
Pagi itu Jennie sudah berada di kantor agensi The South. Baru saja ia selesai menandatangani kontrak eksklusif yang ditawarkan oleh Nam Taehyun. Di dalam ruangan itu juga ada Jisoo yang sedang sibuk dengan ponselnya.
"Terima kasih sudah bergabung di The South," ucap Taehyun sembari menjabat tangan Jennie. Gadis cantik itu mengangguk, dan menampakkan sedikit senyumnya. Ia masih memikirkan tentang Jinu. Mendapatka kontrak eksklusif nyatanya tak membuatnya sedikit bahagia saja.
Taehyun beranjak dari kursi kebesarannya. Kemudian ia berjalan keluar, "Aku ada urusan dengan klien.. oh ya.. Jisoo akan mengantarkan ke apartment barumu."
Jennie berdiri kemudian membungkukkan badannya, memberi hormat. Ya, bagaimanapun juga pria itu adalah bosnya sekarang.
"Kau senang?" sindir Jisoo yang kini beranjak dari sofa, sembari melipat tangannya di depan dada.
"Kau kenapa?"
Gadis itu memalingkan wajahnya, "Kau enak bisa go public, padahal tidak benar-benar pacaran."
Jennie terdiam sesaat, ya, begitulah Jisoo yang memang ingin go public sejak lama. Justru harus Jennie yang melakukanya lebih dulu, meskipun hubungan itu tidak asli. Tapi, mau bagaimana lagi? Semua itu sudah terlanjur 'kan?
Keduanya kemudian berjalan keluar dari gedung agensi untuk menuju apartment yang dimaksud.
Gedung itu terletak dekat dengan gedung agensi. Apartment itu tak begitu mewah seperti milik Jennie yang sebelumnya, tapi terlihat bersih dan rapi. Pas sekali untuk orang yang hanya tinggal seorang diri, karna kau tak perlu kelelahan membersihkannya.
"Yeay ...! apartment baru, bagaimana perasaanmu Jennie Kim?" Sorak Jisoo senang. Namun, berbeda dengan Jennie yang justru nampak sedih kali ini. Jisoo yang menyadari perubahan raut Jennie, segera mendekat dan memeluk sahabatnya itu.
"Ada apa, apa yang terjadi?" Tanya Jisoo sembari menangkupkan kedua tangannya di pipi Jennie, "ceritakan pada ku apa yang terjadi!" Pinta Jisoo.
Jennie menghela napas panjang, sepasang mata indahnya mulai berkaca, "Aku senang, tapi—" perkataannya terpotong, "—aku tak ingin semua jadi begini." Jennie mulai menangis. Jisoo merangkul sahabatnya itu sembari menepuk-nepuk punggung Jennie pelan.
"Menangislah dulu, aku akan menunggu sampai kau siap bercerita," ucap Jisoo.
...♡♡♡...
"Selamat pagi putra ayah yang tampan," sapa Seunghyun yang baru saja masuk ke kamar putranya. Maksud kunjungannya kali ini adalah untuk mengambil karya seni Jinu yang harusnya dibawa ke pameran sejak kemarin.
"Ayah sudah memeriksa galerimu, dan menyuruh supir untuk membawa lukisanmu ke pameran," ujarnya.
Jinu mengubah posisinya menjadi miring untuk memunggungi sang ayah, "Terserah."
"Kau terlihat konyol seperti anak SMA yang baru putus cinta," cibir Senghyun. Jinu tak menjawab, ia rasa butuh waktu yang cukup lama untuk membuatnya kembali 'baik-baik saja'.
Namun, siapa sangka. Beberapa menit kemudian Jinu terperanjat dari kasurnya.
"ASTAGA!"
"Ada apa?" Tanya Seunghyun. Jinu teringat bahwa ia tak membuat satu pun lukisan setelah waktu itu. Ia menoleh ragu pada sang ayah yang kini menatapnya bingung.
"Lukisan mana yang ayah antar ke pameran?" Tanya Jinu.
"Lukisan gadis cantik rambut ikal."
"APA?!" Kagetnya.
Seunghyun menatapnya bingung, "Lukisan itu bagus."
...♡♡♡...