Lovely Stranger

Lovely Stranger
Chill 2 & Konsekuensi



Jinu masih berpikir, sedang gadis yang berada di bawah kuasanya makin kehilangan akal. Ia menarik tubuh Jinu, memeluknya erat dengan tubuh naked. Pria yang diberi perlakuan itu mencoba menepis bayangan Jaewon. Adiknya yang kurang ajar itu memang sering mampir ke pikiran Jinu.


Ah, lupakan Jaewon! Ada gadis menggiurkan yang saat ini harus Jinu tangani.


Pria itu merenggangkan jaraknya pada Jennie untuk melepas apa yang masih melekat di tubuhnya.


Tubuh Jinu yang berpeluh nampak begitu seksi di mata Jennie. Gadis itu meraba perut Jinu, dan menatapnya kagum.


"Are you ready, Honey?" goda Jinu dengan suara seksinya. Mendadak Jennie ciut, ia takut tapi 'ingin' juga. Ia hanya berharap bahwa Jinu akan berhenti melemparkan pertanyaan-pernyataan semacam itu dan langsung melakukan saja masuk ke inti.


"I- I ...." Jennie terbata. Namun wajah needy-nya membuat Jinu yakin bahwa gadisnya pun juga 'mau'.


Jinu melepaskan kaos Jennie dan hanya meninggalkan bra yang belum sepenuhnya terlepas.


Pria itu menarik selimut hingga menutup tubuh mereka yang benar-benar naked saat ini. Ia kembali menindih tubuh Jennie. Tangannya memeluk tubuh mungil sang gadis dan melepaskan pengait bra yang terpasang.


Jinu menariknya dan menunjukkannya pada Jennie. "Aku sudah melepaskan yang terakhir," ucapnya sembari melemparkan bra hitam itu ke sembarang arah.


Sepasang tubuh itu memanas, mereka bercumbu sebelum masuk ke inti dari permainannya.


Jinu membuka kaki Jennie, dan mencoba menerobos pertahan gadis itu dengan 'milik'nya.


Tangan Jennie meremas bahu Jinu, ia menahan sakit di bawah sana.


Beberapa saat kemudian milik Jinu sudah terbenam di dalam tubuh Jennie. Gadis itu makin kehilangan akal, apalagi ketika Jinu mulai bergoyang mengguncang tubuhnya.


"Emphhh ... Oppa," lenguh Jennie yang nampak begitu menikmati permainan.


Jinu merapatkan tubuhnya, memeluk tubuh gadis itu dengan erat dan berhenti sesaat untuk mengambil napas.


Ia menghela napas panjang, kemudian kembali menggoyangkan tubuhnya, menusuk Jennie sampai ke pangkal. Tubuh Jennie menggelinjang, tak terkira bagaimana dirinya telah dijelajahi oleh Jinu telalu jauh.


"Akhhh ...." Jennie mendorong pelan tubuh Jinu. Gadis itu mencoba menahan pergerakan Jinu yang semakin cepat, ia mulai keberatan menopang tubuh Jinu.


Ayolah, berat badannya 63 kg dan Jennie sudah kehabisan tenaga untuk menopangnya.


Jinu yang sadar akan hal itu pun berguling, menukar posisinya dengan Jennie dan membiarkan gadis itu berada di atasnya.


"Gimme dat work!" pinta Jinu. Gadis yang berada di atasnya kini mulai bergoyang pelan.


"Nice ...," lenguh Jinu.


Setelah menyelesaikan permainan itu, Jennie menjatuhkan pertahanannya pada dada Jinu. Ia memeluk tubuh berpeluh itu dengan erat. Jinu menarik selimut untuk melindungi tubuh mereka dari hawa dingin, setelahnya mereka memutuskan untuk tidur.


...♡♡♡...


Paginya Jennie terbangun dan mendapati Jinu masih memejamkan matanya. Jantung gadis itu berdegup begitu kencang. Ia mengecek kembali bagaimana kondisinya saat ini. Jennie meraba tubuhnya yang masih naked dan tertutup selimut itu. Kemudian ia masuk ke dalam selimut untuk mengintip apakah Jinu juga masih sama. Jennie membulatkan matanya, benar, Jinu juga sama. Bahkan gadis itu dapat melihat benda kebanggaan sang kekasih yang tiba-tiba menegang.


Glek! Jennie meneguk salivanya ketika merasakan cubitan pelan di lengan. Gadis itu keluar dari selimut dan melihat Jinu sudah terbangun menatapnya dengan curiga.


"Kau mengintipku?" tanyanya dengan suara khas--pria seksi--yang baru saja bangun tidur.


Jennie kembali bergetar, suara Jinu mendadak memberikannya serangan h0rny.


Oh, jangan. Ini masih pagi! Batin Jennie.


Gadis itu menggeleng, mengelak dari tuduhan Jinu yang berkata bahwa dirinya sedang mengintip. Padahal, sebenarnya Jennie memang mengintip.


"Hmmm ... Bohong," ucap Jinu yang kali ini menatap Jennie dengan tajam.


"Su-sumpah!" jawab Jennie meski ia tahu bahwa dirinya bukan pembohong yang handal. Sang kekasih menyeringai, ia menarik Jennie untuk keluar dari selimut.


"Ma-mau ke mana?" tanya Jennie yang mencoba menahan agar dirinya tak keluar dari selimut.


"Mandi." Jinu yang kesulitan menggiring Jennie, kini memutuskan untuk mengangkat tubuh sang kekasih.


"Kyaa!!!" Jennie memekik ketika tubuhnya sukses keluar dari selimut hingga memberikan pemandangan pasangan naked yang kini berjalan menuju kamar mandi.


...♥♥♥...


Miyeon menghentikan langkahnya ketika mendapati beberapa wartawan sudah berdiri di depan gerbang gedung perusahaan Bleuuberry. Gadis itu terpaku di tempatnya, seolah sulit untuk melangkah. Beberapa wartawan itu kini menoleh ke arahnya kemudian berjalan cepat--sedikit berlari--menuju ke tempatnya berdiri.


"Manager Shin, kenapa mereka kemari?" tanya Miyeon. Sang manager menggeleng tak tahu.


"Miyeon-ssi, benarkah kau tahu tentang rencana menjatuhkan Jennie Kim?"


"Mengapa kalian melakukan rencana itu?"


"Apa kau punya dendam padanya?"


"Bagaimana tanggapanmu tentang kasus ini?"


Miyeon memegangi kepalanya, suara-suara pertanyaan itu memenuhi otaknya. Ia tak tahu harus menjawab apa? Ia tak siap dengan hal ini.


Gadis itu berbalik kemudian berlari dan kembali masuk ke mobilnya.


"Aku mau pulang!!" racaunya sesaat setelah pintu mobilnya tertutup. Gadis itu menutupi kedua telinganya dan mulai terisak. Sang manager hanya mematuhi Miyeon dan memerintahkan supir untuk membawa mereka kembali ke rumah.


Sesampainya di rumah, Miyeon hanya mengurung diri. Ia masih menangis karna tak tahu harus melakukan apa. Beginikah rasanya tertangkap basah?


Gadis itu tak pernah tahu bagaimana konsekuensinya!


Ia mulai mengambil gunting yang ada di laci nakasnya. Lalu selanjutnya memotong rambutnya yang panjang dengan acak. Setelahnya, Miyeon berjalan meraih mantel berwarna coklat yang ia gantung di sudut ruangan. Ia pergi ke luar, dengan mengenakan topi dan tudung mantel.


"Miyeon-ssi, kau mau ke mana?" tanya manager Shin yang menang tengah menungguinya di depan pintu kamar.


"Aku mau mencari hiburan, eonni. Jangan cegah aku!" gadis itu mengibaskan tangan sang manager dan pergi begitu saja.


"Miyeon-ssi, sebaiknya jangan berbuat gegabah!"


Miyeon menoleh dan menampakkan senyum tipisnya. "Tenang saja, aku tak akan bunuh diri." Gadis itu kemudian melenggang pergi.


...♥♥♥...


Brakkk!!!


Jisoo meletakkan setumpuk naskah tepat di depan meja PD-nim. Baru saja pria separuh baya itu membatalkan kerja samanya dengan Jisoo.


"Tidak bisa begini PD-nim! Aku bahkan sudah menghafal setumpuk naskah ini siang malam. Kau tak boleh membatalkan kontrakku begitu saja!" protes Jisoo dengan berapi-api. Taehyun yang duduk di sampingnya kini memijat pelipisnya. Ini sudah menjadi resiko Jisoo dan perusahaannya.


"Maafkan kami. Tapi citramu yang murni sudah tercemari dengan skandal kencan itu, Jisoo--"


"Skandal katamu!" potong Jisoo. Gadis itu bahkan mengacung-acungkan jarinya di depan wajah lelaki separuh baya tersebut. "Kau pikir kencan itu skandal? Aku tidak membunuh orang atau pun mencuri! Kau pikir citraku akan tercemari karna itu?!"


"Cukup, Jisoo." Taehyun mencoba meredam Jisoo. Ia memegang kedua bahu Jisoo dan membuat gadis itu kembali duduk di tempatnya.


"Tapi, dia---"


"Kita bisa apa sekarang kalau bukan menerima keputusan PD-nim?" potong Taehyun. Jisoo mendadak diam. Gadis itu mengacak rambutnya dengan kasar. Ayolah, Jisoo membutuhkan banyak perjuangan untuk bisa memerankan tokoh ini meski bukan tokoh utama.


"Maafkan kami sekali lagi. Ada beberapa episode yang telah selesai tahap editing, kami akan tetap memasukkan Jisoo selama ia melakukan pengambilan gambar kemarin. Tapi, karakter itu akan perlahan kami hilangkan. Jadi, kami tidak sepenuhnya membatalkan kontrak," jawab PD-nim.


Taehyun mengangguk setuju. Itu artinya Jisoo tetap akan mendapatkan honor meski tidak penuh.


Sesaat setelah PD-nim meninggalkan kantor The South Entertainment, Taehyun mencoba untuk bicara baik-baik pada Jisoo.


"Jisoo-yaa ... Aku harap kau siap dengan apa yang sudah kauputuskan sebelumnya."


Jisoo mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk menyetujui ini. Berkarir sebagai aktris sudah menjadi mimpinya sejak kecil. Ini sedikit membuatnya frustasi. Tapi, secara tiba-tiba ia mengingat perkataan Jennie.


Benar. Gadis itu adalah orang yang memotivasinya. Jisoo akan mulai bangkit dan berpikir positif mulai sekarang. Karna ia yakin bahwa di luar sana ada banyak fans yang masih mau mendukungnya dan juga sang kekasih, Song Mino.


...♥♥♥...


Gadis bermantel coklat itu terduduk di bangku taman sembari terisak. Senja itu langit menampakkan awan hitamnya, membuat suasana semakin menyedihkan. Rintik hujan mulai turun membasahi tubuhnya. Tidak. Ia tak berniat untuk berteduh. Biarkan rinai hujan meredam suara tangisnya dan membuatnya tampak seperti manusia yang hanya sekedar basah bukan menyedihkan.


Ia terkesiap ketika tiba-tiba sebuah payung melindunginya dari titik-titik hujan. Miyeon menghentikan tangisnya sejek, ia menatap sepatu boots pria beserta celana jeans robek-robek di depannya. Sebelah tangan pria itu membawa satu kantung plastik berisi buah-buahan.


"Kenapa nona hujan-hujan, bagaimana jika kau sakit?" tanya pria itu. Miyeon mendongak, membuat tatapan keduanya bertemu saat itu juga.


Deg!


Dadanya merasakan getaran aneh. Pria berbibir tebal itu sedikit membulatkan matanya, karna cukup terkejut telah menemukan gadis yang sama. Gadis yang meninggalkan ponselnya di kedai es krim sang nenek beberapa hari yang lalu.


...♥♥♥...