
"KYAAAA!!!"
Jennie memekik. Lagi lagi kecoa terbang.
"YAYAYAYAYAYAYA!!!"
Tuan Kim Jinu muncul sembari membawa slippers kesayangannya yang juga pernah ia gunakan untuk melakukan perbuatan keji pada kecoa sebelumnya.
TAPPP!!
Tepat sasaran.
"AHAAA!!"
Pekik pria itu berorasi. Segera ia meraih antena kecoa itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Iywhhh.. Jorok!"
Cibir Jennie.
"Siapa yang jorok ha?? Kamar ku tak pernah sekalipun di datangi kecoa.."
Protes Jinu sambil berkacak pinggang. Kamar Jennie yang awalnya adalah ruangan terlupakan itu mungkin saja sudah menjadi sarang kecoa, karna Jennie bukanlah orang yang jorok.
"Jadi maksudmu aku yang jorok begitu?"
Balas Jennie tak kalah galaknya.
"Jangan ribut terus, aku mau pergi ke pameran dulu.."
Ucap Jinu sembari mengelapkan tangannya di sprei Jennie.
"YAAKK.. KAU JOROK!"
Protes Jennie. Bagaimana bisa pria itu mengatai Jennie jorok,padahal ia sendiri juga begitu.
"SSTTTTT.. Kau terlalu banyak memekik, itu membuat telinga ku sakit.."
Ujar Jinu sambil mengorek telinga nya dengan jari kelingking. Pria itu berjalan keluar, namun Jennie menghadang langkahnya.
"Apa lagi?"
"Astaga, kenapa kau galak sekali-"
Jinu memutar bola matanya dengan malas.
"Kau bilang kau akan membantuku?"
Tanya Jennie sekedar mengingatkan.
"Ya tapi tidak hari ini juga .. Aku harus pergi ke pameran, dan menilai beberapa karya seni.. Kau paham? Aku harus pergi untuk mencari uang, untuk menghidupi mu juga.."
Jawab Jinu sinis. Jennie menunduk, meski ia tak ingin tersinggung dengan segala perkataan Jinu namun rasanya sulit juga.
"Aku pergi dulu"
Pamit Jinu sembari berjalan melewati Jennie.
"Cepatlah pulang.."
Rengek Jennie, pria yang sudah berada di ambang pintu itu menoleh. Sejenak ia terkesima menatap wajah Jennie yang begitu polos.
Seperti kucing manis..
Besitnya dalam hati.
"Meoooonggggggg.."
Seolah olah telinganya mendadak eror.
Dia berbunyi meong?
Jinu membulatkan matanya.
"Kenapa melihat ku seperti itu?"
"Aishhh.. Jangan keluar rumah seenaknya"
Jawab Jinu yang tersadarkan dari imajinasi anehnya.
"Memangnya kenapa?"
"Kalau sampai ada wartawan ataupun sassaeng yang mengikutimu sampai kesini, aku bersumpah akan merobohkan rumah ini.."
Ucap Jinu kesal.
"A-APA???"
Tanya Jennie tergagap.
"Aishh.. Aku tidak serius.. Mana bisa aku merobohkan rumah ini.."
Jennie menggelengkan kepalanya karna keheranan. Kemudian membiarkan Jinu benar benar berlalu dari hadapannya.
...♡♡♡...
Jinu menyusuri lorong galeri seni yang ia kunjungi. Dua orang promotor berjalan bersama nya dan menunjukkan tempat tempat dimana karya karya seni yang akan dinilai oleh Jinu dipamerkan. Ya, meski tergolong masih muda, Jinu sangat diperhitungan dalam hal seni. Bahkan sosoknya menjadi inspirasi bagi seniman lainnya. Pria berusia 28 tahun itu sudah berkali kali memamerkan karya seni buatannya di hampir seluruh dunia. Polesannya yang unik membuatnya cepat terkenal di kalangan para seniman.
"Di bagian ini, karya seni Jay Kim yang diberi judul -bebas-.."
Ucap penyelenggara pameran.
"Hmmm lumayan.."
Jinu memiringkan kepala nya, kemudian melirik ke arah pria bernama asli Kim Jinhwan itu. Ngomong ngomong, mereka dulu adalah teman di masa sekolah. Namun, keduanya selalu berseberangan pendapat. Melihat Jay yang tak lebih sukses darinya membuat Jinu tersenyum puas.
"Lumayan? Apa anda yakin? apakah anda benar benar tahu apa makna dari karya seni ku ini?"
Pria bertubuh mungil itu melontarkan ketidak setujuannya.
"Tak usah banyak bicara, ceritakan saja maksudnya?"
"Karya ini mewakili sebuah plural-"
"Cukup"
Potong Jinu sembari menggores lukisan itu dengan kuku nya. Beberapa orang disana membulatkan mata secara bersamaan.
"Kau sebut ini karya seni?.. Ini bahkan tak lebih bagus dari akar serabut.."
Tutup Jinu mengakhiri kunjungannya di stan itu.
"YAAAKKK.. KIM JINU, AKAR SERABUT APA YANG MEMENUHI OTAKMU!!!"
Maki Jay yang kini ditahan oleh dua orang bodyguard yang disediakan di tempat pameran itu. Jinu tertawa kecil, rupanya cibiran Jennie yang waktu itu bisa ia gunakan untuk mengerjai orang lain.
Jinu menghentikan langkahnya tak jauh dari situ, matanya segera tertuju pada seorang gadis yang sedang memainkan kecapi dengan merdunya. Pria itu menghampiri stan milik gadis itu, telinga Jinu langsung jatuh cinta pada petikan senar kecapi yang begitu indah.
Trriiiingggggggg!!!
Tangan lentik si gadis berambut ikal itu mengakhiri permainannya. Jinu tersenyum simpul, baru saja ia menyadari bahwa gadis itu begitu imut.
"Ini Nona Song Yuqi, selain memainkan kecapi, ia juga membuat sebuah karya lukisan dengan judul -lonely-"
Jelas penyelenggara acara.
"Yaaah.. Ini bagus dan mempunyai arti yang mendalam.. Aku menyukainya.."
Jinu tak dapat memalingkan matanya dari wajah cantik itu.
"Eunghh.. Lukisannya disini tuan.."
Ucap Yuqi sambil menunjuk ke arah samping dimana ia meletakkan lukisannya.
"Ah iya benar, aku sudah melirik benda ini sebelumnya. Hehe.."
Jinu terkikik.
...♡♡♡...