Lovely Stranger

Lovely Stranger
Hari Baru



Miyeon terpaku menatap bayangan wajahnya di cermin, hatinya masih mengganjal karna ia rasa tak cukup hanya dengan mendapatkan maaf dari Jennie. Ia sudah memutuskan suatu hal yang besar hari ini. Hatinya pun sudah teguh dan yakin. Beberapa mobil wartawan mulai terparkir di halaman rumahnya. Mengapa ia tak mengundang para wartawan ke gedung agensi saja? Tidak, ini adalah keputusannya sendiri. Tak ada yang setuju dengan apa yang sudah ia putuskan. Oleh sebab itu, Miyeon sengaja menggiring para wartawan ke rumahnya. Keputusan sepihak itu mungkin tergolong terlalu berani, tapi Miyeon tak peduli. Inilah cara bagaimana ia menebus dosa yang diperbuatnya.


"Miyeon-ssi, apa kau yakin dengan hal ini?" tanya sang manajer. Wanita gembul itu nampak sedih, ia tak tahu harus bekerja di mana lagi. Ia harus memulai mencari pekerjaan pada artis lain atau bahkan di agensi lain.


"Ya, aku sudah sangat yakin," jawab Miyeon. Gadis itu keluar dari kamarnya dan turun untuk menemui para wartawan. Sesaat setelah ia membuka pintu, sorot kamera wartawan menyambutnya disertai dengan kilatan-kilatan dan suara khas lensa yang memotret. Ingin rasanya Miyeon mundur, nyalinya seakan ciut. Kakinya mulai gemetaran dan keringat dingin turut meluncur membasahi pelipisnya. Gadis itu mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. Jantungnya berdebar-debar tak karuan. Inilah saatnya mengungkapkan keputusannya. Sesaat manusia-manusia jurnalis itu riuh, menyodorkan pertanyaan-pertanyaan sarkas hingga tak memberikan Miyeon kesempatan untuk berbicara.


"CUKUP!" pekik sang manajer, semuanya terdiam. "Biarkan Cho Miyeon yang berbicara kali ini!" lanjutnya. Keadaan menjadi sangat tenang, begitupun jantung Miyeon yg makin berdebar-deber.


"Aku..." Miyeon menarik napas lalu kembali menghembuskannya pelan. "Aku memutuskan untuk mundur dari dunia entertain!"


Senyap. Tak ada yang menduga jika Miyeon akan mengatakan hal itu. Gadis itu berbalik dan kembali masuk meninggalkan wartawan yang kemudian kembali riuh.


Klek! Pintunya segera ditutup. Tak peduli dengan pengumuman singkat dan gila itu, Miyeon kini merasa lega.


...***...


"Aku tak percaya dengan keputusan Cho Miyeon, tapi kurasa ini memang yang terbaik." Jennie tersenyum. Seseorang yang duduk di sampingnya menggenggam tangannya dengan erat. Beberapa orang yang berjajar di deretan kursi itu juga lega. Mereka berada di sebuah gedung teater Seoul, untuk menyaksikan pertunjukan menyanyi pertama Cho Miyeon. Gadis itu tampil bersama Kang Seungyoon, pria yang sepertinya membuatnya sadar akan kesalahannya selama ini.


"Kau masih mau melihat si ular itu tampil, padahal dia sudah menghancurkan karirmu..akh!!" Jinu mengaduh saat Jennie mencubitnya pelan.


"Ada yang menceramahiku, aku tak perlu menyimpan dendam. Karna dunia pasti akan bekerja dengan baik. Ia tahu apa yang pantas terjadi dan kita tak perlu melakukan kejahatan yang sama," jawab Jennie. Jinu berpikir sejenak, ia heran mengapa Jennie kadi begitu bijak. Namun, seketika ia teringat sesuatu. Pantas saja ia seperti tak asing dengan perkataan Jennie. Kakak iparnya—Joohyun—pernah mengatakan itu padanya. Ketika ia kesal pada rivalnya di pameran seni lukis tahun lalu.


"Oh... Pantas saja," gumam Jinu sembari melirik malas pada Jennie.


Oh ya! Ngomong-ngomong soal kakak iparnya, Jinu ingat bahwa kakaknya sore tadi mengalami kontraksi dan telah dibawa ke rumah sakit oleh Jumyeon.


"Ya ampun!" Jinu menepuk jidatnya. Ia lupa belum mengabari orang tuanya. Mereka saat ini berada di Perancis. "Aku belum menelpon ayah dan ibu kalau kakak ipar Joohyun akan melahirkan."


"APA?" pekik Jennie hingga membuat perhatian seluruh orang tertuju ke arahnya. Gadis itu merasa tidak enak karna membuat keributan. Ia segera menyeret Jinu untuk keluar dari gedung teater.


Setelah sampai di luar, Jennie kini melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap kesal pada Jinu. "Kau juga tak mengatakannya padaku, bisa-bisanya kau duduk tenang di teater padahal kakak iparmu sedang berjuang untuk melahirkan," omel Jennie.


"Aku lupa, apa itu salah?" sungut Jinu.


"Dasar pikun! Kalau saja kepalamu tidak menempel di leher, pasti kau juga akan lupa membawanya 'kan?"


"SSSSTTTTTT!!!" Jinu menempelkan jari telunjuknya di bibir. "Aku sedang telpon!"


Jennie pun diam, tapi ia masih bersidekap dan menampakkan raut wajah yang seolah akan siap mengomel lagi setelah Jinu selesai menelpon.


"Ma-maaf baru mengabarimu sekarang, yah.... Ahh iya, aku juga sedang di perjalanan."


Jennie membulatkan mata, "kau bohong?" bisiknya pelan.


"Benar, yah. Jumyeon memang sering menyampaikan informasi secara mendadak. Iya, padahal sudah sejak sore, tapi dia baru saja mengabari malam ini. Iya....baru saja." Jinu bergumam di telepon, sedangkan Jennie kini mulai menggeleng-gelengkan kepalanya. Kasihan juga Jumyeon, ia malah dijadikan alasan karna kelalaian Jinu. Setelah pembicaraan dirasa cukup, Jinu segera mematikan teleponnya. Ia kini menatap raut penuh protes dari sang kekasih.


"Hehehe... Sebaiknya kita cepat pergi ke rumah sakit," ucapnya yang kemudian menggandeng tangan Jennie untuk berjalan menuju tempat parkir.


...***...


Mereka pergi ke rumah sakit. Langkah dua sejoli itu begitu terburu-buru, mereka menuju ke kamar Joohyun. Istri Kim Jumyeon itu sudah melewati persalinan dengan lancar.


"Aku juga. Tapi aku tidak yakin apa keponakanmu akan bangga memiliki paman yang pelupa seperti dirimu," goda Jennie.


"Biarkan saja. Setidaknya dia akan bangga karna memiliki bibi yang cantik sepertimu."


Deg! Jantung Jennie berdebar kencang, wajahnya seketika memerah. Ia pikir ia hanya akan mendapat balasan berupa ejekan, tapi ternyata justru pujian yang Jinu lontarkan.


Kenapa kau jadi sangat sering membuatku bahagia? Batin Jennie.


Keduanya masuk, dan......


"HAH?" Jennie menganga, begitu pun Jinu. Waktu seakan berhenti detik itu juga.


Di depannya sudah ada seluruh keluarga lengkap, ayah, ibu, bahkan Jaewon yang Jinu pikir tak tahu apa-apa.


"A-ayah, ibu, ka-kapan kalian datang?" tanya Jinu. Seunghyun melirik sinis, ia masih sibuk menimang cucunya yang tampan. Sedangkan Sandara nampak cuek dan tak menghiraukan Jinu.


"Kemarin!" sungut Jumyeon.


"APA? KEMARIN??"


"SSSSSTTTTTTTT!!!!" Semua orang di dalam ruangan itu mengisyaratkan Jinu agar memelankan suaranya. Pria itu terkekeh dan menggaruk kepalanya. Ia menghampiri Jumyeon dengan kesal.


"Kau mengerjaiku?"


"Aku hanya memintamu mengabari ayah dan ibu."


"Mengabari? Tega sekali kau. Kau bahkan sudah tahu kalau ayah dan ibu—"


"Jumyeon sudah mengabari kami kemarin," potong Sandara.


"Apa? Kau sudah mengabari ayah dan ibu sejak kemarin?" Jinu makin tak terima.


"Aish... Aku tak bilang kalau aku belum mengabari ayah dan ibu. Aku kan hanya menyuruhmu mengabari mereka kalau tak perlu datang ke rumah karna aku dan Joohyun sudah ke rumah sakit," jelas Jumyeon. Jinu hanya dapat terbengong. Sedangkan Jennie mulai menggelengkan kepalanya karna heran.


Bagaimana bisa aku menyukai pria bodoh seperti Kim Jinu. Batinnya.


"Wah... Senang sekali, ya. Kita mendapat tontonan gratis," bisik Jaewon pada Jennie yang berdiri di sampingnya. Gadis itu tertawa kecil menanggapi calon adik iparnya itu.


"Keluarga kalian begitu hangat, aku bahkan jadi merasa iri," jawab Jennie.


"Mengapa iri? Sebentar lagi 'kan kau juga akan jadi bagian dari keluarga kami."


Deg! Wajah Jennie memerah. Ia merasa begitu bahagia saat ini. Ia merasa hidupnya semakin berwarna ketika mengenal Jinu. Kekasihnya itu masih terlibat adu mulut kecil dengan kakaknya, Jumyeon.


"Oh, ya. Setelah ini giliran kalian," goda Jaewon.


"HAH?"


...***...