Lovely Stranger

Lovely Stranger
Soal Skandal Itu



Miyeon menatap malas ke arah pria di depan nya, entah mengapa belakangan ini Bobby berusaha mendekatinya. Ia mengaduk aduk jus yang baru saja ia pesan. Keduanya memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran elit setelah berbelanja. Ya, kepopuleran Bobby membuat pria yang berprofesi sebagai rapper itu jadi cukup kaya saat ini. Tidak, Miyeon bukan gadis matrealistis, ia mencoba bersikap baik pada pria ini.


"Hey, apakah benar tentang rumor belakangan ini?"


Tanya Miyeon memulai percakapan.


"Rumor? Tentang apa?"


Tanya Bobby yang sedari tadi masih sibuk memilih menu makanan.


"Tentang Jennie dan dirimu.. Kalian berpacaran? Aku dengar ada sasaeng yang mengikuti kalian.."


Ucap Miyeon yang sesekali menyesap jus dingin di depannya.


"Aish.. Kami hanya makan malam bersama, lagi pula aku tak merasa jika ada yang mengikuti kami.. Malah yang aku dengar, Mino dan Jisoo sudah sering diikuti oleh sasaeng.."


Miyeon tersenyum tipis. Gadis itu begitu tahu bagaimana cara memancing topik yang bagus.


"Jadi benar mereka berpacaran? Lalu, sejauh mana hubungan mereka?"


Tanya nya penuh selidik. Bobby memang cukup dekat dengan Mino, karena mereka pernah melakukan kolaborasi.


"Aku tidak yakin, tapi aku pernah melihat tanda merah di leher Mino, saat aku main ke studio nya bulan lalu.."


Jawab Bobby.


"Apa? Astaga, sulit dipercaya bahwa Jisoo begitu nakal.."


Cibir Miyeon.


Obrolan itu tak berlanjut, Bobby bukanlah tipe orang yang suka membelokkan pembicaraan ke topik orang lain. Mereka menyelesaikan makan malam itu, kemudian Bobby kembali mengantarkan Miyeon ke apartment.


Sesampainya di apartment, Miyeon merebahkan tubuhnya di ranjang. Kemudian jemarinya segera berselancar pada kontak telepon nya. Ia nampak menelpon seseorang.


"Halo.. Aku Cho Miyeon, aku sudah bilang kan, kalau aku akan memberitahu tentang berita bagus tadi siang?"


Ia tertawa kecil.


"Ya, kalian bisa menerbitkan artikel ini besok pagi.. Walaupun ini baru rumor.. Tapi aku janji, aku akan mencari informasi yang lebih lagi.. Jadi, kalian bisa memotret mereka.."


Sesaat setelah menyelesaikan misi nya, Miyeon mencoba untuk pergi tidur. Ia tak sabar menunggu kehebohan besok pagi.


...♡♡♡...


Jennie nampak murung dan hanya terdiam di ruang TV. Tatapannya masih kosong, tak ada tawa sama sekali meski ia sedang menonton kartun favoritnya. Spongebob Squarepants. Jinu datang dari dapur kemudian duduk di samping Jennie. Ia menyenggol bahu gadis itu, dan hanya dibalas dengan lirikan sesaat oleh Jennie.


"Tumben kau tidak berisik.."


Ujar Jinu yang kemudian meneguk soda yang ia ambil dari kulkas.


"Aliran chakra ku sepertinya tersedot di dalam patung jubi.."


"Uhukk.."


Jinu terbatuk mendengar jawaban itu. Ia benar benar tak habis pikir dengan Jennie. Pria itu menempelkan tangannya pada dahi gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Apa kau sedang memberikan ku aliran chakra?"


Tanya Jennie.


"Huh!! Sepertinya kau mengalami pencucian otak.. Ohhh atau kau sedang dirasuki oleh setan dari dunia Shinobi?"


Ujar Jinu. Jennie menunduk lesu, gadis itu masih teringat dengan kejadian siang tadi.


Teriak Jinu. Sepersekon kemudian Jennie mulai menangis.


"H-hey.. Jennie Kim.."


Jinu nampak panik. Gadis di sampingnya memeluk kaki dan menangkupkan wajahnya. Ia menangis tersedu sedu.


"Kau menangis karna Bobby?"


"Kenapa nasib buruk menimpa ku secara bertubi tubi.."


Ucap Jennie di sela tangis. Ia kehilangan karir, harta benda bahkan kekasih. Mengapa gadis baik itu begitu sial?


"Kau hanya sedang tidak beruntung.."


Jawab Jinu dengan tenang. Hal itu justru menarik perhatian Jennie, gadis itu melirik ke arah Jinu yang kini memindah channel televisi dengan remot kontrol.


Suasanya mendadak hening ketika Jinu menekan tombol off pada remot. Ia menoleh ke arah Jennie yang masih memandangi nya.


"Sebelumnya aku mencoba untuk tak peduli, tapi aku mengubah cara pikirku.. Aku tak bisa hidup tenang jika tinggal serumah dengan gadis yang bermasalah sepertimu---"


Ia memotong kalimatnya, Jennie nampak makin muram dan menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya.


"Jadi, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


Lanjutnya.


"Apa?"


Tanya Jennie pelan.


"Katakan soal skandal yang menimpa mu.. Apakah itu benar atau hanyalah fitnah?"


"Itu fitnah.. Aku tak pernah tahu siapakah CEO yang disebutkan di berita, bahkan tak ada siapapun yang pernah melabrakku seperti apa yang dilaporkan.."


Jinu menatap dalam pada mata Jennie. Pria itu segera tahu bahwa Jennie Kim berkata jujur.


"Kalau kau tak melakukannya, kenapa kau ketakutan? Kenapa kau tak mencoba untuk melawan?"


Tanya Jinu lagi.


"Aku tak punya apapun.. Aku tak bisa membayar media.."


"Kau tak perlu membayar siapapun untuk mengungkapkan kebenaran.. Yang harus kau lakukan hanyalah muncul dan mengatakan yang sebenarnya.."


Jennie menunduk, ia nampak ragu.


"Ta-tapi.. Tak ada satupun yang membantu ku.."


"Apa dari semua kepopuleran itu kau tak punya satupun teman yang kau percayai?"


Seketika Jennie teringat pada Jisoo.


"Aku punya satu.. Aku yakin dia akan membantuku.. Terima kasih sudah memberikan ku saran.."


Ucap Jennie.


"Bukan hanya saran, aku juga berjanji akan membantu mu menyelesaikan semuanya.."


Jawab Jinu.