Lovely Stranger

Lovely Stranger
CHILLIN



...Almost 2k word, do not skip every parts!...


...ALLERT!!!!...


...SEXY JINU X JENNIE ARE COMING!!!!...


...♡♡♡...


Es krim raspberry itu kini sampai di depan Miyeon. Pemuda itu--cucu dari nenek penjual es krim-- menyodorkan mangkuk tersebut, dan menaruhnya di atas meja Miyeon.


"Terima kasih," ucap Miyeon diikuti anggukan dari si pemuda.


Seusai melahap es krim itu, Miyeon memutuskan untuk langsung pulang. Ada jadwal photoshoot kira-kira 45 menit lagi. Karena buru-buru, gadis itu meninggalkan ponselnya di atas bangku yang ia duduki tadi.


"Halmeoni, ponsel gadis itu ketinggalan," ucap pemuda itu pada neneknya. Sang nenek memandang benda tipis itu dengan seksama. Memang cukup banyak pengunjung hari ini, dan ia bersyukur barang berharga itu tak diambil oleh orang yang tak bertanggung jawab.


"Dia pasti belum jauh, cepat kejar dia! Belum tentu dia kemari lagi besok," pinta sang nenek. Pemuda itu mengangguk dan segera bergegas.


Ia berlari untuk mengejar Miyeon. Hampir saja kehilangan jejak, ia melihat Miyeon menaiki sebuah taksi.


"Aduh, bagaimana ini?" Pemuda itu berlari sekencang mungkin. Ia tahu bahwa taksi itu akan berhenti di lampu merah yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri.


Namun naas, karna lampu sedang hijau ketika taksi itu melintas. Pemuda itu akhirnya mencegat taksi lain untuk mengantarkannya mengikuti taksi yang membawa Miyeon.


30 menit perjalanan, Miyeon kini sampai di lokasi photoshoot-nya. Tempat itu masih sepi, kemudian ia memutuskan untuk menghubungi sang manager.


"Astaga ... Di mana ponselku?!" Gadis itu panik karna ponselnya ternyata tak ada di tas. Lalu, bagaimana ia bisa menghubungi manager-nya.


"Ini." Seseorang menyodorkan benda yang ia cari-cari. Miyeon melongo, ia meraih uluran ponsel itu dan mendongak menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu.


"Bukan kah kau, cucu penjual es krim?"


Pemuda tersebut mengangguk. "Kau meninggalkan ponselmu di toko nenekku, untung saja aku yang menemukannya."


"Begitu, ya." Miyeon mengecek ponselnya, kemudian ia segera menghubungi sang manager. Pemuda itu masih berdiri di depan Miyeon sembari mengamatinya.


"Kau tidak pergi?" tanya Miyeon.


Pemuda itu mengerucutkan bibirnya. "Kau tak ingin mengucapkan sesuatu?"


Miyeon memiringkan kepalanya. "Sesuatu?"


"Aku sudah membawakan ponselmu sampai ke sini, tidak kah kau ingin mengucapkan sesuatu?"


"Kau ingin aku mengganti ongkos taksi?" tanya Miyeon diikuti hembusan napas frustasi dari pemuda di depannya.


"Aishh ... Lupakan!" Ia berjalan melewati Miyeon begitu saja.


"Hey! Tunggu." Miyeon meraih lengannya. Pemuda itu menoleh dengan raut kesal.


"Terima kasih," ucap Miyeon kemudian.


"Ya."


"Oh, ya. Siapa namamu?" tanya Miyeon. Pemuda itu melepaskan tangan Miyeon dari lengannya.


"Kang Seungyoon."


Miyeon menjulurkan tangannya. "Aku Cho Miyeon, senang bertemu denganmu."


Perlahan Yoon meraih tangan Miyeon, mereka berjabat tangan.


Manager Miyeon baru saja datang. Ia menghampiri dua orang saat ini masih berjabat tangan.


"Miyeon-ssi, kau sudah ditunggu!"


Yoon melepaskan tangan Miyeon dan membiarkan gadis itu berlalu dari hadapannya.


"Sampai jumpa," ucap Miyeon sembari melambaikan tangan.


Yoon menatap sosok cantik itu yang kini berjalan memasuki gedung.


...♡♡♡...


Konferensi Pers.


The South menggelar sebuah konferensi pers untuk menanggapi rumor yang diedarkan oleh outlet media dispetch.


Nam Taehyun selaku CEO di perusahaan kecil itu meminta maaf atas rumor yang beredar. Di sana juga sudah ada Mino dan Jisoo yang akan menanggapi soal berita kencan mereka.


"Itu benar bahwa Song Mino dan Kim Jisoo berkencan," ucap Taehyun. Ia melirik ke arah Mino dan Jisoo yang nampak tenang, kemudian ia melanjutkan pernyataannya; "Saya sendiri, selaku CEO The South, agensi yang menaungi mereka, memang tidak pernah melarang kencan untuk idol kami. Karna peran saya hanyalah memantau kegiatan keartisan mereka, bukan untuk ikut campur pada privasi."


Wartawan nampak berbincang, mempertanyakan keputusan CEO yang terlalu berani. Tak puas dengan jawaban itu, mereka akhirnya melempar pertanyaan pada Mino.


"Saya berpikir bahwa kencan seharusnya tidak dilarang. Kami pun juga manusia, memiliki pasangan adalah kebutuhan kami. Untuk saat ini kami menyerahkan semua pada keputusan publik. Tapi meskipun ada yang tidak setuju, kami tetap memohon dukungan kalian semua untuk menjalani hidup normal kami. Jadi sudah jelas bahwa mulai sekarang kami akan berpacaran secara publik, tidak sembunyi-sembunyi lagi."


"Bagaimana jika kalian kehilangan fans, apa kalian akan mundur dari dunia keartisan?" tanya salah seorang wartawan. Mino tersenyum, ia memberikan ijin untuk Jisoo menjawabnya.


"Kami yakin bahwa fans pasti akan mengerti. Jika ada yang pergi, maka kami biarkan. Jika mereka tetap tinggal, itu artinya mereka memberikan kepercayaan yang lebih untuk kami. Kami akan berusaha lebih keras, dan membuat fans bangga dengan kerja keras kami," jawab Jisoo melengkapi sesi wawancara itu.


"Satu lagi," --Mino menambahkan; "kurasa masalah kencan ini sudah jelas. Aku ingin menyarankan pada kalian pihak pers untuk mengurus kasus tak jelas yang lain. Kami begitu yakin bahwa skandal kencanku dengan Jisoo hanya digunakan untuk menutupi kasus besar itu. Jadi, kumohon untuk media agar tak lupa untuk meliputnya. Terima kasih," tutup Mino.


...♡♡♡...


"Uhukk." Jennie terbatuk ketika kripik kentang yang belum ia kunyah dengan benar itu menusuk tenggorokannya.


"Ini minum!" pinta Jinu sembari menyodorkan segelas air yang diletakkan di meja.


Mereka sore ini berada di apartment Jennie, dan menonton konferensi pers The South yang disiarkan langsung di televisi.


Glek... Glek... Glek...


Jennie meneguk air itu hingga habis. Ia menghembuskan napas lega, ketika tenggorokannya sudah mendingan.


"Aku tak mengerti dengan apa yang dikatakan Mino-oppa," ucapnya.


Jinu menggeleng heran. "Hanya karna itu kau tersedak?"


Jennie mengangguk.


"Kau tahu kasus apa yang dimaksud olehnya? Itu adalah kasusmu. Aku begitu yakin bahwa ular itu pasti sudah merencanakan sesuatu agar kasusnya tertutupi," jelas Jinu.


"Apakah ular yang kau maksud adalah Hyuna-nim dan CEO Park?" tanya Jennie. Gadis ini memang cukup bodoh, dan kurang bisa memahami situasi.


"Ya, siapa lagi?"


"Tapi kasus ini sudah selesai."


Jinu mencubit pipi Jennie dengan gemas. "Tapi tak adil jika identitas mereka tidak diungkap. Maka dari itu mereka mencari sesuatu yang bisa menutupi kasusnya agar nama mereka tetap aman tersimpan," jawab Jinu.


"Sudah!" pinta Jinu sembari menghentikan pergerakan tangan Jennie. Gadis itu melirik menatap wajah masam Jinu. "Apanya yang sudah?" tanya Jennie.


"Kau akan jadi babi kalau kau makan lebih banyak lagi," jawab Jinu.


Jennie melirik kesal pada sang kekasih.


"Kau tak percaya? Sekarang aku tanya, berapa berat badanmu?" tanya Jinu. Jennie melipat kedua tangannya di depan dada. "45, aku masih ideal," jawabnya.


Jinu menaikkan salah satu alisnya seolah ia ragu. "Kalau begitu ayo buktikan. Mana timbangan-mu?" tanya Jinu sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Aku menyimpannya di almari."


"Nah, ambil sekarang!" pinta Jinu. Jennie beranjak dari sofa dengan kesal. Ia mengambil timbangan di almari dan membawanya ke ruangan tengah, di mana ia menghabiskan waktu di sana dengan Jinu.


"Ini, oppa mau nimbang?" tanya Jennie. Ia meletakkan benda persegi itu di lantai. Jinu pun naik ke sana untuk mengetahui berapa berat badannya sekarang.


"63?" --Jennie tertawa, "ternyata oppa bukan Doggie lagi, tapi babi," ejeknya.


"Aishh ... Berisik. Berat badanku hanya naik 3 kg, tau! Sekarang giliranmu!" pinta Jinu.


Jennie membulatkan matanya. Berikutnya Jinu-lah yang tertawa. "Kau bilang kau empat lima," ejek Jinu balik.


"Aish ... Tetap saja lebih banyak berat badan oppa. Aku hanya naik 5 kg saja." Jennie berdecak.


"Tsk ... Tsk ... Tsk ... Kalau kau selalu ngemil tanpa kau kurangi, bisa-bisa berat badanmu naik 10 kg." Jinu melipat kedua tangannya di depan dada. Sedangkan Jennie kini mem-pout-kan bibirnya.


"Yakk ... Kattie, ah, bukan... Maksudku Piggy!" Jinu mengembungkan kedua pipinya untuk mengejek Jennie.


"Yakk ... Dasar Doggie menyebalkan!" Jennie membalas Jinu dengan memukulnya berulang-ulang.


Pria itu segera menahan tangan Jennie untuk menghentikan tindakannya yang semakin brutal. "Ayo olahraga, agar kurus," ucap Jinu.


Jennie memiringkan kepalanya. "Olahraga apa?"


"Kau pernah dengar kalau berciuman selama satu menit bisa membakar dua sampai enam kalori?"


Jennie meneguk salivanya. Wajahnya mendadak merah. Ia menunduk, pipinya mulai memanas.


"Entahlah, kurasa itu tidak berguna," jawabnya.


"Ayo kita coba!" seru Jinu sembari mengangkat tubuh Jennie dan menggendongnya di depan.


"Kya!" Gadis itu memekik, ia takut terjatuh. Jinu membenarkan kaki Jennie agar melingkar di pinggangnya. Gadis itu pun kini berpegangan dengan cara mengalungkan kedua tangannya di leher Jinu.


"Oppa kuat menggendongku seperti ini?" tanya Jennie.


"Makanya turunkan berat badanmu agar aku bisa menggendongmu lebih lama," pinta Jinu.


Chu ...


Jinu mengecup singkat bibir Jennie, kemudian ia melanjutkan aksinya yang lebih panas. Tak lama bibir mereka kembali tertaut. Ciuman itu berubah makin panas ketika Jinu mulai menggigit bibir Jennie. Tak mau kalah, Jennie pun melakukan hal yang sama. Mereka saling bertukar saliva, kemudian mempertemukan lidah masing-masing.


Pelan-pelan Jinu berjalan dan membawa Jennie masuk ke kamarnya. Hingga akhirnya ia membaringkan tubuh Jennie dan meletakkan gadis itu di bawah kuasanya.


"O-oppa." Jennie mengambil napas sesaat setelah Jinu menyudahi ciumannya. Namun, pria itu kembali melahap bibirnya.


Benar-benar akan kurus jika begini!


Jinu menahan kedua tangan Jennie dan makin menghimpit tubuh gadis itu.


Ciuman itu turun, beralih pada leher Jennie. "Eungh," lenguh Jennie ketika napas Jinu menimpa indera pendengarannya.


Chup ... Chup ... Chup ...


Jinu mengecup telinga Jennie tiga kali, kemudian membuat benda itu jadi basah dengan lidahnya.


"Empphhh ...." Jennie seakan kehilangan akal sehatnya. Ia menggeliat di bawah tubuh Jinu dan merasakan gerah yang luar biasa.


Sedangkan pria itu kini sibuk ******* leher Jennie. Ia menyesapnya berulang-ulang hingga menimbulkan sensasi aneh dalam diri Jennie.


Smoachhhh ...


Bunyi itu menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Sebuah bekas merah keunguan sudah bertengger di leher Jennie.


"Oppa, what are you doin'?"


"Ssttt ...," --Jinu menempelkan jari telunjuknya pada bibir Jennie, "i know it'll make you hurts. But, let me do it!"


Jennie menghela napas pelan, kemudian ia mengangguk memberikan ijin pada kekasihnya.


Tangan Jinu bergerak ke bawah. Ia melepaskan kancing celana Jennie dan menurunkan resletingnya. Kemudian ia menaikkan kedua kaki Jennie, dan menahannya di masing-masing bahunya. Jinu melepaskan celana jeans itu, kemudian juga tak membiarkan dalaman berwarna hitam itu tinggal.


Jinu juga melepaskannya, membuat tubuh bagian bawah Jennie terlihat begitu jelas.


Segara Jennie menutupi miliknya dengan kedua tangan.


"Oppa, aku malu." Wajah Jennie memang menjadi begitu merah saat ini.


"Tidak usah malu." Jinu menyingkirkan tangan Jennie, kemudian memandangi benda berbentuk v itu untuk sesaat.


Jinu memainkannya dengan jari. Pria itu menerobos pertahanan Jennie perlahan dengan jari tengahnya, makin lama makin masuk ke dalam.


"Akhh," --Jennie mengaduh, tangannya mendorong tubuh Jinu, "sakit, oppa," lenguhnya.


Tak tega, Jinu menyudahi itu. Ia menggantinya dengan aksi lain. Jennie yang semula meringis kesakitan kini malah menjadi kenikmatan ketika lidah Jinu mendarat pada tubuh bagian bawahnya.


Jinu menyesapnya, membuat Jennie menggeliat. Ia menjambak pelan rambut Jinu. Kedua kakinya bahkan menjepit kepala Jinu, memberikan kode agar sang pria melakukan itu dengan lebih intens.


Jennie tak tahu betapa nikmatnya apa yang dilakukan Jinu padanya sekarang.


Bibirnya Jinu mulai naik menciumi setiap inchi tubuh Jennie. Ia menaikkan kaos Jennie dan mencium dada Jennie yang masih terbalut bra berwarna hitam. Sesaat Jinu menghentikan aktifitasnya untuk menatap wajah Jennie yang nampak begitu seksi.


"A-ada apa, oppa?" tanya Jennie. Jinu menggeleng, ia menaikkan bra Jennie kemudian mengulum puncak dada yang mulai menegang itu.


"Eungh." Gadis itu kembali melenguh, den menjambak pelan rambut Jinu.


Mari kita taruhan! Kalau hyung sampai melakukan hal yang sama dengan Jumyeon-hyung, maka lambo-mu untukku, ya!


Jinu menghentikan aktifitasnya ketika tiba-tiba teringat dengan perkataan Jaewon. Ia berpikir untuk sesaat. Lagipula, Jinu juga tak pernah menyetujui taruhan bodoh itu.


Tapi, bagaimana jika Jennie sampai hamil?


Jinu kembali berpikir keras.


Aku sudah tidak tahan lagi, apa yang harus kulakukan?


......♡♡♡......