
Reno dan Elisa pergi mandi bersama, mereka berdua sudah seperti pasangan suami istri saja. Namun, tiba-tiba tubuh Elisa ambruk ketika dia selesai mandi bersama Reno didepan pintu kamar mandi.
Brug
Reno reflek menoleh. "Elisa!" seru pria itu khawatir sambil memapah wanita sesegera mungkin.
"Kamu kenapa sayang?" tanyanya cemas setelah memangku kepalanya di paha.
"Kepalaku sakit Ren, tubuhku juga sangat lemas," ucapnya parau.
Reno semakin panik ketika melihat wajah Elisa memucat, pria itu segera mengangkatnya dan menaruh di ranjang.
Dengan cepat ia mengenakan pakaian Elisa kembali sebelum pria itu keluar dari kamar Elisa memanggil kedua orang tuanya.
Rasa takut Reno karena telah menjebol Elisa berubah menjadi rasa cemas, ia tidak peduli lagi jika dimarahi kedua calon mertuanya itu.
Setelah mengenakan pakaian, Reno bergegas turun ke bawah memanggil kedua orang tua Elisa yang sedang sedang sarapan bersama.
"Om, Tante, Elisa....!" seru Reno dengan napas tersengal-sengal.
Herman dan Sulastri langsung menoleh seketika, mereka mengernyitkan dahi ketika melihat Reno yang terlihat sangat tergesa-gesa, ditambah kaos oblong yang ia kenakan merupakan milik Elisa.
Karena saking terburu-buru nya, Reno mengenakan pakaian seadanya, ia tidak tahu perduli kalau pakaiannya itu milik Elisa.
"Kenapa kamu memakai baju Elisa?" tanya Herman menyelidik.
"Eh...." Reno reflek melihat bajunya, ia tersenyum kecut ketika melihat itu. "Om, nanti Reno jelaskan, lebih baik panggil dokter saja dulu, Elisa wajahnya pucat!" lanjut pria itu.
"Apa!" seru kedua orang tua Elisa bersama.
Mereka berdua seketika langsung beranjak dari duduknya dan bergegas ke kamar Elisa. Reno mengikuti mereka berdua dari belakang.
Sesampainya dikamar Elisa, terlihat Elisa yang sedang berbaring di ranjang dengan wajah pucat nya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sulastri sembari duduk didekat putrinya.
Wanita paruh baya itu mengusap-usap puncak kepala putri nya tersebut dengan sedih, sementara Herman langsung menghubungi dokter pribadi mereka.
"Aku tidak apa-apa kok Bu," jawabnya dengan suara parau.
Herman semakin curiga ketika melihat rambut Elisa yang basah, pria itu menatap menyelidik Reno dan menariknya.
"Katakan pada Om, apa yang sebenarnya terjadi?!" tanya pria itu dingin.
Reno tahu kalau dirinya pasti akan terkena omelan dari calon mertuanya itu, akan tetapi ia yang sudah berniat menikahi Elisa memantapkan tekadnya untuk membuka semuanya.
"Maafkan aku Om, aku tidak bisa menahan sampai hari pernikahan, mungkin ini karena kesalahan ku yang memaksa Elisa," jawabnya mantap sambil membungkuk.
Mata Herman membelalak lebar, ia kira kalau Reno pria yang polos dan tidak tertarik dengan hal seperti itu, tapi pria tetaplah pria, mereka pasti tidak tahan jika dekat-dekat dengan wanita.
Herma memijat pangkal hidungnya, mau marah, sebentar lagi juga pemuda didepannya itu akan menjadi menantunya, tidak marah kelakuan mereka salah.
Herman menghela napas kasar. "Kau ini... padahal dia hari lagi kalian menikah, tapi... ah... lupakan saja semua telah terjadi juga."
"Maaf Om, aku tahu aku salah, tapi tolong jangan marahi Elisa, jika Om mau marah lampiaskan padaku saja," ucap Reno yakin.
Herman menatap calon menantunya itu, terlihat sorot mata ingin melindungi anaknya. Ia tersenyum simpul, setidaknya walaupun tidak sabaran, akan tetapi Reno mau pasang badan untuk Elisa.
"Tentu Om," jawab Reno walaupun pria paruh baya itu sudah tidak ada di sana.
Reno juga turun kebawah, ia meminta saran ke pelayan, buah apa saja yang cocok untuk orang sakit.
Pelayan menjelaskan semuanya ke Reno, pria itu tanpa ragu langsung membawa buah-buahan tersebut dari dapur ke atas untuk Elisa.
Terlihat dokter yang baru selesai memeriksa Elisa. "Nona Elisa baik-baik saja, ia hanya kelelahan, istirahat yang cukup yah Non," ucap Dokter lembut.
Elisa menganggukkan kepalanya sambil mengulas sebuah senyum. Herman hanya bisa menghela napas, karena pria itu tahu kalau anaknya sehabis begadang tadi malam.
Setelah memberikan resep, Dokter pamit pulang di antar Herman sampai didepan rumah.
"Bu, biar saya saja yang menebus obatnya," tawar Reno yang sedang mengupas buah untuk Elisa.
Sulastri tersenyum. "Tidak perlu, nanti sopir yang akan menebus obatnya, kamu temani saja Elisa di sini," jawabnya sambil beranjak pergi dari kamar Elisa.
Reno hanya bisa mengangguk patuh, pria itu menyuapkan buah ke mulut Elisa dengan penuh kasih sayang.
"Ren, aku mau duduk," ucap Elisa lemah.
Reno mengangguk, pria itu membantu Elisa duduk bersandar di ranjang.
Elisa melihat betapa perhatiannya Reno pada dirinya, membuat wanita itu sangat senang, apa lagi pria yang biasanya ceplas-ceplos itu terlihat sangat pendiam dan sangat panik, membuat wanita itu sangat gemas padanya.
"Ren, haus...." rengek Elisa.
Rendi langsung mengambilkan air dengan di gelas dengan cepat, pria tersebut benar-benar melayani Elisa dengan baik.
"Duduk sini," Elisa menepuk-nepuk ranjang disebelahnya.
"Tapi El...."
Baru saja Reno mau menolak, Elisa langsung memasang wajah cemberut, sehingga membuat pria itu tidak bisa berkata-kata.
Reno pun duduk di sebelah Elisa, membawa piring buahnya. Wanita itu bersandar di bahu Reno sambil memejamkan matanya.
Sulastri yang tadi menyuruh sopir untuk menebus obat kembali ke kamar anaknya bersama sang suami. Mereka berhenti didepan pintu ketika melihat Elisa dan Reno yang terlihat sangat mesra.
"Ternyata mereka memang sudah saling mencintai Ayah, biarkan sajalah walaupun mereka melakukannya sebelum menikah, lagi pula Reno juga terlihat tidak akan meninggalkan putri kita," ucap wanita itu yang sudah diberitahu suaminya masalah Reno dan Elisa.
Herman menghela napas. "Kamu benar juga, jika kita dulu tidak dijodohkan, mungkin akan melakukan hal yang sama seperti mereka."
Sulastri tersenyum, ia merangkul lengan suaminya dan mengajaknya pergi dari kamar putrinya tersebut.
Reno dan Elisa masih asyik berduaan dikamar, mereka sesekali mengobrol walau kondisi Elisa sangat lemah.
Seharian penuh pria itu tidak keluar dari kamar Elisa, kecuali mengambilkan makanan untuk mereka makan.
Bahkan ketika Elisa tertidur pun, Reno tetap berjaga di sampingnya, tidak ada niatan meninggalkan wanita itu sama sekali.
Reno menyibak rambut Elisa, ia memandangi wanita yang akan menjadi istrinya itu sambil tersenyum penuh arti.
"Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu, Mba Kunti," gumamnya lirih.
Reno merasa sangat beruntung karena ia menemukan wanita yang begitu perhatian padanya, walaupun usia Elisa lebih tua dari pria itu, tapi sosoknya yang dewasa membantu Reno bisa menjalani kehidupan terasa lebih mudah.