
Reno dipapah Elisa untuk berdiri, wanita itu mengajak prianya untuk duduk, ia mengeluarkan sapu tangannya menghapus darah yang keluar dari sudut bibir Reno.
"Ren, lain kali jangan memaksakan diri," ucap Elisa sendu.
Reno tersenyum simpul. "Terima kasih dan Maaf karena aku masih lemah, tidak bisa melindungi Mba Kunti."
Elisa menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak salah, lawan kamu saja yang terlalu kuat," jawabnya lembut.
Reno melihat Jin wanita berpakaian serba merah tanpa muka yang belum di masukkan Elisa ke tempat bersemayamnya.
"Kamu tidak pernah bilang punya bawahan, Mba Kunti," ucap Reno sambil menatap Jin wanita itu.
Elisa tersenyum. "Oh dia, aku tidak pernah mengikat kontrak dengannya, dia akan membantuku kalau aku benar-benar dalam bahaya, seperti tadi," jawabnya lembut.
"Loh kok bisa, kalau si Wowo aku lepaskan ikatan kontraknya, aku yakin dia bakal mencari pengikut," celetuk Reno.
"Tuan, tidak seperti itu juga konsepnya, saya dan Giaju sudah tidak memiliki niatan seperti itu lagi, benarkan Giaju?" Wowo menimpali sambil bertanya pada rekannya.
Giaju menganggukkan kepalanya, karena mereka memang sudah tidak memiliki niat untuk menjadi sebuah Jin jahat lagi ya g mempengaruhi manusia.
Reno tersenyum simpul, setidaknya ia mendengar pengakuan yang baik dari kedua bawahannya tersebut.
"Terima kasih untuk kalian berdua, masuklah kembali ketempat bersemayam kalian," perintah Reno lembut.
"Baik tuan!" Giaju dan Wowo menghilang dari hadapan Reno dan Elisa.
"Momon, aku juga berterima kasih, kamu sudah boleh pergi," ucap Elis kepada Jin wanita tanpa muka itu.
Momon menghilang dari sana juga. Reno dan Elisa kemudian menggeledah dua orang yang pingsan tersebut, mereka mengambil cincin kedua orang tersebut yang merupakan tepat bersemayam khodam mereka.
Reno kemudian melihat sebuah Bros yang mirip dengan penemuan Wowo, pria itu bergegas mengambil Bros yang ditemukan Wowo.
"Mba Kunti lihat ini!" seru Reno kepada Elisa yang masih menggeledah pria satunya.
"Loh, ini Bros semalam yang ditemukan Wowo?" tanya Elisa terkejut.
Reno mengangguk. "Kemungkinan mereka dari satu organisasi, tapi kenapa mereka mengincar Mba Kunti?"
"Ren, lebih baik kita pulang saja dulu, temui Pak Sunardi, siapa tahu beliau mengetahui dari organisasi mana mereka ini," ucap Elisa.
Reno mengangguk setuju, mereka bergegas pergi dari sana meninggalkan dua orang yang pingsan di sana.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua ketika sudah pergi, dua orang tersebut langsung dilahap sesuatu karena cincin mereka di ambil oleh Reno, kedua orang itu menghilang seketika dari sana hanya tersisa pakaian yang mereka kenakan.
Elisa dan Reno tidak melihat sama sekali kejadian tersebut, karena kejadian itu terjadi setelah mereka sudah sampai diparkiran tempat wisata.
...***...
Mereka berdua sampai di rumah Elisa, wajah Reno terlihat lebam-lebam efek dari perkelahiannya dengan orang-orang yang menyerang mereka.
"Kita obati dulu lukamu, sambil menunggu Pak Sunardi datang," ucap Elisa sambil menarik Reno kedalam.
"Astaga Reno, kamu kenapa?" tanya Sulastri terkejut ketika melihat wajah pemuda itu lebam-lebam.
"Tadi Reno bertarung dengan tiga orang Bu, dia menyelematkan Elisa, keren banget kan?" ucap Elisa sambil menaik turunkan alisnya bangga terhadap Reno.
"Kamu ini, jangan terlalu mendramatisir keadaan, cepat obati Reno!" tegur Ibunya yang tahu kalau Elisa pasti berbohong.
Sulastri menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak habis pikir kalau anaknya sudah sangat berbeda jika bersama Reno.
Sementara itu Reno hanya bisa tersenyum ke arah calon Ibu mertuanya, karena bingung mau berbicara apa.
Elisa mengobati luka Reno, mengompres lebam-lebam yang ada diwajahnya menggunakan es batu, pria itu sedikit merintih kesakitan ketika sedang di rawat Elisa.
Tidak berselang lama Pak Sunardi datang, pria itu dengan buru-buru ke ruang keluarga, tempat dimana Elisa sedang merawat Reno.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Pak Sunardi langsung ketika baru datang.
Reno dan Elisa reflek mendongak, mereka berdua mengangguk bersamaan ketika melihat pria tua itu.
Pak Sunardi menghela napas lega, ia duduk dihadapan mereka berdua yang sedang berduaan sedari tadi.
"Jadi, apa yang kalian temukan?" tanya Pak Sunardi tanpa basa-basi.
Reno langsung membuka tasnya, mengambil dua cincin dan tiga Bros gagal hitam yang mereka temukan.
"Ini Pak, kami berdua sengaja hanya membawa dua cincin itu dan kedua Bros ini sama persis dengan apa yang aku temukan ketika mengejar Babi ngepet semalam," ucap Reno sambil menyerahkan barang-barang tersebut.
Pak Sunardi mengambil kedua cincin terlebih dahulu, ia mengerutkan keningnya ketika melihat kedua cincin tersebut. Ia sangat yakin mengenal cincin-cincin itu.
"Khodam didalamnya apa berupa separuh binatang?" tanya Pak Sunardi memastikan.
"Benar sekali Pak, yang satu Kuda dengan wajah manusia mata satu dan yang satunya ular berkepala manusia," jawab Reno yakin.
Pak Sunardi menganggukkan kepalanya mengerti, ia mengambil salah satu Bros tersebut. Ketika melihatnya pria tua itu menghela napas berat.
"Ternyata mereka yang mengincar kamu, Elisa," ucapnya tidak berdaya.
Elisa dan Reno saling menatap, ia kemudian bertanya. "Bapak mengenal mereka?"
Pak Sunardi menganggukkan kepalanya. "Dulu Bapak juga di ajak menjadi salah satu petinggi mereka, akan tetapi karena mereka pengoleksi ilmu hitam, Bapak tidak menerimanya, sekarang aku tahu kenapa mereka mengincar mu," jawabnya yakin.
"Karena apa Pak?" tanya Elisa penasaran.
Pak Sunardi menghela napas. "Karena tubuhmu spesial Elisa, sebenarnya itu alasan Bapak juga mengangkat kamu jadi muridku, karena tubuhmu spesial."
"Maksud Bapak?" Elisa terlihat masih bingung.
"Tubuh dua alam, karena rohnya pernah keluar dari tubuhnya. Sebab itulah mereka mengincar Elisa, benarkan Pak Sunardi?" tanya Reno memastikan.
Pak Sunardi menganggukkan kepalanya. "Aku tidak tahu kamu juga sebenarnya tahu masalah ini Reno, apa kamu mendekati Elisa juga karena alasan ini?" tanya pria tua itu memastikan.
Elisa mengerutkan keningnya. "Apa maksud kalian, dan apa yang sedang kalian bicarakan, Ren, apa benar kata Pak Sunardi?"
Elisa tentu saja sangat kecewa jika Reno punya alasan lain mendekatinya, walaupun wanita itu sudah menyukainya, akan tetapi ia juga akan merasakan sakit jika di perlakukan seperti itu.
Pak Sunardi menatap tajam Reno, pemuda dihadapannya memiliki kekuatan yang cukup besar jika sudah bertarung dengan serius, ia takut kalau Reno sampai memiliki niatan yang sama dengan pengincar tubuh Elisa.
Ruangan tersebut terasa sangat tegang. Elisa menunggu jawaban dari Reno dengan mata berkaca-kaca, ia tidak tahu harus berbuat apa jika Reno benar-benar menganggapnya hanya sebagai barang incaran saja.
"Ren, kenapa kamu diam, apa benar yang dikatakan Pak Sunardi, kalau kamu juga mengincar ku?!" tanya Elisa dengan suara lantang.