
Vian masuk ke dalam rumah dengan memegang tangan Benz.
seketika ia terkejut melihat wanita yang benar benar sulit di hadapi dan sangat ribet.
''cucu oma!!!!"teriak wanita itu berlari saat mendengar pintu di dorong.
ia berlari dan langsung menggendong Benz mencium wajah Benz dengan sangat kegirangan.
''dia oma kandung ku'' gumam Benz memeluk leher Cetrin berusaha mengubah ekspresi wajah nya menjadi lucu,padahal sebenar nya memang lucu dan menggemas kan.
"anak ini benar benar Vian kecil ku,bahkan sifat mereka juga sama,tapi cucu ku ini tentu saja lebih tampan" gumam cetrin tersenyum lembut melihat benz yang memeluk nya.
"oma muaah"ucap Benz mencium kening Cetrin,tiba tiba membuat rumah itu seakan meledak karna kebahagian Cetrin yang tak terhingga,membuat Vian,Benz dan pelayan menutup telinga.
"maaf kan oma"ucap Cetrin pada Benz yang menutup telinga.
"don't worry oma"ucap Benz melepas kan tangan nya dari telinga.
"oke sekarang oma akan,membawa mu berbelanja sepuas mu"ucap Cetrin buru buru keluar dengan masih menggendong Benz.
"ma...,"suara itu membuat Cetrin mengehentikan langkah nya,dan berbalik dengan wajah memelas.
"Vian putra kesayangan mama,ijin kan mama mu yang sudah lama kesepian ini membawa putra mu ini berbelanja"ucap Cetrin dengan wajah sendu.
"tidak"kata dingin itu keluar dari mulut Vian dengan datar nya.
"bocah ini" kesal Cetrin padahal ia benar benar ingin menghabis kan waktu bersama cucu nya yang sudah ada di gendongan nya.
"aku tidak perlu ijin dari mu"kesal Cetrin kembali berbalik.
"ck.."decak Vian dan berjalan cepat ke arah mama nya itu,dan segera merebut Benz dari tangan Cetrin.
"kau ini anak durhaka sekaliii!!!"teriak Cetrin menunjuk wajah Vian dengan amarah.
"aku tidak boleh galak galak di depan cucu ku" gumam Nya menahan api yang ada di dalam hati nya.
"kalau mama kesepian,kenapa tidak meminta papa,untuk membuat adik kecil lagi,dengan itu aku yakin mama pasti akan sangat bahagia"sinis Vian berjalan menaiki tangga dengan menggendong Benz.
Benz menjadi saksi pertengkaran anak ibu itu,karna diri nya,hingga membuat nya tak mampu berkata apa apa.
***
''nak..''~Lia
''iya ma.."~jawab Fico dari balik telfon
"apa kamu jadi pulang.."~tanya Lia dengan nada bahagia.
''ini Fico udah di pelabuhan ma,sebentar lagi Sampai rumah.."~Fico.
''ok mama akan tunggu kamu..''~ucap Lia langsung memutus kan sambungan.
****
''jemput kekasih mu?''tanya Benz menatap tajam Vian yang berada di depan nya.
''pffft kau ini,mengerti apa tentang kekasih,nanti kau akan tau sendiri''ucap Vian langsung mengangkat tubuh Benz di gendongan nya.
''lepas kan aku,aku bisa jalan sendiri!!!!''teriak Benz marah,karna setiap kali pergi kemana,Vian selalu menggendong nya.
''biar kan papa memanjakan mu''ucap Vian dengan mata berbinar.
''tidak usah,aku bisa jalan sendiri aku tidak mau di manjakan''ketus Benz dengan tingkah kekanak kanakan Vian,yang sudah berkaca kaca.
''kenapa aku punya papa seperti ini'' gumam Nya memukul kening nya,dan langsung berjalan meninggal kan Vian.
"anak ini,sama sekali tidak memperdulikan ku"gumam Vian sedih,dan berjalan mengikuti Benz menuju keluar rumah.
****
"awas saja,kalau dia punya kekasih aku pasti akan membuat mu menderita" gerutu Benz dalam hati nya.
"apa kau mengingin kan seorang mama?"tanya Vian tiba tiba,membuat Benz menoleh dengan amarah yang seakan meledak ledak.
"tidaaaaaaak!!!!!"teriak nya sekeras keras nya,membuat supir yang menyetir terkejut dan hampir hilang kendali.
"Jika kau berani menikah lagi,aku pastikan dalam 1 tahun nama mu akan hancurr!!!!"ucap Benz dengan nada dingin dan penekanan setiap kata kata nya,dan mata tajam bak elang nya menatap Vian yang duduk di samping nya.
"kenapa anak ini mempunyai aura yang sangat menakut kan juga mempunyai hawa membunuh seperti ini,dan juga amarah nya tidak di buat buat" gumam Vian tak mampu betkata apa apa lagi.
"tuan muda kami,bahkan lebih menakut kan dari pada tuan besar" gumam supir itu menelan salvina nya,karna hawa membunuh yang di keluar kan Benz.
Benz yang sekarang benar benar marah,dengan cepat memaling kan wajah nya arah kaca mobil.
""dia benar benar marah" gumam Vian.
"pria ini benar benar kejam,setelah membiar kan mama pergi,sekarang masih ingin memberi ku mama baru,cih menjijik kan" guma Benz.
***
mereka sampai di pelabuhan,Vian keluar dari mobil,tapi sebelum itu.
"apa tidak ingin pergi bersama papa?"tanya Vian.
Tapi sama sekali Benz tidak menjawab atau menoleh ke arah Vian.
Vian menarik nafas panjang,dan dengan berat hati,ia pergi sendiri,meninggal kan Benz dengan supir dalam mobil.
POV AUTHOR
dukung author dengan:like,komen,Vote dan Rate kalian