Lovely Stranger

Lovely Stranger
Tertangkap Basah



"Yaakk.. Cho Miyeon, kau dengar aku!"


Bentak Park Jinyoung ketika Miyeon malah sibuk memainkan ponselnya.


"Ma-maaf.."


Gadis itu membetulkan dudukkanya. Park Jinyoung menghembuskan nafas kesal.


"Jadi, bagaimana jika pria itu tetap mendesak ku? Sepertinya dia tak main main.."


Park Jinyoung memijat pelipisnya, pusing bagaimana cara memadamkan api yang ia sulut sendiri.


"Aku sudah mengantongi identitasnya, bahkan akun instapad nya.."


Miyeon menunjukkan akun sosial media pria yang mereka bicarakan. Pria separuh baya di depannya meraih ponsel Miyeon dan mulai berselancara di setiap postingan foto pria itu.


"Jadi namanya Kim Jinu, tapi tunggu dulu! Bukankah ini-"


Park Jinyoung menggantung kalimat nya ketika mendapati gambar seseorang yang ada di salah satu postingan instapad milik Jinu.


"Siapa?"


Miyeon nampak penasaran.


Masih segar di ingatan Park Jinyoung, pria yang menjadi saingannya sejak dulu. Dia Kim Seunghyun, ayah Kim Jinu.


"Kim Seunghyun.. Ternyata bocah kurang ajar itu putra mu ya.."


Park Jinyoung bergumam. Miyeon menaikkan salah satu alisnya, sebenarnya ia tak peduli tentang siapa Kim Seunghyun atau siapapun yang sekiranya bersangkutan dengan Kim Jinu. Tapi, yang membuatnya tertarik adalah tentang status pria yang kini dilabeli sebagai kekasih Jennie Kim itu.


"Kalau Kim Jinu kekasih Jennie Kim, ku rasa dia terlalu tampan untuknya.."


Gumam Miyeon.


Lalu siapa yang pantas? Tentu saja aku..


Lanjut Miyeon dalam hati.


"Tenang saja Park CEO, aku akan menaklukan Kim Jinu.. Saat dia meninggalkan Jennie, aku yakin dia tak akan mempedulikan soal kasus ini lagi.."


Ujar Miyeon memberikan saran. Gadis ini memang akan selalu menyaingi Jennie Kim.


"Terserah kau saja.. Aku pusing memikirkan ini.."


Jawab Park Jinyoung.


...♡♡♡...


Jennie kembali menekan nomor ponsel sahabatnya, namun lagi lagi hanya suara pita rekam operator yang menyambut pendengarannya.


"Aishh.. Bagaimana bisa tidak aktif"


Gumamnya kesal. Sejenak ia berpikir tentang skandal yang baru baru ini menimpa Jisoo, sahabatnya.


Barangkali ia mengganti nomor ponselnya agar tak diganggu oleh sassaeng maupun wartawan. Memang susah jika tak memiliki ponsel, kalau tak demi anjing kesayangannya maka Jennie tak akan pernah merelakan benda persegi panjang tipis yang tak pernah lepas dari tangannya. Gadis itu mendengus kesal, ia membaringkan tubuhnya di sofa ruangan tengah, hari ini begitu melelahkan baginya namun ia sudah mulai terbiasa.


Jennie melirik ke arah samping ketika melihat Jinu yang berjalan menuju dapur, sambil menempelkan ponsel di telinga nya. Nampaknya ia sedang menelpon seseorang, bahkan tawa kecilnya sesekali terdengar oleh telinga Jennie.


"Dasar.. Apa dia sedang bicara dengan gadis di pameran seni kemarin?"


Gadis itu menduga duga. Ia beranjak dari sofa lalu berjalan ke dapur untuk meneguk segelas air dingin. Jinu masih berada di dalam sana duduk di depan meja makan sembari mengunyah kripik kentang.


Samar obrolan itu terdengar di telinga Jennie. Gadis itu meraih air dingin yang ada di dalam kulkas kemudian menuangkannya ke gelas.


Glek glek..


"Yahh.. Sayang sekali.. Tak bisakah kelas yoga antara pria dan wanita dicampur, agar kita bisa bersama-"


"UHUUUUKKKK.."


Jennie terbatuk, hingga membuat Jinu menghentikan aktifitasnya sejenak.


"Yakk.. Bisakah kau diam? Aku sedang bicara di telepon.."


Bisik Jinu pelan. Jennie hanya mengangguk kemudian. Ia kembali ke tempat awalnya, ruang tengah. Gadis bersurai panjang itu kembali berbaring di sofa.


Jinu keluar dari dapur dengan wajah muramnya dan siap untuk menghujani Jennie dengan ribuan sumpah serapah.


"A-ada apa dengan wajahmu?"


Jennie mengarahkan jari telunjuknya ke arah wajah pria yang kini jalan menghampirinya.


"YAKK.. TAK BISAKAH KAU TAK BATUK, AKU SEDANG MENELPON SESEORANG!"


Protes Jinu, nada bicaranya meninggi.


"Ma-mana aku tahu.. Kau pikir aku sengaja batuk?"


Jawab Jennie.


"Tak bisakah kau berdiri atau duduk.. Kau pikir sopan, bicara dengan tiduran begitu?!"


Jennie menyembunyikan wajahnya di salah satu sisi sofa.


"Masa bodoh, siapa suruh marah marah hanya karna aku batuk.."


Jawabnya dengan suara teredam oleh bantal duduk.


"YAKKK.. TAK BISAKAH KAU BANGUN"


Jinu menarik kedua tangan Jennie, namun gadis itu meronta.


"Yakkk.. LEPASKAN AKU.."


Rontanya, Jinu yang kewalahan akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh menimpa tubuh Jennie.


"Akh.."


Keduanya mengaduh bersamaan. Wajah mereka kini hanya berjarak tak lebih dari 1 cm, bahkan hidung mereka saling bersentuhan. Untuk sesaat waktu terasa berhenti, mereka saling menatap dan tak bisa mengatakan apapun. Hening, sunyi, bahkan deguban jantung mereka kini mendominasi.


Deg deg deg deg deg..


Nafas semakin cepat, jantung dipompa dengan keras. Desiran darah melaju kencang, membuat tubuh mereka menghangat. Seolah nyaman dengan posisi itu, Jinu bahkan enggan bergerak sedikitpun. Hingga seseorang datang dan mengganggu momen tak terduga tersebut.


"OH.. Jadi ini yang kau lakukan saat kau sudah punya rumah sendiri?"


Lengking seseorang yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu.


...♡♡♡...