dengan sikunya, agar prianya itu tetap tenang.


Penghulu tersenyum. "Sini mas, kita latihan dulu yah," ucapnya sambil mengulurkan tangan.


Reno hanya menganggukkan kepalanya sambil menyambut uluran tangan penghulu.


"Saat saya sedikit menarik tangan mas, nanti baru masnya menjawab yah," ucap penghulu sopan.


Reno lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya.


"Baik kita mulai, Saya nikahkan saudara Reno Mubarok Bin Fulan dengan Elisa Sanjaya Binti Herman Sanjaya, dengan mas kawin Kalung emas 5 gram dibayar tunai!" Penghulu sedikit menarik tangan Reno.


"Eh... iya Pak!" jawab Reno reflek.


"Hahaha....!" seketika semua orang tertawa ketika mendengar jawaban Reno.


Herman dan Sulastri tersenyum tipis, tampak sekali jika calon menantunya itu sangat gugup.


Elisa benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, ia merasa gemas dengan calon suaminya tersebut.


Penghulu menghela napas. "Santai saja mas, orang-orang di sini tidak akan menggigit masnya, tarik napas dalam-dalam tahan selama satu jam."


"Mati dong Pak aku," celetuk Reno.


Seketika tawa kembali pecah, mereka semua benar-benar terhibur dengan Reno yang begitu polos itu. Penghulu sengaja mengajak Reno bercanda agar pria itu tidak tegang lagi.


Mereka pun kembali berlatih, setelah kiranya Reno sudah bisa membalas jawaban Penghulu, mereka memulai ijab kabul ya dengan serius.


"Saya nikahkan dan kawinkan, saudara Reno Mubarok Bin Fulan dengan Elisa Sanjaya Binti Herman Sanjaya, dengan mas kawin kalung Emas 5 gram di bayar tu...nai!"


Reno menghirup napas dalam-dalam kemudian membuangnya lalu menjawab. "Saya terima, Nikah dan Kawinnya Elisa Sanjaya Binti Herman Sanjaya dengan mas kawin tersebut tunai!"


"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu.


"Sah!" jawab para saksi di ikuti mereka yang menonton, suara tepukan tangan pun terdengar.


Elisa dan Reno saling menatap, mereka berdua sekarang sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


Setelah menandatangani berbagai berkas mereka pun sudah resmi menjadi pasangan suami istri sesuai ketentuan Negara dan agama.


Acara pun kembali di lanjutkan dengan berbagai ucapan selamat untuk keduanya dari para tamu.


Meysia yang hadir di sana merasa sedih, karena ternyata Reno sudah memutuskan pilihannya, tapi ia juga tetap senang melihat orang yang di sukainya sudah memilih kebahagiaannya.


"Iya Ayah," jawab wanita itu sambil bersandar ditubuh Ayahnya.


Acara demi acara terus berlanjut, hingga akhirnya acara selesai setelah sore hari.


Reno dan Elisa berada di dalam kamar, keduanya sedang membersihkan make up mereka.


"Sayang kamu lapar gak?" tanya Elisa lembut, saat sudah hampir selesai menghapus make up-nya.


"Lapar, daritadi mau makan malu, banyak orang," jawabnya jujur.


"Hihihi... kamu ini harus terbiasa dengan keramaian, teman-teman Ayah itu banyak, nanti kita pasti di ajak ke acara seperti ini juga," ucap wanita yang sudah resmi menjadi istri Reno tersebut.


"Maaf, aku juga sedang berusaha, Elisa," jawabnya tidak berdaya sambil menghambur ke ranjang.


"Tidak apa, ya sudah aku mabil makanan dulu yah bentar," ucap wanita lembut.


Reno hanya mengangguk, ia menatap langit-langit kamar Elisa yang sekarang sudah menjadi kamarnya itu.


"Nek, Reno sekarang sudah menikah, mudah-mudahan ini jalan yang terbaik untuk Reno mengawali kehidupan dengan keluarga baru," gumamnya lirih.


Reno hari itu memang sangat senang, akan tetapi di sisi lain ia juga sedih, karena tidak memiliki siapa-siapa yang menyaksikannya menempuh hidup baru. Andai kata Pak Sulaiman masih hidup, mungkin Reno akan menjadikannya sebagai orang tuanya dihari pernikahannya.


Sayangnya takdir begitu kejam, ia selalu saja dipisahkan dengan orang-orang yang yang di sayangnya, padahal ia juga ingin bahagia seperti orang-orang pada umumnya.


"Kali ini aku memiliki keluarga baru lagi, aku harus bisa menjaganya!" ucapnya penuh tekad.


Tidak berselang lama Elisa masuk kedalam kamar membawakan makanan untuk mereka berdua.


"Sayang, ayo makan dulu," ucapnya lembut.


Reno beranjak dari rebahannya, pria itu bergegas mendekat ke istrinya itu untuk makan bersama.


Pria itu terlihat makan sangat lahap, Elisa yang melihat itu tersenyum simpul, pasalnya ia juga melihat sendiri kalau prianya itu sejak siang tidak makan, mau mencicipi kue saja selalu saja ada yang mengajaknya berbicara.


"Ih... kok makan sendirian saja, suapi aku," ucap Elisa manja.


Reno yang baru saja akan memasukkan makanan ke mulut mengurungkannya. "Hais kamu ini," balasnya sambil menyuapi Elisa.


Mereka berdua terlihat sangat senang, bercanda sambil makan bersama. Indahnya pengantin baru terlihat jelas dari sikap keduanya.


Saling bermanja, perhatian, semua kebahagian seolah milik berdua, ya walaupun nanti setelah lama menikah akan banyak rintangan, setidaknya biarkan momen pengantin baru menjadi sebuah kenangan terindah.


...***...


Sementara itu terlihat Pak Sunardi yang sedang menemui Wulandari tidak jauh dari rumah Elisa.


"Dini hari nanti kita langsung bergerak, aku yakin Elisa pasti akan merasakan efek melemah energi spiritual miliknya," ucap Pak Sunardi yakin.


"Terserah kamu saja, yang penting rencana ini berhasil, aku sudah malas menunggu lebih lama lagi," balas Wulandari kesal.


Pak Sunardi menghela napas. "Tenang saja, aku juga sudah memberikan obat kusus, mereka pasti tidak akan sadar ketika kita menculik Elisa," ucapnya yakin sambil menyeringai.


Wulandari mengabaikan perkataan Sunardi, wanita paruh baya itu hanya menginginkan energi spiritual Elisa secepat, agar ia bisa memiliki kekuatan yang lebih hebat lagi.


Sementara Pak Sunardi tersenyum penuh arti, ia yakin rencananya akan berjalan mulus, karena menurutnya Reno pasti tidak tahu rencananya tersebut.


Sayangnya semua yang direncakan kedua orang tua itu tidak seindah kenyataan, di samping Elisa yang sudah tidak perawan sebelum menikah, obat yang diberikan Pak Sunardi untuk Reno ke Herman tidak di serahkan sama sekali ke pria itu. Sehingga kemungkinan besar rencana pria tua itu gagal total.