Lovely Stranger

Lovely Stranger
Karena Media Play



...Jennie mematung di depan sebuah lukisan dirinya. Ia pandangi setiap goresan di kanvas itu. Masih teringat jelas di kepala Jennie, bahwa prianya lah yang menempelkan goresan-goresan cat air itu....


"Boleh aku membawanya?" tanyanya lirih. Sang manajer yang berdiri di sampingnya menoleh, wanita separuh baya itu kini menatap wajah Jennie yang mulai sendu. "Lukisan ini sangat mahal," jawabnya. Jennie tersenyum miris. Ia menyeka bulir air mata yang hendak meluncur ke pipi.


"Tak perlu membeli, aku bisa mendapatkannya secara gratis."


Sang manajer terdiam, ia benar-benar tak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Jennie.


"Aku tahu siapa dia," Jennie tersenyum sesaat setelah menggantung kalimatnya, "dia bilang lukisan ini adalah produk gagal."


Sang manajer masih memandangi si aktris.


"Tapi mengapa dia meletakkannya di pameran seni, apa maksudnya ini?—" gadis itu menghentikan kalimat fatal yang mungkin saja akan keluar dari bibirnya. Dadanya mulai sesak, udara terasa enggan mengalir di tenggorokannya.


"—apa dia berusaha untuk membuatku semakin sakit, hiks ...." Entah mengapa meski Jennie mencoba menahan air matanya, benda cair itu tetap saja mendesak keluar.


"A-apa maksudnya ini ... Kim Jinu?!"


...♡♡♡...


Denting jam mendominasi ruangan itu. Dua orang pria di sana saling diam dan hanya menatap satu sama lain. Satu pria yang duduk di meja CEO itu mengeluarkan keringat dingin. Sedangkan pria di depan kini menatapnya penuh selidik.


"Media play?" tanya pria bermarga Kim itu lagi, dia hanya berusaha untuk menegaskannya.


CEO muda di depannya tertawa pelan. "Ya, anda tahu 'kan? Potensi Jennie Kim sangat bagus, tidak sepantasnya ia dihancurkan oleh skandal yang tak jelas itu," ucap pria bermarga Nam itu.


"Ini harusnya bukan masalah, keluargamu seharusnya memahami bagaimana dunia keartisan itu. Mereka harus siap dengan hal-hal semacam ini—"


Brakk!!!


Pria itu —Kim Jumyeon— menggebrak meja. Tak peduli meski ia kini bersikap kurang ajar. Hal ini ia lakukan demi sang adik.


"Kaupikir keluarga kami punya waktu untuk memaklumi media play? Lagipula, dibandingkan dengan hal itu, mengapa kau tak mencoba meluruskan dengan cara mencari sumber dari mana skandal murahan itu berasal?" tanya Jumyeon.


"Aku tak berhak melakukannya, karna sebelumnya bukan agensi kami yang menaungi Jennie," jawab pria dengan gaya rambut belah tengah itu. Jumyeon mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia menghajar pria di depannya ini.


"Sial! Kurasa percuma bicara dengan orang sepertimu. Kau sama saja dengan Park Jinyoung!" Tentu Jumyeon tahu betapa menyebalkan rival ayahnya itu. Benar-benar sama seperti Nam Taehyun.


...♡♡♡...


Tisu-tisu itu berserakan di bawah bangku mobil. Wanita separuh baya yang sedari tadi duduk itu masih memperhatikan sang aktris. Entah mengapa air matanya tak mau berhenti mengalir.


"Kau yakin mau shooting hari ini? Kalau keadaanmu masih belum membaik, aku akan bilang pada mereka untuk menunda besok," ucap wanita separuh baya itu.


"Tidak. Aku baik-baik saja, lagipula ini adalah komersial pertamaku setelah hiatus," jawab sang aktris yang tak lain adalah Jennie. Gadis itu mengambil kaca kecil di tasnya kemudian mengusap air mata yang masih tersisa dengan tisu. Ia begitu sentimental apabila mengingat sang pujaan hati. Baru tadi ia pergi ke pameran seni untuk memeriksa karya lukisan yang belakangan viral karena mirip dengan dirinya.


"Aku siap." Gadis itu menenteng tasnya, kemudian turun dari mobil van yang membawanya. Ia berjalan masuk ke dalam sebuah kafe yang digunakan untuk shooting iklan komersial hari ini.